Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Buntut Insiden Ojol Dilindas, Rupiah Melemah ke Rp16.508,5 per Dolar AS

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (ANTARA FOTO/ Sigid Kurniawan)
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (ANTARA FOTO/ Sigid Kurniawan)

Jakarta, IDN Times – Situasi keamanan di DKI Jakarta yang tidak kondusif, seiring dengan munculnya demonstrasi di berbagai wilayah, mendorong pelemahan rupiah. Hingga pukul 10.45 WIB, nilai tukar rupiah tercatat mengalami depresiasi, menyentuh level Rp16.508,5 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah sebesar 156 poin atau 0,95 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.

1. Demo mempengaruhi kondisi pasar keuangan domestik

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan tensi politik dalam negeri yang berkaitan dengan aksi demonstrasi, termasuk dilindasnya pengemudi ojek online (ojol) oleh kendaraan taktis milik Brimob, turut mempengaruhi pasar keuangan domestik.

"Dampaknya cukup luar biasa terhadap pasar finansial, baik terhadap rupiah maupun indeks harga saham gabungan (IHSG). Hari ini, IHSG sudah mengalami penurunan hingga dua persen, sementara rupiah melemah lebih dari 80 poin. Artinya apa? Bahwa kejadian tadi malam berdampak signifikan terhadap pasar dalam negeri," kata Ibrahim kepada IDN Times, Jumat (29/8/2025).

2. Pertumbuhan ekonomi AS kuartal II tumbuh lebih baik

Sementara itu, dari sisi eksternal berkaitan dengan data pertumuhan ekonomi Amerika Serikat yang dirilis semalam menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat pada kuartal kedua.

"Itu revisi pertama dan hasilnya melampaui proyeksi sebelumnya. Kita melihat, ini menjadi indikasi bahwa kekuatan pasar tenaga kerja di AS masih terus meningkat. Produk domestik bruto (PDB) kuartal II yang sebelumnya diproyeksikan tumbuh 3,1 persen, kini direvisi naik menjadi 3,3 persen. Ini menunjukkan ekonomi AS cukup kuat," jelasnya.

3. Data pengangguran AS mengalami penurunan

Selain itu, data klaim pengangguran di AS juga tercatat mengalami penurunan, dari sebelumnya 230 ribu menjadi 229 ribu. Namun, menurut Ibrahim, situasi politik di AS ikut menambah ketidakpastian pasar global.

Ada juga faktor pemecatan Tina Chok oleh Donald Trump sebagai pimpinan Bank Sentral memicu krisis kepercayaan. Gugatan balik yang diajukan Chok membuka potensi konflik hukum yang bisa berdampak besar pada stabilitas pasar global.

"Kita harus perhatikan juga kondisi perpolitikan di Amerika, terutama pasca Donald Trump melakukan intervensi terhadap Bank Sentral dengan memecat Tina Chok dari jabatannya. Langkah itu menimbulkan ketegangan karena Tina Chok juga melawan dengan mengajukan gugatan pra-peradilan. Ini yang cukup menarik, dan tentu berpengaruh terhadap dinamika pasar global," jelasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us