Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sulit Cari Kerja, Anak-anak Muda Pakistan Jadi Gamer demi Dapat Uang

Sulit Cari Kerja, Anak-anak Muda Pakistan Jadi Gamer demi Dapat Uang
ilustrasi gamer (pexels.com/Yan Krukau)
Intinya Sih
  • Banyak anak muda Pakistan beralih menjadi gamer profesional karena sulitnya mencari pekerjaan dan rendahnya gaji, dengan hadiah turnamen esport yang jauh lebih besar dari pendapatan kerja kantoran.
  • Krisis lapangan kerja di Pakistan makin parah akibat pertumbuhan kesempatan kerja yang tidak sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk, sehingga jumlah pengangguran terus meningkat setiap tahun.
  • Fenomena brain drain memperburuk situasi ekonomi karena banyak talenta muda berbakat memilih bekerja di luar negeri demi peluang karier dan penghasilan yang lebih baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Anak-anak muda di Pakistan memilih jalan tidak biasa demi mendapatkan uang. Menurut laporan khusus yang dirilis CNA pada Senin (30/3/2026), generasi muda di negara tersebut banyak yang memutuskan menjadi pemain gim (gamer) daring agar bisa mendapatkan pundi-pundi uang.

Itu semua mereka lakukan karena Pakistan saat ini sedang kekurangan lapangan kerja. Ini membuat kans anak-anak muda, terutama yang baru lulus dari bangku kuliah, sangat sulit mendapat pekerjaan. Kalau pun dapat, gaji yang diberikan oleh perusahaan juga tidak begitu besar. Bahkan, saking kecilnya, gaji tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Kendati demikian, menjadi gamer pun tidak serta merta akan membuat anak-anak muda Pakistan bisa mendapatkan uang secara tiba-tiba. Sebab, mereka harus mengikuti sejumlah kompetisi esport terlebih dahulu. Jika menang, mereka akan mendapatkan hadiah uang tunai dalam jumlah yang besar.

1. Hadiah uang tunai hasil ikut turnamen esport cukup untuk biaya hidup per bulan

Uang tunai Pakistan.
potret uang tunai Pakistan (unsplash.com/Aqeel Ahmed Zia)

Hamzah Khalid adalah salah satu dari banyak anak muda di Pakistan yang menjadi gamer untuk mendapatkan uang. Hamzah bercerita, ia sebetulnya sudah bekerja di sebuah perusahaan IT sebagai seorang engineer. Namun, ia mengaku, gaji yang diberikan perusahaan tempat ia bekerja tidak begitu besar.

Untuk mengakali kondisi tersebut, Khalid menyambi pekerjaannya dengan menjadi seorang gamer. Khalid pun mengaku sering mengikuti turnamen esport secara rutin dan sering menang. Khalid mengatakan, hadiah uang tunai yang ia dapatkan dari turnamen esport bahkan lebih besar daripada gajinya sebagai karyawan swasta. Bahkan, hadiah tersebut juga cukup untuk biaya hidup selama satu bulan penuh.

“Belajar selama empat hingga lima tahun di universitas dan mendapatkan gelar, itu hanya akan memberi Anda gaji pokok maksimal 40 ribu hingga 50 ribu rupee Pakistan (Rp2,4 juta hingga Rp3 juta),” kata Khalid seraya menambahkan bahwa hadiah dari turnamen esport bisa mencapai 500 ribu rupee Pakistan atau setara Rp30,4 juta.

2. Pertumbuhan lapangan kerja tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk

Orang-orang sedang bekerja.
ilustrasi lapangan kerja (unsplash.com/Arno Senoner)

Saat ini, krisis lapangan kerja di Pakistan kian mengkhawatirkan. Sebab, pertumbuhan lapangan kerja di negara tersebut tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduknya. Kondisi ini membuat jumlah pengangguran di sana kian meningkat tiap tahunnya.

Menurut data terbaru yang dirilis Biro Pusat Statistik Pakistan, jumlah pengangguran nasional telah bertambah sebanyak 1,4 juta orang dalam lima tahun terakhir. Pertambahan ini membuat jumlah pengangguran di Pakistan kini mencapai hampir 6 juta orang.

Pemerintah Pakistan sebetulnya sudah melakukan segala daya dan upaya untuk menurunkan jumlah pengangguran. Namun, langkah-langkah tersebut hingga kini disebut belum membuahkan hasil yang signifikan. 

3. Kondisi diperburuk karena fenomena brain drain

Orang-orang sedang bekerja.
ilustrasi tenaga profesional (unsplash.com/Alex Kotliarskyi)

Sulitnya akses ke lapangan pekerjaan ini membuat banyak talenta berbakat di Pakistan akhirnya memilih berkarier di negeri orang. Sebab, menurut mereka, berkarier di luar negeri lebih menguntungkan daripada berkarier di negeri sendiri.

Menurut pengamat, fenomena ini disebut dengan brain drain. Menurut mereka, fenomena tersebut sangat berbahaya bagi Pakistan. Sebab, hilangnya talenta berbakat karena memilih kerja di luar negeri akan membuat perekonomian negara sulit berkembang.  

“Itulah yang dikhawatirkan para ekonom akhir-akhir ini. Faktanya, Pakistan telah menderita akibat brain drain. Kita kehilangan banyak profesional ke negara lain seperti Amerika Utara, dan juga di Eropa. Ini bisa menjadi masalah yang sangat besar,” kata Syed Ali Ehsan dari lembaga think-tank Policy Research Institute of Market Economy yang berbasis di Islamabad.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More