Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menguji Kualitas Pertumbuhan Ekonomi di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo

7 min read
Menguji Kualitas Pertumbuhan Ekonomi di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Markus Spiske)
  • Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen pada 2025, lalu 5,61 persen pada kuartal I-2026 dan 5,29 persen pada kuartal II-2026, tetapi kualitas kesejahteraan dinilai belum merata.
  • CORE menyoroti tingginya pekerja informal, tekanan daya beli kelas menengah, serta PHK akibat pelemahan rupiah dan kenaikan biaya impor, terutama di industri padat karya.
  • Pemerintah membantah daya beli melemah, dengan menilai konsumsi bergeser ke perjalanan, pariwisata, dan digital; volume transaksi pembayaran digital Agustus 2026 tumbuh 40,36 persen tahunan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, ekonomi Indonesia masih tumbuh di kisaran 5 persen. Meski mencatatkan pertumbuhan positif, capaian tersebut dinilai belum sepenuhnya diikuti perbaikan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam hal kualitas pekerjaan dan daya beli.

Di tengah besarnya anggaran negara yang dialokasikan untuk berbagai program prioritas, pemerintah masih menghadapi tantangan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan lapangan kerja yang layak, menjaga konsumsi rumah tangga, dan memperkuat fondasi perekonomian nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025. Pertumbuhan meningkat menjadi 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026, sebelum melambat menjadi 5,29 persen pada kuartal II-2026.

Angka tersebut menunjukkan ekonomi nasional masih mampu tumbuh di atas 5 persen. Namun, pertumbuhan yang tinggi belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan secara merata. Kualitas pekerjaan, keberlanjutan pendapatan, dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi sejumlah aspek yang turut menentukan kualitas pertumbuhan tersebut.

  1. 1. Pertumbuhan ekonomi belum diikuti perbaikan kualitas ekonomi

    ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi (pexels.com/Lukas)
    ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi (pexels.com/Lukas)

    Direktur Riset Makroekonomi, Kebijakan Fiskal, dan Moneter CORE Indonesia, Akhmad Akbar Susamto, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia selama dua tahun terakhir belum sepenuhnya diikuti perbaikan kualitas ekonomi.

    "Ekonomi Indonesia tetap tumbuh selama dua tahun ini, tetapi kualitasnya belum sepenuhnya membaik," kata Akhmad, dikutip Kamis (15/10/2026).

    Salah satu persoalan yang disorot adalah tingginya proporsi pekerja informal. Hampir enam dari setiap 10 pekerja di Indonesia masih bekerja di sektor informal, yang umumnya memiliki pendapatan tidak tetap dan akses perlindungan sosial terbatas.

    "Persoalannya, pertumbuhan itu belum mampu menyelesaikan masalah pekerja informal. Hampir enam dari sepuluh pekerja masih berada di sektor informal, dengan pendapatan yang tidak tetap dan perlindungan sosial yang terbatas," ujarnya.

    Tingginya jumlah pekerja informal menjadi tantangan karena pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menghasilkan pekerjaan dengan pendapatan stabil dan perlindungan memadai. Kondisi ini juga berpengaruh terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga ketika menghadapi kenaikan harga maupun tekanan biaya hidup.

  2. 2. Daya beli ikut tertekan dan lesu

    belanja di pasar
    ilustrasi belanja di pasar (pexels.com/setengah lima sore)

    Selain kualitas pekerjaan, tekanan terhadap daya beli masyarakat juga menjadi perhatian. Akbar menilai kelas menengah menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari suku bunga yang tinggi, pelemahan rupiah, hingga kenaikan harga barang impor. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban pengeluaran rumah tangga, terutama ketika kenaikan biaya hidup tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan yang memadai.

    Padahal, konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena itu, kemampuan masyarakat mempertahankan konsumsi perlu dijaga agar pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

    "Perlindungan terhadap daya beli kelas menengah menjadi penting di tengah tekanan ekonomi yang berlangsung," jelasnya.

    Ia menekankan bahwa menjaga kemampuan belanja masyarakat bukan hanya berkaitan dengan kesejahteraan rumah tangga, melainkan juga dengan keberlangsungan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

  3. 3. Ada lonjakan pemutusan hubungan kerja dan dampak pelemahan rupiah

    ilustrasi pengangguran (Freepik.com/gntfreepik)
    ilustrasi pengangguran (Freepik.com/gntfreepik)

    Tekanan ekonomi juga dirasakan pekerja sektor formal. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat pada 2025. Hingga Agustus 2026, jumlah PHK yang tercatat telah mencapai sekitar 60 persen dari angka tahun sebelumnya.

    Pelemahan rupiah turut meningkatkan biaya bahan baku impor bagi industri yang bergantung pada pasokan dari luar negeri. Kenaikan biaya produksi tersebut dapat mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi jumlah pekerja.

    CORE Indonesia memperkirakan tekanan tersebut berkontribusi terhadap PHK sekitar 15.000 hingga 20.000 pekerja pada kuartal II-2026. Sektor yang terdampak terutama meliputi industri tekstil, alas kaki, elektronik, serta kimia dan farmasi. Akbar menilai angka PHK yang tercatat secara resmi berpotensi belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Sebab, sebagian perusahaan memilih tidak memperpanjang kontrak pekerja atau memangkas jam kerja untuk menekan biaya operasional.

    "Dengan tekanan seperti ini, kebijakan perlu diarahkan untuk mencegah PHK sejak awal, antara lain melalui stimulus dan investasi di industri padat karya yang membuka pekerjaan formal," jelasnya.

    Menurutnya, langkah pencegahan diperlukan agar tekanan terhadap dunia usaha tidak semakin meluas dan berujung pada penurunan pendapatan rumah tangga. Dukungan terhadap industri padat karya juga penting untuk memperluas kesempatan kerja formal dan menjaga keberlanjutan aktivitas produksi.

  4. 4. Keberhasilan berbagai program prioritas belum jelas

    Uji coba program makan bergizi gratis (MBG) di SD Tugu, Jebres, Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
    Uji coba program makan bergizi gratis (MBG) di SD Tugu, Jebres, Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

    Di tengah tekanan itu, program prioritas menyerap anggaran besar, tetapi ukuran keberhasilannya belum jelas. Pada Makan Bergizi Gratis (MBG), anggaran dan target penerima sudah beberapa kali diubah, sementara biaya satuan dan data penerimanya belum dibuka. Dari sisi pelaksanaan, investigasi Badan Gizi Nasional sendiri menemukan pelanggaran SOP dan masalah sanitasi di dapur penyedia.

    Adapun Koperasi Desa Merah Putih dibiayai kredit bank Himbara yang nilainya berpotensi mencapai Rp240 triliun dengan jaminan Dana Desa, DAU, dan DBH. Dengan risiko sebesar itu, keberhasilannya perlu diukur dari usaha koperasi yang benar-benar berjalan dan keuangannya yang sehat. Jumlah unit yang diresmikan belum menunjukkan hal itu.

    Tata kelola kebijakan baru juga belum sepenuhnya jelas. Kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia bertujuan menutup kebocoran devisa dan praktik under invoicing, tetapi desain satu badan sebagai pembeli sekaligus penjual tunggal berisiko menciptakan monopsoni. Keberhasilannya bergantung pada kemampuan menjaga kerahasiaan data eksportir dan kepercayaan dunia usaha.

  5. 4. Bantah adanya penurunan daya beli masyarakat

    ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, pasar tradisional di Indonesia
    ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, pasar tradisional di Indonesia (unsplash.com/Devi Puspita Amartha Yahya)

    Di tengah sorotan terhadap kualitas pekerjaan, tekanan industri, dan daya beli masyarakat, pemerintah memiliki pandangan berbeda mengenai kondisi konsumsi nasional. Pemerintah menilai anggapan bahwa daya beli masyarakat melemah tidak sepenuhnya sesuai dengan indikator ekonomi yang tersedia.

    Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Wibowo mengatakan, perkembangan konsumsi masyarakat saat ini lebih mencerminkan pergeseran pola belanja daripada penurunan kemampuan belanja secara keseluruhan.

    "Pertama bisa saya sampaikan, itu tidak betul kalau daya beli di Indonesia itu melemah, salah. Jadi daya beli tidak melemah, buktinya banyak, pertumbuhan di transportasi dan pertumbuhan yang terkait pariwisata," ujar Dradjad dalam konferensi pers di BPS, Senin (12/10/2026).

    Menurutnya, aktivitas transportasi, pariwisata, hotel, dan restoran menjadi sejumlah indikator yang menunjukkan konsumsi masyarakat masih berlangsung. Peningkatan mobilitas, misalnya, dinilai turut mendorong pengeluaran masyarakat untuk perjalanan dan kegiatan wisata.

    "Transportasi itu tinggi sekali, karena apa? Karena masyarakat kita rupanya sekarang banyak yang senang jalan-jalan. Dan konsumsi jalan-jalan itu tinggi sekali, restoran dan hotel juga. Turisme juga meningkat, pariwisata meningkat sekali," katanya.

    Pemerintah juga menyoroti perkembangan transaksi pembayaran digital sebagai indikator aktivitas ekonomi masyarakat.


  6. 5. Bergesernya transaksi tercermin dari peningkatan transaksi QRIS

    Ilustrasi konsumen memindai QRIS untuk membayar makanan di salah satu lapak pedagang kaki lima. (ANTARAFOTO/Akramul Muslim)
    Ilustrasi konsumen memindai QRIS untuk membayar makanan di salah satu lapak pedagang kaki lima. (ANTARAFOTO/Akramul Muslim)

    Dradjad menilai perubahan pola konsumsi masyarakat perlu menjadi pertimbangan dalam melihat kondisi daya beli. Menurutnya, masyarakat kini mulai mengalihkan pengeluaran ke jenis barang dan jasa lain, termasuk berbelanja melalui lokapasar (marketplace) dan platform daring.

    Perubahan tersebut, kata dia, membuat penurunan penjualan pada sektor tertentu tidak serta-merta menunjukkan bahwa daya beli masyarakat secara keseluruhan melemah. Ia mencontohkan industri alas kaki, termasuk sepatu, yang belakangan mengeluhkan penurunan konsumsi.

    "Jadi kalau tadinya itu kebanyakan mungkin dulu ada yang beli alas kaki, sepatu misalnya. Makanya kan ada keluhan terkait dengan konsumsi sepatu dan sebagainya. Ya, karena memang masyarakat banyak yang bergeser konsumsinya," kata Dradjad.

    Selain perubahan pola belanja, pemerintah juga melihat peningkatan transaksi digital sebagai salah satu indikator aktivitas konsumsi masyarakat. Dradjad menyoroti pertumbuhan transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang menurutnya menunjukkan tingginya aktivitas pembayaran.

    "Bukti berikutnya, transaksi QRIS itu peningkatannya sampai di atas 100 persen. Ya, kalau transaksi QRIS meningkat drastis, itu kan nantinya memang banyak transaksi, banyak konsumsi. Jadi yang terjadi itu bukan daya beli melemah," ujarnya.

    Data Bank Indonesia menunjukkan volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini sejalan dengan semakin luasnya penggunaan layanan pembayaran digital di masyarakat.

    Pada periode yang sama, volume transaksi melalui internet banking tumbuh 15,12 persen secara tahunan, sedangkan mobile banking meningkat 47,08 persen. Adapun transaksi QRIS mencatatkan pertumbuhan sebesar 67,22 persen secara tahunan.

    Meski demikian, peningkatan transaksi digital perlu dilihat bersama indikator ekonomi lainnya untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai daya beli masyarakat. Pertumbuhan transaksi menunjukkan meningkatnya aktivitas pembayaran, tetapi belum dengan sendirinya menjelaskan perubahan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More