Uni Eropa Siapkan Denda untuk Google Terkait Dugaan Monopoli

- Uni Eropa menyiapkan denda besar bagi Alphabet, induk Google, atas dugaan pelanggaran aturan Pasar Digital yang bertujuan menciptakan persaingan lebih adil di sektor teknologi.
- Komisi Eropa menyelidiki dugaan manipulasi hasil pencarian Google dan menegaskan fokusnya pada kepatuhan perusahaan terhadap regulasi baru tanpa ragu melanjutkan ke tahap sanksi bila perlu.
- Penyelidikan turut mencakup penggunaan konten penerbit berita untuk AI serta praktik iklan digital, dengan potensi denda besar dan kewajiban perubahan sistem operasional Google di Eropa.
Jakarta, IDN Times – Uni Eropa (UE) tengah menyiapkan salah satu hukuman terbesar di bawah aturan Undang-Undang Pasar Digital (DMA). Alphabet selaku induk perusahaan Google diperkirakan menghadapi sanksi finansial senilai ratusan juta euro.
Menurut laporan harian Jerman Handelsblatt yang dikutip Times of India, rancangan keputusan hukuman itu sudah memasuki tahap akhir dan diperkirakan diumumkan sebelum musim libur panas dimulai. DMA sendiri menjadi instrumen utama UE untuk membatasi dominasi perusahaan raksasa teknologi dengan mewajibkan terciptanya persaingan yang lebih adil serta keterbukaan bagi pengguna.
1. Komisi Eropa menyelidiki mesin pencarian Google

Komisi Eropa mulai membuka penyelidikan terhadap Google pada Maret 2025 dengan fokus utama pada dugaan manipulasi mesin pencari. Google diduga memberi perlakuan khusus terhadap layanan miliknya sendiri di hasil pencarian sehingga dianggap menciptakan keuntungan yang tak adil.
Regulator persaingan usaha UE juga memeriksa kepatuhan Google terhadap keseluruhan aturan DMA. Pemeriksaan itu dilakukan untuk memastikan perusahaan teknologi mengikuti sistem persaingan baru yang diterapkan di sektor ekonomi digital.
2. Komisi Eropa menanggapi keberatan Google

Juru Bicara Komisi Eropa, Thomas Regnier, menyampaikan bahwa tujuan utama regulator bukan sekadar menjatuhkan hukuman, melainkan memastikan perusahaan teknologi benar-benar mematuhi aturan yang berlaku.
“Bahkan dengan negosiasi kami mengenai solusi di masa depan, kami tidak akan ragu untuk melanjutkan ke langkah berikutnya sesegera mungkin,” kata Regnier, dikutip Straits Times.
Sementara itu, Google menyatakan perubahan sistem yang diwajibkan DMA justru memengaruhi kualitas layanan Search mereka. Perusahaan menilai penyesuaian operasional tersebut membuat pengalaman pengguna di Eropa mengalami penurunan.
“Mewakili penurunan terbesar dalam sejarah produk tersebut, menciptakan pengalaman kelas dua bagi orang Eropa demi keuntungan beberapa pengadu yang hanya mementingkan diri sendiri,” ujar juru bicara Google.
3. UE memperluas penyelidikan terhadap Google

Berdasarkan laporan dari kedua media tersebut, penyelidikan terhadap Google kini turut merambah sejumlah sektor lain yang dianggap sensitif. Perusahaan itu juga dicurigai memakai konten milik penerbit berita untuk melatih model kecerdasan buatan (AI) tanpa pembagian kompensasi yang dinilai adil.
Selain isu AI, investigasi tersebut turut menyoroti praktik teknologi periklanan milik Google yang disebut merugikan platform pesaing. Jika nantinya dinyatakan melanggar DMA, Google berpotensi menghadapi denda finansial besar sekaligus diwajibkan mengubah sistem operasional layanan inti mereka di kawasan Eropa.

















