“Kami memantau situasi dengan cermat. Staf kedutaan menjalin kontak erat dengan pihak berwenang Israel,” tambah pernyataan Kedubes Rusia di Tel Aviv. Mereka menambahkan ada warga Rusia yang terluka imbas serangan Iran ke Israel. Namun, hingga saat ini, identitasnya belum diketahui.
Situasi Memanas, Rusia Larang Warganya Pergi ke Israel

- Pemerintah Rusia resmi melarang warganya bepergian ke Israel dan meminta mereka yang masih di sana untuk tetap waspada akibat meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran.
- Israel dan Iran kembali terlibat aksi saling serang, dimulai dari rudal Iran ke wilayah utara Israel sebagai balasan atas serangan Israel ke Beirut, Lebanon.
- Iran menyatakan bersedia menghentikan serangan terhadap Israel, namun menegaskan akan membalas jika agresi Israel terhadap Lebanon terus berlanjut.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Rusia melarang semua warganya untuk bepergian ke Israel. Kedutaan Besar (Kedubes) Rusia di Tel Aviv juga memperingatkan seluruh warga Rusia yang ada di Israel untuk tetap waspada. Sebab, situasi di negara Yahudi itu sedang memanas karena terlibat aksi saling serang dengan Iran.
“Warga negara Rusia di Israel diimbau untuk tetap tenang dan waspada, mematuhi instruksi otoritas Israel terkait langkah-langkah keamanan, tetap berada di dekat area aman, dan, jika perlu, tidak meninggalkannya sampai diberi tahu oleh otoritas setempat,” demikian bunyi pernyataan resmi Kedubes Rusia di Israel pada Senin (8/6/2026), seperti dilansir Anadolu Agency.
1. Rusia tetap memantau dan mengawasi warganya di Israel

Rusia berkomitmen untuk terus memantau dan mengawasi semua warganya yang masih berada di Israel. Rusia juga menegaskan akan terus menjalin komunikasi intens dengan Kedubes di Tel Aviv dan otoritas Israel untuk mengetahui serangan lanjutan dari Iran.
2. Israel dan Iran kembali saling serang

Situasi di Israel kini sedang memanas. Sebab, Israel kembali terlibat baku serang dengan Iran. Aksi ini mengancam proses gencatan senjata antara Iran, AS, dan Israel yang kini masih berlangsung. Padahal, Iran dan AS sedang melanjutkan negosiasi agar gencatan senjata bisa berubah menjadi kesepakatan damai jangka panjang.
Serangan perdana dimulai Iran pada Minggu (7/6/2026) malam waktu setempat. Kala itu, Iran menghujani Israel utara dengan rudal. Iran menjelaskan, serangan itu merupakan balasan terhadap Israel. Sebab, beberapa jam sebelumnya, Israel telah lebih dulu menyerang Kota Beirut, Lebanon. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan, serangan itu merupakan balasan terhadap Hizbullah karena mereka telah menyerang pasukan Israel.
3. Iran bersedia menyudahi serangan ke Israel

Menanggapi serangan Iran, Israel tentu tidak tinggal diam. Israel melakukan serangan balasan ke wilayah Iran bagian barat dan tengah pada Senin pagi waktu setempat. Menurut keterangan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Israel melakukan serangan menggunakan rudal balistik.
Pada Senin malam, Iran akhirnya bersedia menyudahi serangan terhadap Israel. Namun, negara mayoritas Islam Syiah itu menegaskan akan kembali meluncurkan serangan jika Israel melanjutkan agresinya terhadap Lebanon. Sebab, Iran tidak mau melihat Lebanon terus diserang Israel.

















