Stablecoin mulai mendapat perhatian sebagai salah satu alternatif untuk mempermudah transaksi digital, termasuk pembayaran lintas negara. Berbeda dengan Bitcoin yang harganya dapat berubah tajam, stablecoin dirancang untuk mempertahankan nilai yang relatif stabil dengan mengacu pada aset tertentu, seperti dolar Amerika Serikat (AS). Karakteristik ini membuat stablecoin berpotensi digunakan untuk mengirim uang dan menyelesaikan pembayaran tanpa harus selalu bergantung pada sistem transfer konvensional.
Stablecoin Dilirik untuk Pembayaran Digital, Apa Istimewanya?

- Stablecoin dirancang menjaga nilai relatif stabil dengan mengacu aset seperti dolar AS, sehingga pembayaran lebih mudah diperkirakan dibandingkan Bitcoin, meski kestabilannya dipengaruhi cadangan dan kepercayaan pasar.
- Melalui blockchain, stablecoin berpotensi menyederhanakan transfer lintas negara dan bertransaksi di luar jam bank, tetapi biaya jaringan, penukaran, aturan lokal, serta dukungan layanan tetap memengaruhi proses.
- Stablecoin dapat dipadukan dengan smart contract untuk otomatisasi pembayaran, namun pengguna perlu memperhatikan keamanan dompet, biaya, ketentuan transaksi, dan keterbatasan penerimaan pedagang.
Meski stablecoin dilirik untuk pembayaran digital, salah satu aset kripto ini tidak sekadar untuk diperjualbelikan di bursa. Teknologi blockchain memungkinkan transaksi tercatat dalam jaringan digital dan dapat digunakan oleh berbagai layanan pembayaran yang mendukungnya. Lalu, apa saja kelebihan stablecoin untuk transaksi digital dan hal apa yang perlu diperhatikan sebelum menggunakannya?
1. Nilainya dirancang lebih stabil daripada Bitcoin

ilustrasi Bitcoin (unsplash.com/Amjith S) Salah satu kelebihan stablecoin adalah nilainya dirancang untuk mengikuti aset acuan, seperti dolar AS atau euro. Sebagai contoh, stablecoin yang dipatok terhadap dolar AS umumnya ditujukan agar satu token bernilai sekitar satu dolar. Mekanisme ini membuat nilainya relatif lebih mudah diperkirakan dibandingkan dengan Bitcoin yang harganya bisa berubah dalam waktu singkat.
Stabilitas tersebut dapat membantu pengguna mengirim atau menerima pembayaran tanpa terlalu khawatir terhadap perubahan harga yang tajam selama transaksi berlangsung. Meski demikian, nilai stablecoin tidak selalu terjamin tetap sama dengan aset acuannya karena dapat dipengaruhi oleh kualitas cadangan, kepercayaan pasar, dan kemampuan penerbit untuk menukarkan token. Karena itu, pengguna tetap perlu memeriksa jenis stablecoin dan mekanisme yang digunakan untuk mempertahankan nilainya.
2. Berpotensi mempermudah transfer uang lintas negara

ilustrasi bola dunia (unsplash.com/Kyle Glenn) Transfer uang ke negara lain biasanya melibatkan bank, penyedia jasa pengiriman uang, dan sistem pembayaran yang berbeda. Proses tersebut dapat memerlukan waktu serta biaya tambahan, bergantung pada negara tujuan, penyedia layanan, dan metode transfer yang digunakan. Stablecoin berpotensi menyederhanakan sebagian proses ini dengan memungkinkan pengiriman aset melalui jaringan blockchain yang dapat diakses dari berbagai negara.
Sebagai contoh, kita dapat mengirim stablecoin kepada penerima di negara lain melalui jaringan yang sama tanpa harus menunggu seluruh proses pemindahan dana antarlembaga konvensional. Namun, penerima tetap memerlukan dompet atau layanan yang mendukung stablecoin tersebut jika ingin menerima dan menggunakannya. Biaya jaringan, biaya penukaran ke mata uang lokal, aturan setempat, serta waktu pemrosesan layanan juga dapat memengaruhi efisiensi transaksi.
3. Transaksi dapat berlangsung di luar jam operasional bank

ilustrasi transfer uang (magnific.com/upklyak) Sistem pembayaran berbasis blockchain dapat memproses transaksi tanpa mengikuti jam operasional kantor bank seperti pada sebagian layanan keuangan konvensional. Beberapa jaringan blockchain beroperasi sepanjang hari, termasuk akhir pekan dan hari libur, sehingga pengguna berpotensi mengirim stablecoin kapan saja. Hal ini dapat membantu bisnis yang perlu melakukan pembayaran atau pemindahan dana di luar jam kerja biasa.
Meski jaringan dapat beroperasi sepanjang waktu, penerimaan dan penggunaan dana tidak selalu berlangsung seketika. Penyedia dompet, bursa kripto, atau layanan pembayaran tertentu mungkin menerapkan jadwal pemrosesan, pemeriksaan keamanan, dan prosedur kepatuhan. Oleh karena itu, pengguna perlu membedakan waktu transaksi tercatat di blockchain dari waktu dana benar-benar tersedia untuk digunakan atau ditukarkan.
4. Dapat mendukung otomatisasi pembayaran digital

ilustrasi dompet digital (unsplash.com/vagaro) Stablecoin juga dapat digunakan bersama smart contract, yaitu program pada blockchain yang menjalankan instruksi ketika persyaratan tertentu terpenuhi. Teknologi ini berpotensi mendukung pembayaran otomatis berdasarkan jadwal, penyelesaian transaksi setelah syarat terpenuhi, atau pemindahan dana dalam layanan digital tertentu. Dengan mekanisme tersebut, bisnis dapat merancang proses pembayaran yang lebih terstruktur tanpa harus menjalankan setiap langkah secara manual.
Sebagai contoh, sebuah layanan digital dapat merancang sistem yang mengirim pembayaran kepada penyedia jasa setelah pekerjaan dinyatakan selesai dan syarat dalam kontrak terpenuhi. Meski demikian, otomatisasi hanya berjalan sesuai aturan program yang dibuat dan tidak menjamin seluruh proses bebas dari kesalahan. Pengembang tetap perlu menguji keamanan program, sedangkan pengguna harus memahami syarat transaksi sebelum menyetujui pemindahan aset.
Stablecoin dilirik untuk pembayaran digital karena menawarkan sejumlah potensi, seperti kestabilan nilai relatif, kemudahan transfer lintas negara dan otomatisasi transaksi. Meski demikian, pengguna tetap perlu mempertimbangkan biaya, keamanan dompet, serta aturan yang berlaku di negara masing-masing. Stablecoin juga belum digunakan secara luas untuk semua jenis pembayaran, sehingga manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari masih bergantung pada penerimaan pedagang dan dukungan layanan pembayaran.





















