Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rusia Serang Sejumlah Wilayah di Ukraina, 8 Orang Tewas

Rusia Serang Sejumlah Wilayah di Ukraina, 8 Orang Tewas
potret apartemen di Ukraina yang hancur karena diserang Rusia (pexels.com/Алесь Усцінаў)
Intinya Sih
  • Rusia melancarkan serangan besar ke beberapa wilayah Ukraina, termasuk Kharkiv, Dnipropetrovsk, Zaporizhzhia, dan Odessa, menewaskan delapan orang serta menyebabkan banyak korban luka.
  • Presiden Volodymyr Zelenskyy meminta bantuan dari negara-negara sekutu karena Ukraina kekurangan senjata untuk menghadapi serangan rudal dan drone Rusia yang semakin intens.
  • Perang Rusia-Ukraina telah berlangsung empat tahun tanpa tanda-tanda berakhir, meski upaya diplomasi di Jenewa belum menghasilkan kesepakatan gencatan senjata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Rusia kembali melakukan serangan ke beberapa wilayah di Ukraina menggunakan rudal balistik dan drone pada Sabtu (7/3/2026). Salah satu serangan terjadi di wilayah Kharkiv. Menurut keterangan otoritas setempat, serangan tersebut menewaskan tujuh orang, termasuk dua anak-anak.  

"Mungkin masih ada orang di bawah reruntuhan. Semua layanan yang diperlukan sedang bekerja di lokasi kejadian untuk menyelamatkan mereka," kata Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, merespons serangan Rusia, seperti dilansir BBC.

Gubernur Kharkiv, Oleh Syniehubov, menjelaskan, serangan Rusia menyasar apartemen lima lantai yang ada di wilayahnya. Usai serangan terjadi, petugas penyelamat langsung datang ke lokasi kejadian guna menyelamatkan korban yang tertimbun reruntuhan.

1. Rusia juga menyerang Dnipropetrovsk, Odessa, dan Zaporizhzhia

Suasana kota di Ukraina yang hancur karena serangan Rusia.
Suasana kota di Ukraina yang hancur karena serangan Rusia. (pexels.com/Алесь Усцінаў)

Selain Kharkiv, Rusia juga menyerang beberapa wilayah lainnya, seperti Dnipropetrovsk, Zaporizhzhia, dan Odessa. Serangan Rusia di Dnipropetrovsk menyebabkan satu orang tewas. Namun, serangan Rusia di Zaporizhzhia dan Odessa hanya menimbulkan korban luka.

Di Dnipropetrovsk, Rusia menyerang sejumlah markas militer Ukraina. Di Zaporizhzhia, Rusia menyerang bangunan apartemen hingga menyebabkan dua orang terluka. Sementara itu, di Odessa, Rusia menyerang sejumlah infrastruktur pelabuhan.

Dalam pernyataannya, Zelenskyy mengungkap bahwa Rusia menyerang beberapa wilayah di Ukraina, termasuk Kharkiv, menggunakan 29 rudal dan 480 drone. Menurut Zelenskyy, itu menjadi salah satu serangan terbesar Rusia ke Ukraina sejauh ini.

2. Ukraina mendesak negara-negara sekutu untuk memberi bantuan

Rudal jarak jauh.
ilustrasi rudal (unsplash.com/Akshat Jhingran)

Usai serangan terjadi, Zelenskyy langsung meminta negara-negara sekutunya untuk memberikan bantuan, terutama bantuan senjata. Sebab, Ukraina saat ini sedang kekurangan senjata untuk melawan Rusia.

"Harus ada tanggapan dari para mitra terhadap serangan brutal terhadap kehidupan ini. Rusia belum menghentikan upayanya untuk menghancurkan permukiman dan infrastruktur penting Ukraina. Oleh karena itu, dukungan harus dilanjutkan," lanjut Zelenskyy, seperti dilansir The Strait Times.

3. Perang Rusia-Ukraina sudah berlangsung empat tahun

Tentara sedang berperang.
ilustrasi perang Rusia dan Ukraina (pexels.com/Alex Andrews)

Saat ini, perang antara Rusia dan Ukraina sudah berlangsung selama empat tahun. Meski begitu, perang di antara kedua negara hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. 

Sebetulnya, Ukraina sudah melakukan upaya diplomasi untuk berdamai dengan Rusia. Upaya diplomasi terakhir yang dilakukan Ukraina terjadi dalam pertemuan trilateral di Jenewa, Swiss, pada 17 dan 18 Februari 2026 lalu. 

Dalam pertemuan tersebut, Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat sebagai mediator berdiskusi soal gencatan senjata. Namun, usai pertemuan tersebut digelar, kesepakatan belum juga diraih. Ini membuat konflik antara Rusia dan Ukraina jadi makin alot.

Menurut Zelenskyy, Ukraina akan kembali menggelar pertemuan dengan Rusia pada Maret ini. Menurutnya, pertemuan akan kembali digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Namun, pertemuan tersebut berpotensi ditunda. Sebab, situasi di Uni Emirat Arab dan di negara-negara Timur Tengah lainnya sedang tidak aman karena perang antara AS, Israel, dan Iran. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More