Jika bintik hanya berupa beberapa bentol yang gatal, muncul segera setelah berada di tempat bernyamuk, dan tidak disertai demam, ini kemungkinan adalah reaksi gigitan.
Bersihkan kulit dengan sabun dan air, kompres dingin selama sekitar 10 menit, serta hindari menggaruk agar kulit tidak terinfeksi. Krim antigatal dapat digunakan sesuai petunjuk pada kemasan.
Namun, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika bintik atau ruam muncul bersama demam tinggi, sakit kepala berat, nyeri belakang mata, nyeri otot atau sendi, mual, muntah, atau sangat lemas. Tampilan kulit saja tidak dapat memastikan apakah seseorang mengalami demam berdarah, chikungunya, infeksi virus lain, alergi, atau penyakit kulit.
Sambil menunggu pemeriksaan, penuhi kebutuhan cairan dan gunakan parasetamol sesuai aturan jika diperlukan. Hindari aspirin, ibuprofen, asam mefenamat, dan obat antiinflamasi nonsteroid lainnya ketika demam berdarah dicurigai karena dapat meningkatkan risiko perdarahan.
Waspadai kondisi yang memburuk justru saat demam mulai turun. Nyeri perut berat, muntah berulang, perdarahan hidung atau gusi, muntah darah, tinja berdarah atau hitam, sulit minum, sangat mengantuk atau gelisah, kulit pucat dan dingin, napas cepat, serta buang air kecil yang berkurang membutuhkan pertolongan medis segera. Fase kritis demam berdarah sering dimulai ketika suhu tubuh turun dan dapat berlangsung selama 24–48 jam.
Itulah perbedaan bintik merah DBD dan gigitan nyamuk. Namun, pada DBD, jangan cuma memperhatikan bintik-bintik. Yang lebih penting adalah demam, perjalanan gejala, kemampuan minum, tanda perdarahan, dan perubahan kondisi tubuh. Jangan menunggu ruam muncul sebelum mencari pertolongan.
Referensi
Kementerian Kesehatan RI, "Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/9845/2020 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Infeksi Dengue pada Dewasa (Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020)", 11–18, 38–39, diakses Juli 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Features of Dengue,” diakses Juli 2026.
Emy Abi Thomas, Mary John, dan Bimal Kanish, “Mucocutaneous Manifestations of Dengue Fever,” Indian Journal of Dermatology 55, no. 1 (2010): 79–85, https://doi.org/10.4103/0019-5154.60359.
Leera Kittigul, Piyamard Pitakarnjanakul, Dusit Sujirarat, dan Kanokrat Siripanichgon, “The Differences of Clinical Manifestations and Laboratory Findings in Children and Adults with Dengue Virus Infection,” Journal of Clinical Virology 39, no. 2 (2007): 76–81, https://doi.org/10.1016/j.jcv.2007.04.006.
Centers for Disease Control and Prevention, “About Mosquito Bites,” diakses Juli 2026.
World Health Organization, “Dengue,” diakses Juli 2026.
Antonio Jose Grande, Hamish Reid, Emma Thomas, Charlie Foster, dan Thomas C. Darton, “Tourniquet Test for Dengue Diagnosis: Systematic Review and Meta-analysis of Diagnostic Test Accuracy,” PLOS Neglected Tropical Diseases 10, no. 8 (2016): e0004888, https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0004888.
Centers for Disease Control and Prevention, “Symptoms of Dengue and Testing,” diakses Juli 2026.