ilustrasi telur nyamuk (pexels.com/Helena Jankovičová Kováčová)
Ketika populasi nyamuk meningkat saat musim kemarau, pemeriksaan sebaiknya dimulai dari wadah yang digunakan sehari-hari.
Setidaknya seminggu sekali, kosongkan dan sikat dinding bak mandi, ember, drum, serta wadah penyimpanan air.
Tutup toren dan wadah cadangan dengan penutup yang benar-benar rapat.
Periksa tatakan pot, penampung air dispenser dan lemari es, mangkuk minum hewan, vas, talang air, ban bekas, lipatan terpal, serta barang kecil yang dapat menahan sedikit air.
Sikat dinding wadah karena telur dapat melekat kuat di dekat garis permukaan air. Sekadar membuang air atau menambahkan air baru tidak selalu menghilangkannya. WHO menganjurkan agar wadah penyimpanan air ditutup, dikosongkan, dan dibersihkan setiap minggu.
Perlindungan dari gigitan juga diperlukan, terutama pada siang hari ketika nyamuk penular dengue aktif.
Gunakan losion antinyamuk yang mengandung DEET, picaridin, atau IR3535 sesuai petunjuk, pasang kasa pada ventilasi, dan gunakan pakaian yang menutupi kulit ketika kasus sedang meningkat di lingkungan sekitar.
Jangan cuma mengandalkan fogging. Pengasapan hanya menargetkan nyamuk dewasa dalam kondisi tertentu dan tidak menghilangkan telur serta jentik di dalam wadah.
Musim kemarau bukan berarti rumah aman dari nyamuk. Air masih dapat tersedia dalam ember, bak, pot, dan tempat lain yang jarang diperiksa, dan itu dapat menjadi sarang nyamuk.
Jika muncul demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri tubuh, mual, atau ruam, segera temui dokter. Nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, napas cepat, kulit pucat dan dingin, atau rasa lemas setelah demam turun merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Referensi
Khin Thet Wai et al., “Estimating Dengue Vector Abundance in the Wet and Dry Season: Implications for Targeted Vector Control in Urban and Peri-Urban Asia,” Pathogens and Global Health 106, no. 8 (2012): 436–45, https://doi.org/10.1179/2047773212Y.0000000063.
Anna M. Stewart Ibarra et al., “Dengue Vector Dynamics (Aedes aegypti) Influenced by Climate and Social Factors in Ecuador: Implications for Targeted Control,” PLOS ONE 8, no. 11 (2013): e78263, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0078263.
Anjana Prasad et al., “Eggs of the Mosquito Aedes aegypti Survive Desiccation by Rewiring Their Polyamine and Lipid Metabolism,” PLOS Biology 21, no. 10 (2023): e3002342, https://doi.org/10.1371/journal.pbio.3002342.
Taishi Nakase et al., “Population at Risk of Dengue Virus Transmission Has Increased Due to Coupled Climate Factors and Population Growth,” Communications Earth & Environment 5 (2024): 475, https://doi.org/10.1038/s43247-024-01639-6.
World Health Organization, “Dengue,” diakses Juli 2026.
World Health Organization Indonesia, “Shaping Indonesia’s Path towards Zero Dengue Deaths by 2030,” diakses Juli 2026.
World Health Organization, “Chikungunya Virus Disease—Global Situation,” diakses Juli 2026.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Menkes: Dibanding Fogging, PSN 3M Plus Lebih Utama Cegah DBD,” diakses Juli 2026.