Zelenskyy Sebut AS Hambat Upaya Perdamaian Ukraina-Rusia

- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuding Amerika Serikat menghambat upaya perdamaian karena menolak lokasi pertemuan trilateral tahap ke-4 di luar wilayahnya.
- Ukraina menyatakan siap menggelar pertemuan di mana pun, termasuk AS, Turki, Swiss, atau Uni Emirat Arab, namun keputusan akhir tetap bergantung pada AS sebagai mediator.
- Perang Rusia-Ukraina telah berlangsung empat tahun tanpa tanda berakhir, meski beberapa pertemuan trilateral sebelumnya gagal mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Jakarta, IDN Times - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenksyy, menyebut Amerika Serikat (AS) menghambat upaya perdamaian dengan Rusia. Hal ini terjadi karena AS tidak menyetujui tempat pertemuan trilateral tahap ke-4 dengan Ukraina dan Rusia untuk membahas upaya perdamaian kedua negara.
AS ingin pertemuan dilakukan di wilayahnya. Sebab, saat ini, AS tidak mau menggelar pertemuan di luar negeri karena situasi konflik di Timur Tengah yang sedang memanas akibat perang dengan Iran. Di sisi lain, Rusia tidak mau pertemuan digelar di AS. Mereka ingin pertemuan digelar di Turki atau Swiss. Namun, AS menolak mentah-mentah usulan tersebut.
“Pihak Amerika (Serikat) mengatakan mereka siap bertemu, tetapi hanya di Amerika karena perang dan situasi keamanan menghalangi mereka untuk meninggalkan AS," kata Zelenskyy pada Jumat (13/3/2026), seperti dilansir The Strait Times.
1. Ukraina siap menggelar pertemuan di mana pun

Sebetulnya, Ukraina sudah siap menggelar pertemuan untuk membahas upaya perdamaian dengan Rusia. Zelenskyy menegaskan, pihaknya tidak keberatan jika pertemuan digelar di AS, di Turki, di Swiss, atau bahkan di Uni Emirat Arab.
“Kami langsung mengatakan bahwa kami siap untuk pertemuan minggu depan. Kami sedang mempersiapkan pertemuan di AS, di Swiss, di Turki, dan bahkan, jika mereka tidak keberatan, di Uni Emirat Arab,” lanjut Zelenskyy.
Namun, keputusan final tetap berada di tangan AS. Sebab, kata Zelenskyy, pertemuan antara Rusia dan Ukraina tidak bisa digelar tanpa melibatkan AS yang berperan sebagai mediator.
2. Perang antara Rusia dan Ukraina sudah berjalan empat tahun

Pada 24 Februari 2026 lalu, perang antara Rusia dan Ukraina sudah genap berjalan empat tahun. Namun, perang di antara kedua negara masih belum menunjukkan tanda-tanda akan usai. Sebab, hingga saat ini, Rusia masih terus melakukan agresi militer terhadap Ukraina.
Pada Rabu (11/3/2026) lalu, misalnya, Rusia menyerang Negara Bagian Kharkiv menggunakan bantuan drone. Menurut Gubernur Kharkiv, Oleh Syniehubov, Rusia saat itu menyerang beberapa bangunan perusahaan swasta yang ada di wilayahnya.
Dalam pernyataannya, Syniehubov menambahkan, serangan tersebut menewaskan dua orang. Sementara itu, tujuh orang lainnya yang terdiri dari 3 perempuan dan 4 laki-laki mengalami luka-luka. Mereka sudah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
3. Ukraina sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan Rusia

Untuk mengakhiri perang, Ukraina sebetulnya sudah beberapa kali menggelar pertemuan trilateral dengan Rusia dan AS sebagai mediator. Namun, semua pertemuan tersebut berakhir nihil tanpa kesepakatan berarti.
Pertemuan pertama dan kedua dihelat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Januari dan awal Februari lalu. Namun, kedua pertemuan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.
Pertemuan ketiga digelar di Jenewa, Swiss, pada 17 dan 18 Februari lalu. Sayangnya, pertemuan tersebut lagi-lagi gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Ini membuat konflik antara kedua negara jadi makin alot.















