Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jatuh Tempo SRBI Rp288 Triliun Bisa Topang Likuiditas Perbankan

3 min read
Jatuh Tempo SRBI Rp288 Triliun Bisa Topang Likuiditas Perbankan
Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)
  • SRBI senilai Rp288 triliun jatuh tempo pada kuartal IV 2026 dan dinilai dapat mengimbangi penarikan SAL pemerintah, sehingga tekanan likuiditas perbankan lebih terkendali.

  • CGS International mencatat penurunan imbal hasil SRBI, bunga SMV, dan transaksi repo obligasi pemerintah membantu likuiditas, meski biaya dana perbankan diperkirakan masih naik pada kuartal III 2026.

  • Aliran modal asing sepanjang 2026 mencapai Rp131,1 triliun, didorong SBN dan SRBI, sementara arus keluar dari saham Rp84,2 triliun dapat diimbangi instrumen tersebut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) senilai Rp288 triliun akan jatuh tempo pada kuartal IV 2026. Pelunasan instrumen tersebut berpotensi membantu menjaga likuiditas perbankan di tengah penarikan bertahap Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah dari perbankan.

Dalam risetnya, CGS International menilai, besarnya nilai SRBI yang jatuh tempo pada periode Oktober hingga Desember 2026 dapat mengimbangi dampak penarikan SAL. Dengan begitu, tekanan terhadap likuiditas perbankan berpotensi lebih terkendali.

“Kami meyakini dampak penarikan SAL kali ini dapat dikelola dengan lebih baik dibandingkan akhir Juni, mengingat bank-bank BUMN telah mengantisipasi penarikan bertahap tersebut sebagai asumsi dasar,” tulis CGS International dalam risetnya, dikutip Senin (12/10/2026).

  1. 1. Redam tekanan likuidiyas akibat penarikan SAL

    Ilustrasi obligasi (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi obligasi (IDN Times/Aditya Pratama)

    Selain itu, pelunasan SRBI selama Agustus hingga September 2026 yang diikuti penurunan imbal hasil juga dinilai dapat membantu meredam tekanan likuiditas akibat penarikan SAL.

    Di sisi lain, pemerintah telah menurunkan suku bunga untuk special mission vehicles (SMV) di bawah naungan Kementerian Keuangan. Kebijakan yang berlaku efektif sejak 1 September 2026 itu menetapkan suku bunga sebesar 80 persen dari suku bunga acuan, dengan kesepakatan kontrak berlaku hingga Januari 2027.

  2. 2. Nilai transaksi repo obligasi pemerintah juga tunjukkan tren penurunan

    Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga. (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga. (IDN Times/Aditya Pratama)

    CGS International mencatat, suku bunga deposito khusus untuk instrumen tersebut sebelumnya berada di kisaran 7 persen hingga 7,5 persen. Sementara itu, nilai transaksi repurchase agreement (repo) obligasi pemerintah juga menunjukkan tren penurunan dibandingkan dengan puncaknya pada pertengahan Juni 2026. Penurunan tersebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi membantu meredakan tekanan likuiditas perbankan.

    Meski sejumlah faktor tersebut berpotensi menopang likuiditas, CGS International memperkirakan tekanan terhadap biaya dana atau cost of fund (CoF) perbankan masih akan terlihat dalam laporan kinerja kuartal III 2026.

    “Kendati demikian, kami memperkirakan dampak kenaikan CoF akan terlihat pada laporan kinerja kuartal III 2026 sebelum kembali normal pada kuartal IV 2026,” tulis CGS International.

  3. 3. Aliran modal asing masuk ke pasar keuangan capai Rp131,1 triliun sepanjang 2026

    Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

    Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa aliran modal asing yang masuk ke Indonesia sepanjang 2026 mencapai Rp131,1 triliun. Pemerintah, kata Suahasil, akan terus menjaga kepercayaan investor untuk mempertahankan arus masuk modal tersebut.

    "Kepercayaan investor tetap kita pastikan supaya lebih kuat. Akumulasi 2026 inflow-nya, total akumulasinya adalah Rp 131,1 triliun," ujar Suahasil.

    Suahasil mengakui arus modal asing sempat mengalami kontraksi pada awal 2026. Namun, pada kuartal II-2026, aliran modal masuk melonjak hingga Rp140,6 triliun sebelum mengalami moderasi pada kuartal III-2026. Memasuki kuartal IV-2026, arus modal asing kembali menunjukkan tren positif. Hingga 7 Oktober 2026, aliran modal masuk tercatat mencapai Rp22,01 triliun.

    Menurutnya, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) menjadi salah satu pendorong aliran modal asing ke Indonesia. Instrumen tersebut menarik aliran modal masuk sebesar Rp36,7 triliun. Bahkan, dalam enam hari pertama Oktober 2026, SBN berhasil menarik modal asing hampir Rp8 triliun.

    "SRBI juga mengundang inflow Rp 178,6 triliun. Kita tahu SRBI dikeluarkan oleh Bank Indonesia, tenornya adalah tenor pendek. Kalau SBN, ada yang berjangka pendek, tetapi mayoritas berjangka panjang. Tenor yang semakin panjang mencerminkan kepercayaan terhadap surat berharga Republik Indonesia," tambah Suahasil.

    Di sisi lain, instrumen saham masih mencatatkan aliran modal keluar (outflow) sebesar Rp 84,2 triliun dalam setahun terakhir. Meski demikian, Suahasil menilai koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter dapat membantu meredam tekanan tersebut. Menurutnya, arus modal masuk melalui SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mampu mengimbangi arus keluar modal di pasar saham.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More