Saham Jhonlin Group Jadi Jaminan di Bank, Analis Sebut Hal Lumrah

Analis menilai penggunaan saham JARR dan PGUN sebagai agunan kredit di Bank Mandiri merupakan praktik lazim dalam perbankan.
Nilai pasar saham yang dijaminkan diperkirakan Rp73 triliun, tetapi belum menunjukkan besaran kredit yang diberikan.
Kondisi keuangan, laba, aset, dan fundamental perusahaan menjadi pertimbangan dalam menilai kualitas agunan serta risiko kredit.
Jakarta, IDN Times - Analis InFast Bestari, Gede Sandra menilai penggunaan saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) sebagai agunan kredit di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) merupakan praktik lazim di dunia perbankan.
"Penggunaan saham sebagai jaminan, bukanlah praktik baru di dunia perbankan. Sangat lazim terjadi," katanya dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, penilaian terhadap transaksi tersebut perlu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian bank, kualitas agunan, serta kondisi keuangan perusahaan yang sahamnya dijaminkan.
"Ingat, Bank Mandiri adalah bank pemerintah yang beraset besar. Perusahannya sudah terbuka, pastilah mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar dia.
Salah satu parameter tersebut adalah rasio pinjaman terhadap nilai agunan atau loan to value (LTV). Bank juga perlu memantau pergerakan harga saham dan meminta tambahan agunan apabila nilainya turun signifikan.
1. Nilai agunan saham Haji Isam lebih besar dari nilai akuisisi BYAN

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) (bayan.com.sg) Fasilitas kredit dan transaksi gadai saham perusahaan yang terafiliasi dengan Andi Syamsudin Arsyad atau Haji Isam tersebut muncul bersamaan dengan rencana Haji Isam menuntaskan akuisisi 30,25 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Hingga kini, nilai kredit yang diberikan Bank Mandiri untuk mendukung penyelesaian akuisisi tersebut belum terungkap. Sementara itu, nilai pasar saham JARR dan PGUN yang dijadikan agunan diperkirakan mencapai Rp73 triliun.
Nilai tersebut jauh melampaui taksiran nilai akuisisi saham BYAN. Namun, besarnya nilai pasar saham yang dijaminkan tidak serta-merta menunjukkan jumlah kredit yang diberikan bank.
"Sehingga, besarnya nilai saham yang dijaminkan itu, justru dapat menjadi salah satu lapisan perlindungan bagi kreditur," kata Gede.
2. JARR dan PGUN masih mencatatkan laba

Ilustrasi laporan keuangan. (IDN Times/Aditya Pratama) Dalam menilai kualitas agunan, bank perlu mempertimbangkan kualitas aset, kesehatan keuangan debitur, kemampuan menghasilkan laba, serta nilai ekonomis saham yang dijaminkan.
"Berdasarkan laporan keuangan JARR maupun PGUN yang dijaminkan ke BMRI, masih mencatatkan laba, nilai asetnya cukup besar," tuturnya.
Berdasarkan laporan keuangan hingga akhir Juni 2026, JARR membukukan pendapatan Rp1,76 triliun dengan laba bersih Rp158,93 miliar. Total aset perseroan mencapai Rp4,09 triliun, sedangkan ekuitasnya sebesar Rp2,02 triliun.
Meski penjualan mengalami penyesuaian dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, JARR masih mencatatkan laba operasional Rp234,4 miliar dan EBITDA Rp325,3 miliar.
Kas dan setara kas perseroan tercatat Rp456,9 miliar. Adapun rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) berada di kisaran 0,86 kali.
Sementara itu, PGUN membukukan pendapatan Rp304,97 miliar dan laba bersih Rp44,51 miliar pada semester I-2026. Meski labanya terkoreksi dibandingkan tahun sebelumnya, perseroan masih mencatatkan keuntungan.
PGUN memiliki total aset Rp2,42 triliun, dengan liabilitas Rp502,55 miliar dan ekuitas Rp1,92 triliun. Kedua perusahaan tersebut secara gabungan memiliki ekuitas sekitar Rp3,94 triliun.
3. Fundamental perusahaan menjadi pertimbangan dalam menilai risiko kredit

ilustrasi bank (IDN Times/Arief Rahmat) Penilaian terhadap transaksi tersebut tidak cukup hanya dengan melihat besarnya nilai saham yang diagunkan. Kondisi keuangan perusahaan penerbit saham dan kemampuan debitur memenuhi kewajiban juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Selain itu, kelompok usaha terkait memiliki eksposur terhadap kepemilikan sekitar 30,25 persen saham BYAN. Kepemilikan tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan dividen, meskipun realisasinya bergantung pada kinerja perusahaan dan keputusan pembagian dividen.
Gede menilai, transaksi tersebut perlu dilihat dengan mempertimbangkan aset dan kondisi fundamental perusahaan yang sahamnya dijadikan agunan, bukan semata-mata berdasarkan nilai gadai saham yang mencapai puluhan triliun rupiah.
"Dalam konteks itulah keputusan pembiayaan Bank Mandiri dapat dipandang sebagai keputusan bisnis yang didasarkan pada aset riil dan fundamental korporasi yang masih solid," kata Gede.





















