Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Fakta Pemeriksaan EEG, dari Prosedur hingga Arti Hasilnya

4 min read
7 Fakta Pemeriksaan EEG, dari Prosedur hingga Arti Hasilnya
ilustrasi electroencephalogphy atau elektroensefalografi (EEG) (magnific.com/DC Studio)
  • EEG merekam aktivitas listrik otak melalui elektroda pada kulit kepala dan umumnya tidak menimbulkan rasa sakit.

  • Jenis pemeriksaan disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari EEG rutin hingga pemantauan saat tidur atau selama beberapa hari.

  • Hasil EEG perlu dibaca bersama riwayat gejala; rekaman normal belum menyingkirkan epilepsi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat petugas memasang kabel-kabel kecil di kepala, pemeriksaan elektroensefalografi atau electroencephalography (EEG) mungkin terlihat rumit. Faktanya, biasanya pasien cuma perlu duduk atau berbaring dengan nyaman.

Elektroda yang menempel bertugas menangkap aktivitas listrik otak, lalu mengirimkan rekamannya ke komputer. Pemeriksaan ini umumnya tidak sakit.

EEG sering digunakan ketika dokter mencurigai epilepsi, tetapi kegunaannya lebih luas. Berikut hal-hal yang perlu diketahui sebelum menjalani pemeriksaan EEG.

  1. 1. EEG menunjukkan aktivitas listrik

    EEG pemeriksaan untuk merekam aktivitas listrik otak. Hasil rekamannya disebut elektroensefalogram. Sinyal ditampilkan sebagai pola gelombang yang berubah ketika seseorang terjaga, mengantuk, atau tidur.

    Berbeda dengan pemindaian otak, EEG memberikan informasi mengenai aktivitas listriknya, bukan gambar struktur otak. Pada EEG standar, elektroda ditempelkan di permukaan kulit kepala, tanpa operasi atau mencukur rambut.

  2. 2. Paling sering digunakan untuk membantu menilai epilepsi

    Dokter dapat meminta EEG setelah seseorang mengalami kejang atau kejadian yang dicurigai sebagai kejang. Rekaman ini membantu mencari pola aktivitas otak yang mendukung diagnosis epilepsi.

    EEG juga dapat membantu evaluasi kondisi tertentu, seperti peradangan otak dan gangguan tidur. Pada pasien dengan koma atau cedera otak, pemeriksaan ini dapat digunakan untuk memantau aktivitas otak sesuai kebutuhan klinis.

  3. 3. Selama pemeriksaan, pasien mungkin diminta bernapas dalam

    Pasien berbaring di ranjang laboratorium dengan elektroda di kepala, bersiap menjalani perekaman EEG bersama petugas medis.
    ilustrasi pasien siap untuk perekaman EEG di laboratorium (commons.wikimedia.org/Petter Kallioinen)

    Petugas mengukur kepala, membersihkan titik pemasangan, kemudian menempelkan elektroda menggunakan pasta khusus. Pasien diminta rileks dan sesekali membuka atau menutup mata. Kunjungan EEG rutin sering memerlukan waktu sekitar satu jam, termasuk pemasangan alat dan perekaman.

    Petugas juga dapat meminta pasien bernapas dalam selama beberapa menit atau melihat cahaya berkedip. Langkah ini membantu menilai respons aktivitas otak dan dilakukan dengan pemantauan.

    Tidak semua pasien memerlukan seluruh tahapan tersebut.

  4. 4. Ada pemeriksaan saat tidur dan rekaman yang dibawa pulang

    Selain EEG rutin, dokter dapat memilih:

    • EEG tidur: merekam aktivitas otak ketika pasien tidur.
    • EEG setelah pembatasan tidur: pasien diminta mengurangi waktu tidur sesuai instruksi sebelum pemeriksaan.
    • EEG ambulatory: menggunakan alat portabel untuk merekam aktivitas otak selama kegiatan sehari-hari.
    • Video EEG: merekam aktivitas otak sekaligus perilaku pasien melalui video, sehingga keduanya dapat dibandingkan. Pemantauan tertentu berlangsung beberapa hari di rumah sakit.

  5. 5. Hasil normal belum menyingkirkan epilepsi

    Aktivitas yang mendukung diagnosis epilepsi tidak selalu muncul selama rekaman singkat. Karena itu, EEG normal belum cukup untuk menyatakan seseorang tidak memiliki epilepsi.

    Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan ulang atau pemantauan lebih lama berdasarkan gejalanya.

    Studi dalam jurnal Neurology pada 2016 menganalisis EEG dari 1.803 pasien. Dari 426 pasien yang memiliki pola listrik terkait epilepsi di antara kejang, 81 orang (sekitar 19 persen) baru menunjukkan pola tersebut setelah 30 menit pertama. Temuan ini menjelaskan mengapa memperpanjang rekaman dapat memberikan informasi tambahan.

  6. 6. Persiapannya sederhana

    Seorang peserta eksperimen EEG mengenakan penutup kepala dengan elektroda sambil duduk untuk merekam aktivitas otak.
    Seseorang berpartisipasi dalam ekperimen EEG (commons.wikimedia.org/Flexagoon)

    Datanglah ke tempat pemeriksaan dengan rambut bersih dan kering, tanpa gel, wax, atau produk penata rambut.

    Untuk EEG rutin, pasien biasanya dapat makan seperti biasa dan tetap menggunakan obat yang diresepkan.

    Jangan menghentikan obat sendiri. Sampaikan daftar obat maupun suplemen yang sedang digunakan kepada petugas kesehatan dan ikuti arahan khusus jika ada.

    Apabila diminta mengurangi tidur, ikuti petunjuk yang diberikan dan minta tolong orang lain untuk mengantar pulang. Jangan mengemudi setelah EEG dengan pembatasan tidur.

  7. 7. Risikonya kecil dan hasilnya perlu dianalisis dokter

    Bernapas dalam dapat menyebabkan pusing sementara. Pada sebagian orang dengan epilepsi, rangsangan cahaya atau perubahan pernapasan dapat memicu kejang, meskipun jarang.

    Petugas terlatih memantau pemeriksaan dan siap menangani keadaan tersebut. Iritasi ringan di lokasi elektroda juga dapat terjadi.

    Setelah EEG rutin, pasien biasanya bisa kembali beraktivitas. Hasilnya tidak selalu langsung tersedia karena rekaman harus dianalisis oleh dokter yang kompeten.

    Dokter kemudian menjelaskan maknanya bersama riwayat keluhan dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan.

    Referensi

    Cleveland Clinic, “Electroencephalogram (EEG),” diakses September 2026.

    North Bristol NHS Trust, “Electroencephalography (EEG),” diakses September 2026.

    National Health Service, “EEG (Electroencephalogram),” diakses September 2026.

    David B. Burkholder et al., “Routine vs Extended Outpatient EEG for the Detection of Interictal Epileptiform Discharges,” Neurology 86, no. 16 (2016): 1524–30, https://doi.org/10.1212/WNL.0000000000002592.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More