Badan Gambut Ingin Kebakaran Bisa Diprediksi 3 Hari Sebelum Terjadi

BPGMN mendorong teknologi untuk mendeteksi dan memproyeksikan potensi karhutla hingga tiga hari sebelumnya.
Kondisi muka air gambut di bawah 40 sentimeter menjadi salah satu indikator perlunya pencegahan.
Penanganan karhutla mencakup kolaborasi, mitigasi, perlindungan ekosistem, dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) Sriyanto mendorong pemanfaatan teknologi untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak dini.
Teknologi tersebut diharapkan tidak hanya memantau kondisi lahan, tetapi juga menganalisis risiko dan memproyeksikan kemungkinan terjadinya kebakaran. Pemanfaatan teknologi informasi juga diperlukan untuk memetakan kondisi gambut dan menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan.
"Kalau bisa, kita berharap ada prediksi hingga tiga hari sebelumnya," katanya usai dilantik di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Sriyanto mengatakan, salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah kondisi muka air gambut. Ketika permukaan air gambut berada di bawah 40 sentimeter, tindakan pencegahan perlu segera dilakukan.
Namun, dia belum memastikan kemampuan tersebut sudah tersedia untuk seluruh wilayah Indonesia. Teknologi yang telah dikembangkan setidaknya diharapkan dapat membantu mendeteksi risiko kebakaran sedini mungkin.
1. Kolaborasi lintas instansi untuk penanganan karhutla

Personel Manggala Agni Daops Sum XIII-Sarolangun berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Riding, Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Selasa (6/10). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Sriyanto menilai kolaborasi dan koordinasi menjadi bagian penting dalam menjalankan tugas BPGMN. Penanganan karhutla melibatkan banyak instansi sehingga diperlukan tata kelola yang memastikan setiap pihak dapat bekerja secara efektif.
"Sejak awal, saya melihat permasalahan ini bersifat interdisipliner. Karena itu, kita sudah melibatkan banyak ahli yang sebelumnya juga telah terlibat, dan akan menambahkan keahlian lain yang diperlukan," ujar dia.
Pembelajaran dari program Badan Restorasi Gambut (BRG) juga akan dikembangkan untuk mendukung pelaksanaan tugas ke depan. Menurut Sriyanto, perlindungan dan pemulihan menjadi dua fokus utama, yakni menjaga ekosistem gambut dan mangrove sekaligus memulihkan kawasan yang telah rusak.
2. Pemetaan risiko karhutla hingga jalur evakuasi warga

BNPB upayakan adopsi pembasahan gambut lewat teknologi yang dinamakan Sambonesia yakni membasahi gambut di lapisan bawah (Dok: APP Sinarmas) Sriyanto mengatakan, deteksi risiko kebakaran perlu diikuti langkah mitigasi. Ketika risiko kebakaran di kawasan gambut teridentifikasi, pemerintah dapat melakukan tindakan pencegahan sebelum api meluas.
"Jika potensi karhutla sangat besar dan dampaknya luar biasa, kita perlu menentukan langkah evakuasi untuk melindungi masyarakat, termasuk lokasi titik aman dan jalur evakuasi," tuturnya.
3. Kembangkan potensi ekonomi gambut dan mangrove

Potret pepohonan di rawa gambut (pexels.com/Evelin Magnus) Sriyanto mengatakan, perlindungan gambut dan mangrove perlu berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi masyarakat. Di lahan gambut, komoditas yang dapat dikembangkan tidak terbatas pada kelapa sawit.
"Presiden juga selalu menyampaikan pentingnya ketahanan pangan. Sagu sangat potensial untuk dikembangkan di tanah gambut," paparnya.
Selain sagu, jelutung dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku permen karet. Sementara itu, kawasan mangrove memiliki potensi ekonomi melalui perikanan yang tidak merusak ekosistem, pariwisata, dan kegiatan lain yang sesuai dengan kondisi lingkungan.
Sriyanto juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat desa dalam menjaga ekosistem gambut dan mangrove. Masyarakat perlu dilibatkan dalam pengelolaan kawasan, termasuk melalui pendampingan dan penyuluhan agar pembukaan lahan dengan cara membakar dapat dicegah.
"Dengan demikian, manfaat sosial dan ekonomi bisa langsung dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut dan mangrove," kata dia.





















