Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Studi: Kena Macet Berdampak Buruk ke Kesehatan Mental

Studi: Kena Macet Berdampak Buruk ke Kesehatan Mental
Ilustrasi macet (IDN Times/Sukma Shakti)
Share Article

Tidak ada satu orang pun yang ingin terjebak macet, terlebih sebuah studi baru mengaitkan hal tersebut pada kesehatan yang memberikan dampak buruk, mengutip dari situs Science Alert.

Kemacetan membuat orang-orang cenderung kurang aktif secara fisik, kelebihan berat badan, minum lebih banyak alkohol dan kurang tidur. Duduk di tengah kemacetan juga dapat meningkatkan tekanan darah, menurut penelitian yang baru-baru ini diterbitkan di Journal of Transport & Health. Ini bukan karena frustasi namun karena polusi udara yang dihirup oleh mereka yang ada di jalanan.

Dampak kesehatan paling dirasakan di Korea Selatan, negara yang diperkirakan memiliki rata-rata waktu perjalanan terlama dan mempunyai tingkat depresi tertinggi di antara negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).

Hanya sedikit penelitian yang mengorelasikan dampak kesehatan dari kemacetan pada populasi Asia, sehingga belum ada pemahaman bagaimana hal tersebut berpengaruh pada kesehatan mental yang buruk, seperti depresi.

Temukan kemungkinan gejala depresi

ilustrasi depresi (IDN Times/Besse Fadhilah)
ilustrasi depresi (IDN Times/Besse Fadhilah)

Sebuah studi baru terhadap lebih dari 23.000 responden menjawab kesenjangan penelitian tersebut. Studi tersebut menemukan bahwa sebanyak 16 persen lebih masyarakat dari Negeri Ginseng yang melakukan perjalanan lebih dari satu jam mungkin mengalami gejala depresi dibandingkan mereka yang melakukan perjalanan di bawah 30 menit.

Peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Inha di Korea Selatan bersama rekannya menggali data peserta usia kerja dari Fifth Korean Working Condition Survey, sebuah survei perwakilan nasional yang dilakukan pada 2017.

Peserta survei menjawab pertanyaan berdasarkan lima poin indeks kesejahteraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang digunakan peneliti untuk menilai kesehatan mental peserta.

Rata-rata waktu perjalanan harian adalah 47 menit atau hampir 4 jam perjalanan per minggu jika mereka bekerja selama 5 hari. Seperempat dari 23.415 responden melaporkan mengalami gejala depresi, jika dinilai berdasarkan skor indeks.

Meski penelitian tidak menunjukkan sebab dan akibat, hubungan antara jam perjalanan yang panjang dengan buruknya kesehatan mental di kalangan pria paling sering terjadi pada mereka yang belum menikah, bekerja lebih dari 52 jam per minggu dan tidak memiliki anak.

Sedangkan di kalangan perempuan, waktu perjalanan yang lama erat kaitannya dengan gejala depresi di kalangan pekerja berpenghasilan rendah, pekerja shift dan mereka yang memiliki anak.

ilustrasi macet (pexels.com/Life Of Pix)
ilustrasi macet (pexels.com/Life Of Pix)

"Dengan lebih sedikit waktu luang, orang mungkin kekurangan waktu untuk menghilangkan stres atau melawan kelelahan fisik yang biasanya dilakukan dengan tidur, melakukan hobinya dan aktivitas lainnya," kata para peneliti kepada Korean Biomedical Review.

Meskipun analisis ini disesuaikan dengan usia, jam kerja mingguan, pendapatan, pekerjaan, dan kerja shift –semua faktor yang dapat berdampak pada kesehatan mental seseorang– banyak faktor risiko individu untuk gejala depresi, seperti riwayat keluarga yang tidak dapat diperhitungkan.

Data survei nasional Korea juga tidak merinci moda transportasi yang digunakan. Namun, beralih ke transportasi sepeda atau berjalan kaki dapat meningkatkan kesehatan mental, menurut sebuah studi pada 2018 terhadap hampir 4.500 peserta survei di Inggris.

Ada beberapa kemungkinan keuntungan dari perjalanan jauh yang tidak boleh kita abaikan di mana beberapa penumpang menggambarkan perjalanan pulang mereka yang jauh sebagai saat yang tepat untuk 'mematikan' atau melepaskan diri dari pekerjaan.

Perlu juga dicatat bahwa survei di Korea dilakukan sebelum pandemi, menunjukkan adanya perubahan dramatis dalam cara kita bekerja –namun tidak semua orang bisa bekerja dari rumah.

“Hubungan  antara waktu perjalanan yang lama dan gejala depresi yang memburuk ditemukan lebih kuat di kalangan pekerja berpenghasilan rendah," catat para peneliti.

Namun, peralihan ke work from home (wfh) terjadi lebih cepat di kalangan pekerja kerah putih dan berpenghasilan tinggi dibandingkan pekerja berpenghasilan rendah.

Peneliti menyimpulkan bahwa mengurangi waktu dan jarak perjalanan melalui peningkatan transportasi dapat memberikan lingkungan perjalanan yang lebih baik bagi masyarakat dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Share Article
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
Misrohatun H
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi

Related Articles

See More

5 Benda Absurd yang Pernah Dibawa NASA ke Luar Angkasa, Apa Saja?

25 Mei 2026, 20:05 WIBScience