Stafnya Tewas di Tahanan Houthi, PBB Tuntut Penyelidikan Independen

- PBB mengecam kematian Mohammad al-Shami, staf OHCHR yang ditahan Houthi sejak Juni 2024, sementara keluarganya baru diberi tahu lebih dari sebulan setelah ia meninggal.
- Komisioner HAM PBB Volker Türk menuntut penyelidikan independen, transparan, dan mendesak, termasuk akses rekam medis, dokumen tahanan, bukti fisik, serta proses hukum bagi pihak bertanggung jawab.
- Sedikitnya 71 pegawai PBB masih ditahan Houthi; PBB membantah tuduhan mata-mata dan mendesak pembebasan tanpa syarat demi kelancaran bantuan kemanusiaan di Yaman.
Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam keras kematian staf lokalnya di Yaman, Mohammad al-Shami, saat berada dalam tahanan kelompok Houthi, dan menuntut digelarnya penyelidikan independen. Pegawai Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) tersebut telah ditahan secara sewenang-wenang sejak Juni 2024.
Kematian al-Shami memicu keprihatinan internasional terkait keselamatan para pekerja kemanusiaan di wilayah kekuasaan Houthi. Komisioner Tinggi PBB untuk HAM, Volker Türk, menyampaikan duka cita mendalam sekaligus mendesak otoritas setempat mengungkap fakta kematian korban secara transparan.
1. Kematian staf PBB yang dirahasiakan selama sebulan
Mohammad al-Shami ditahan sejak 6 Juni 2024 saat menjalankan tugas pemantauan hak asasi manusia di Yaman. Menurut keterangan pihak keluarga kepada PBB, al-Shami sebenarnya telah meninggal dunia lebih dari satu bulan sebelum kerabatnya diberi tahu.
Pihak keluarga baru menerima kabar duka tersebut menjelang pengumuman resmi PBB pada akhir Oktober 2026, tanpa adanya kejelasan mengenai penyebab maupun kronologi kematian di dalam ruang tahanan.
"Keluarga al-Shami berhak mengetahui kebenaran di balik peristiwa ini," tegas Volker Türk, dilansir Al Jazeera.
2. Tuntutan PBB untuk menggelar penyelidikan independen
PBB menuntut penyelidikan yang mendesak, transparan, dan independen untuk mengungkap penyebab pasti kematian al-Shami. Investigasi tersebut harus mencakup penyerahan rekam medis korban, dokumen penahanan, pengamanan bukti fisik, hingga proses hukum yang adil bagi pihak yang bertanggung jawab.
Volker Türk menegaskan bahwa aksi penahanan terhadap personel PBB telah menghambat penyaluran bantuan darurat bagi jutaan warga Yaman yang terdampak krisis. Oleh karena itu, ia mendesak pihak Houthi segera menghentikan kebijakan penahanan tersebut.
Badan dunia ini juga menuntut jaminan perlakuan yang manusiawi, pemenuhan fasilitas kesehatan yang layak, serta akses komunikasi dengan keluarga bagi seluruh staf kemanusiaan yang masih ditahan.
3. Penahanan puluhan pekerja kemanusiaan di Yaman
Kasus al-Shami mempertegas tingginya risiko keselamatan bagi pekerja kemanusiaan internasional di wilayah yang dikuasai Houthi. Juru Bicara PBB Farhan Haq mencatat sedikitnya 71 pegawai PBB masih ditahan di berbagai lokasi.
Sebanyak tujuh orang di antaranya merupakan rekan kerja al-Shami di Kantor HAM PBB. Kelompok Houthi menuduh para pekerja PBB dan organisasi internasional lainnya terlibat dalam jaringan mata-mata asing, tuduhan tanpa bukti yang dibantah tegas oleh PBB.
PBB berulang kali mendesak pembebasan tanpa syarat bagi seluruh staf dan sukarelawan lembaga kemanusiaan demi mencegah krisis kemanusiaan di Yaman semakin memburuk.






















