Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Musim Kemarau, Kenapa Nyamuk Tetap Merajalela?
Larva nyamuk Culex dalam air. (CDC/James D. Gathany)
  • Kemarau tidak selalu membuat nyamuk berkurang. Di perkotaan, penampungan air rumah tangga dapat menggantikan genangan air hujan sebagai tempat berkembang biak Aedes.

  • Telur Aedes aegypti mampu bertahan dalam kondisi kering dan menetas ketika kembali terkena air.

  • Pencegahan paling efektif bukan sekadar fogging, melainkan mencari, menguras, menyikat, dan menutup tempat penampungan air setiap minggu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat musim kemarau, nyamuk seharusnya ikut berkurang karena makin sedikit air yang tersedia. Namun, di sejumlah rumah, nyamuk justru makin banyak pada pagi atau sore hari.

Nyatanya, meskipun musim hujan umumnya menyediakan lebih banyak tempat berkembang biak, tetapi periode kemarau juga dapat mempertahankan, bahkan meningkatkan, populasi nyamuk tertentu, terutama Aedes aegypti.

Namun, perlu diketahui bahwa bertambahnya jumlah nyamuk saat kemarau dipengaruhi oleh spesies, suhu, kelembapan, ketersediaan air, kondisi lingkungan, dan perilaku manusia.

Air hujan berkurang, tetapi air di sekitar rumah bertambah

Saat pasokan air tidak lancar atau masyarakat khawatir kekurangan air selama kemarau, ember, drum, bak mandi, toren, dan wadah cadangan cenderung diisi lebih banyak atau dibiarkan terisi lebih lama. Bagi nyamuk A. aegypti, wadah seperti ini adalah lingkungan yang disuka. Nyamuk ini menyukai wadah yang berisi air relatif jernih dan berada di dalam atau di sekitar rumah.

Penelitian di enam negara Asia, termasuk di Yogyakarta, menemukan bahwa jentik dan kepompong (pupa) Aedes tetap ditemukan pada musim hujan maupun kemarau. Di lokasi penelitian Indonesia, satu jenis wadah bahkan menghasilkan sekitar 86,7 persen kepompong yang ditemukan selama musim kemarau. Temuan ini menunjukkan bahwa beberapa wadah tertentu dapat mempertahankan sebagian besar populasi nyamuk meskipun hujan jarang turun.

Air yang tersimpan juga lebih stabil. Hujan sangat lebat terkadang justru dapat membilas jentik dari wadah terbuka. Sebaliknya, air di drum, bak, atau ember selama kemarau tidak banyak bergerak sehingga jentik bisa tumbuh tanpa terganggu.

Penelitian lapangan menunjukkan bahwa wadah untuk kebutuhan rumah tangga menjadi tempat produksi nyamuk pada periode yang lebih kering.

Telur nyamuk A. aegypti mampu menghadapi periode kering

Jentik atau telur nyamuk Aedes aegypti (IDN Times/Dhana Kencana)

Kemampuan bertahan hidup A. aegypti tidak hanya bergantung pada nyamuk dewasa. Telurnya juga mampu menghadapi periode kering.

Nyamuk betina biasanya meletakkan telur sedikit di atas permukaan air, menempel kuat pada dinding wadah. Ketika air menguap, telur tidak otomatis mati. Telur bisa tetap berada di sana hingga air kembali naik karena pengisian ulang atau hujan berikutnya.

Dalam sebuah penelitian laboratorium, sekitar 85 persen telur A. aegypti yang dikeringkan selama 21 hari masih dapat menetas setelah terkena air kembali. Telur tersebut mengubah metabolisme lemak dan senyawa tertentu agar mampu bertahan dari kekeringan.

Jadi, membuang air saja belum tentu cukup. Kalau dinding ember atau bak tidak disikat, telur yang melekat dapat tertinggal dan menetas ketika wadah diisi kembali.

Telur Aedes dapat bertahan dalam kondisi kering selama berbulan-bulan, sedangkan proses dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa hanya memerlukan sekitar 7–10 hari dalam kondisi yang mendukung.

Suhu hangat mempercepat siklus, tetapi ada batasnya

Musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia biasanya disertai suhu yang lebih hangat pada siang hari. Dalam rentang yang sesuai, suhu hangat dapat mempercepat perkembangan jentik, meningkatkan aktivitas nyamuk, serta mempersingkat waktu yang dibutuhkan virus dengue untuk berkembang di dalam tubuh nyamuk.

Bukan berarti makin panas makin banyak nyamuk. Suhu yang terlalu tinggi dan udara yang terlalu kering dapat memperpendek usia nyamuk dewasa. Sebaliknya, kamar mandi, area di bawah furnitur, tumpukan pakaian, tanaman, dan sudut rumah yang teduh dapat menyediakan iklim mikro yang lebih lembap dan melindungi nyamuk dari panas ekstrem.

Dengan kata lain, panas menciptakan keuntungan bagi nyamuk selama suhunya masih berada dalam rentang yang sesuai. Dampaknya juga bergantung pada kelembapan, variasi suhu harian, akses terhadap air, kepadatan penduduk, dan kondisi tempat tinggal.

Lonjakan penyakit akibat nyamuk kini menjadi masalah global

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 14,6 juta kasus dengue dan lebih dari 12.000 kematian pada 2024—angka tertinggi yang pernah dilaporkan dalam satu tahun.

Pada Januari hingga Juli 2025, lebih dari 4 juta kasus tambahan dilaporkan dari 97 negara.

Indonesia termasuk negara dengan beban tinggi. Sepanjang 2024, lebih dari 257.000 kasus dengue dan 1.400 kematian dilaporkan di Indonesia. Hampir seluruh provinsi terdampak.

Tidak cuma dengue, WHO juga melaporkan 445.271 kasus suspek dan terkonfirmasi chikungunya dari 40 negara sepanjang Januari–September 2025.

Di Indonesia, terdapat 3.608 kasus terkonfirmasi hingga 31 Juli 2025, dibanding 1.399 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya.

WHO menyebut adanya risiko peningkatan kasus selama peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.

Lonjakan global tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh kemarau. Perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, urbanisasi yang tidak terencana, penyimpanan air, mobilitas manusia, serta perluasan wilayah hidup A. aegypti dan Aedes albopictus saling meningkatkan risiko.

Sebuah penelitian memperkirakan jumlah manusia yang tinggal di wilayah dengan kondisi iklim sangat sesuai untuk penularan dengue bertambah sekitar 2,5 miliar orang antara awal 1980-an dan awal 2020-an.

Jangan hanya mencari genangan besar

ilustrasi telur nyamuk (pexels.com/Helena Jankovičová Kováčová)

Ketika populasi nyamuk meningkat saat musim kemarau, pemeriksaan sebaiknya dimulai dari wadah yang digunakan sehari-hari.

Setidaknya seminggu sekali, kosongkan dan sikat dinding bak mandi, ember, drum, serta wadah penyimpanan air.

Tutup toren dan wadah cadangan dengan penutup yang benar-benar rapat.

Periksa tatakan pot, penampung air dispenser dan lemari es, mangkuk minum hewan, vas, talang air, ban bekas, lipatan terpal, serta barang kecil yang dapat menahan sedikit air.

Sikat dinding wadah karena telur dapat melekat kuat di dekat garis permukaan air. Sekadar membuang air atau menambahkan air baru tidak selalu menghilangkannya. WHO menganjurkan agar wadah penyimpanan air ditutup, dikosongkan, dan dibersihkan setiap minggu.

Perlindungan dari gigitan juga diperlukan, terutama pada siang hari ketika nyamuk penular dengue aktif.

Gunakan losion antinyamuk yang mengandung DEET, picaridin, atau IR3535 sesuai petunjuk, pasang kasa pada ventilasi, dan gunakan pakaian yang menutupi kulit ketika kasus sedang meningkat di lingkungan sekitar.

Jangan cuma mengandalkan fogging. Pengasapan hanya menargetkan nyamuk dewasa dalam kondisi tertentu dan tidak menghilangkan telur serta jentik di dalam wadah.

Musim kemarau bukan berarti rumah aman dari nyamuk. Air masih dapat tersedia dalam ember, bak, pot, dan tempat lain yang jarang diperiksa, dan itu dapat menjadi sarang nyamuk.

Jika muncul demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri tubuh, mual, atau ruam, segera temui dokter. Nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, napas cepat, kulit pucat dan dingin, atau rasa lemas setelah demam turun merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Referensi

Khin Thet Wai et al., “Estimating Dengue Vector Abundance in the Wet and Dry Season: Implications for Targeted Vector Control in Urban and Peri-Urban Asia,” Pathogens and Global Health 106, no. 8 (2012): 436–45, https://doi.org/10.1179/2047773212Y.0000000063.

Anna M. Stewart Ibarra et al., “Dengue Vector Dynamics (Aedes aegypti) Influenced by Climate and Social Factors in Ecuador: Implications for Targeted Control,” PLOS ONE 8, no. 11 (2013): e78263, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0078263.

Anjana Prasad et al., “Eggs of the Mosquito Aedes aegypti Survive Desiccation by Rewiring Their Polyamine and Lipid Metabolism,” PLOS Biology 21, no. 10 (2023): e3002342, https://doi.org/10.1371/journal.pbio.3002342.

Taishi Nakase et al., “Population at Risk of Dengue Virus Transmission Has Increased Due to Coupled Climate Factors and Population Growth,” Communications Earth & Environment 5 (2024): 475, https://doi.org/10.1038/s43247-024-01639-6.

World Health Organization, “Dengue,” diakses Juli 2026.

World Health Organization Indonesia, “Shaping Indonesia’s Path towards Zero Dengue Deaths by 2030,” diakses Juli 2026.

World Health Organization, “Chikungunya Virus Disease—Global Situation,” diakses Juli 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Menkes: Dibanding Fogging, PSN 3M Plus Lebih Utama Cegah DBD,” diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article