Babah Alun Disikut, Ihram Hilang, tapi Sukses Cium Hajar Aswad

- Babah Alun, anggota Amirul Hajj dan pengusaha nasional, membagikan pengalaman spiritualnya saat berhasil mencium Hajar Aswad setelah 42 tahun berlalu di Masjidil Haram.
- Dalam perjuangan mendekati Hajar Aswad, Babah Alun sempat disikut jemaah lain hingga kehilangan kain ihram bagian atas, namun tetap bersyukur karena niat sucinya tercapai.
- Ia menutup kisahnya dengan pesan menyentuh bagi petugas haji Indonesia agar bangga menjalankan tugas mulia yang bernilai ibadah tinggi dan mencerminkan kehormatan bangsa.
Makkah, IDN Times — Menjalankan tugas negara sebagai anggota Amirul Hajj tidak menyurutkan semangat tokoh pengusaha nasional, M. Yusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun, untuk meresapi pengalaman spiritual di Tanah Suci. Sebuah kisah haru dan penuh perjuangan dialaminya saat berhasil mencium Hajar Aswad di Masjidil Haram, sebuah momen yang kembali ia rasakan setelah 42 tahun berlalu.
Pengalaman luar biasa ini ia bagikan dalam sebuah wawancara santai di Makkah, Sabtu (23/05/2026).
1. Tekad sejak niat

Kisah ini bermula ketika Babah Alun bersama teman-temannya memutuskan untuk pergi ke Masjidil Haram menjelang waktu Subuh. Ia mengajak rombongannya untuk mengenakan kain ihram meski hanya untuk berniat sunah dan melaksanakan salat Subuh, dengan satu doa rahasia di dalam hatinya: agar Allah meridainya mencium Hajar Aswad.
Keajaiban kecil langsung ia rasakan setibanya di depan Ka'bah. Babah Alun awalnya mendapatkan posisi di saf (barisan) kedua. Namun, tiba-tiba ada dua orang jemaah di depannya yang memanggil dan menawarkan untuk bertukar tempat.
"Saya bilang, 'Ya Allah, kok baik amat ini, Allah kasih saya langsung saf pertama aja udah luar biasa'," kenangnya penuh syukur.
Mendapat kemudahan itu, ia pun memanjatkan doa tambahan agar diberi kekuatan dan kesempatan mencium Hajar Aswad di tengah lautan jutaan manusia. "Dulu saya waktu 42 tahun yang lalu, saya sempat mencium Hajar Aswad. Saya bilang ini kali saya lihat orang jutaan itu penuh sekali, apa mungkin? Tapi saya bilang, Ya Allah, tidak ada yang tidak mungkin kalau Engkau berkenan," tuturnya.
2. Disikut hingga Kain Ihram Hilang

Usai melaksanakan salat Subuh dan salat jenazah, perjuangan fisik yang sesungguhnya pun dimulai. Babah Alun bersama timnya saling bantu untuk merangsek maju mendekati sudut Hajar Aswad.
Ia menceritakan betapa dahsyatnya dorongan dari jemaah lain yang bertubuh jauh lebih besar dari berbagai negara. "Itu kita digoncang ke kanan ke kiri... sama orang-orang Afrika, Nigeria, Pakistan yang gede-gede badannya," ceritanya.
Dalam desakan tersebut, ia bahkan sempat terkena sikut jemaah lain tepat di bagian dada yang terpaksa ia tahan dengan telapak tangannya. Namun, dengan bantuan rekan-rekannya yang membukakan jalan dan niat yang kuat, Babah Alun akhirnya berhasil mencium batu dari surga tersebut. Setelah berhasil, ia tidak langsung pergi, melainkan menahan dorongan arus jemaah (bertindak seperti penahan air bah) agar teman-temannya yang lain juga bisa mendapat giliran.
Saking kerasnya perjuangan di pusaran Hajar Aswad, Babah Alun sampai kehilangan kain ihram bagian atasnya. "Kain ihram saya yang atasnya hilang. Alhamdulillah Ya Allah, untung hilang ihram, bukan hilang nyawa," selorohnya sambil tertawa.
3. Kebanggaan Indonesia

Setelah perjuangan yang menguras tenaga dari pukul 2 dini hari hingga pukul 8 pagi, di sanalah ia melihat langsung kiprah para petugas haji Indonesia di lapangan.
Menutup kisahnya, pria yang diangkat menjadi anggota Amirul Hajj ini menitipkan pesan yang sangat emosional dan membakar semangat bagi seluruh petugas haji yang sedang bertugas. Ia mengingatkan bahwa kerja keras mereka memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi, bahkan melebihi ibadah jemaah itu sendiri.
"Petugas-petugas ini bukan hanya pasukannya Indonesia, tetapi pasukan Allah yang membantu menjaga. Jadi jangan kira sedikitpun bantuan kalian itu tidak ada artinya. Itu pahalanya berlipat ganda daripada jemaahnya sendiri," pesan Babah Alun.
Babah Alun pun mengutip ajaran dari almarhum Buya Hamka yang selalu menginspirasinya, dan meminta petugas untuk bangga dengan tugas mulia yang sedang mereka emban. "Berbanggalah kalian jadi petugas karena pahala kalian lebih dari kami-kami yang jemaah biasa. Tunjukkan adab dan tata krama kita sebagai bangsa karena itu mencerminkan kebesaran nama Indonesia," pungkasnya.

















