Terungkap, Lansia Tewas di Bekasi Ternyata Aktivis Buruh Ermanto Usman

- Polda Metro Jaya membentuk tim gabungan bersama Polres Metro Bekasi Kota untuk menyelidiki dugaan pembunuhan terhadap aktivis buruh Ermanto Usman yang ditemukan tewas di rumahnya.
- Istri korban ditemukan dalam kondisi kritis dan menjalani operasi, sementara polisi fokus mengumpulkan bukti serta mengungkap pelaku dan motif di balik peristiwa tersebut.
- Keluarga menyebut Ermanto telah lama menjadi aktivis buruh dan kerap menerima ancaman terkait aktivitasnya di lingkungan PT JICT sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia.
Jakarta, IDN Times - Polda Metro Jaya mengungkap kasus pembunuhan lansia di Kota Bekasi. Korban yang bernama Ermanto Usman ternyata seorang aktivis buruh di Jakarta Utara. Polisi mengerahkan tim gabungan mengusut dugaan pembunuhan aktivis buruh di lingkungan PT Jakarta Internasional Container Terminal (JICT) itu.
Ermanto ditemukan meninggal dunia di rumahnya, Perumahan Prima Lingkar Asri, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Senin, 2 Maret 2026 dini hari. Istri korban berinisial P, 60 tahun, juga ditemukan mengalami kondisi kritis, dan harus menjalani operasi di Rumah Sakit Primaya Bekasi. Polisi mengungkap sejumlah perhiasan dan dua kunci mobil milik korban raib.
“Saat ini, Polres Metro Bekasi Kota bersama Subdit Jatanras dan Subdit Resmob Polda Metro Jaya tengah melaksanakan penyelidikan terkait kasus tersebut,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto saat dihubungi, Kamis (5/3/2026).
1. Motif pembunuhan segera diungkap

Budi menjelaskan, saat ini fokus utama penyelidikan adalah mengumpulkan fakta, mengungkap pelaku, dan melakukan penangkapan. Motif pembunuhan pun segera diungkap.
“Kami menyampaikan duka cita kepada keluarga korban, semoga pelaku segera dapat ditangkap terkait motif, hingga saat ini masih dalam pendalaman,” ujar dia.
2. Kronologi korban ditemukan

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Andi Muhammad Iqbal menjelaskan, peristiwa itu berawal saat anak korban yang berada di lantai atas curiga, lantaran ibunya tidak membangunkan dia saat sahur. Anaknya itu terbangun setelah bunyi alarm sekitar pukul 04.15 WIB.
"Tapi karena jam 3 belum ada yang membangunkan, akhirnya alarm korban bunyi tuh, sekitar jam 04.15 WIB. Ketika korban terbangun, korban kaget, 'kok saya belum dibangunkan, ini udah mau imsak'," kata Andi, Senin (2/3/2026).
Setelah itu, anak korban langsung mencoba menghampiri ke kamar orang tuanya yang terkunci. Namun, ia mendengar suara merintih dari dalam kamar.
"Korban panik kemudian meminta tolong keluar (ke) warga, tapi gak ada siapa-siapa di sini. Sehingga korban menghubungi keluarganya. Kemudian keluarga korban datang dan dilakukan kaca (kamar) dibuka paksa," ujar Andi.
3. Ermanto sering mendapatkan teror

Kakak Ermanto, Dalsaf Usman mengungkapkan, korban menjadi aktivis di sekitar pelabuhan sudah lebih dari 25 tahun. Korban juga sempat bercerita kepada Dalsaf sering mendapatkan ancaman saat menangani suatu kasus.
"Dia sudah 25 tahun jadi aktivis, ya berbicara ini, dia mendapat intimidasi itu ya, bukan hal yang aneh, itu sudah biasa gitu ya," katanya di lokasi peristiwa, Rabu (4/3/2026).
Meski begitu, korban belum pernah lagi bercerita terkait pekerjaannya dalam beberapa bulan terakhir.
"Nah, (baru-baru ini) dia gak komunikasi dengan saya, tetapi di dalam kegiatannya itu dia pernah bicara (mendapatkan pengancaman)," jelas dia.
Dia juga menyampaikan, sebelum pensiun Ermanto menjabat sebagai Manager HRD di JICT. Di perusahaan tersebut, korban juga menjabat sebagai ketua serikat pekerja. Saat menjadi ketua serikat, korban sempat dipecat dua kali lantaran mengkritik kebijakan perusahaan JICT.
“Kemudian juga dia idealis, termasuk masalah kepentingan bangsa. Luar biasa, dua kali dipecat di Pelindo. Nah, pada saat dipecat itu akhirnya dibatalkan (pemecatannya) lagi oleh Menteri Perhubungan," jelas dia.
Meski begitu, Dalsaf menyerahkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian untuk mengungkap pelaku pembunuhan adiknya dan motifnya.

















