Bandar Besar TPPO Masih Sulit Terungkap, Ini Tantangannya

- Pengungkapan TPPO kerap menjerat perekrut dan pelaku lapangan, sementara bandar besar serta tokoh penting sindikat sulit dijangkau.
- Jaringan perdagangan manusia dapat melibatkan negara asal korban, jalur lintasan, dan negara tujuan.
- Andi Ardian menilai mekanisme whistleblower LPSK dapat membuka peluang informasi tentang jaringan TPPO.
Jakarta, IDN Times - Pengungkapan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) masih menghadapi tantangan dalam menjangkau aktor utama di balik sindikat. Penindakan kerap berhenti pada perekrut atau pelaku yang terlibat langsung, sementara bandar besar dan tokoh penting di balik jaringan masih sulit diungkap.
Koordinator Nasional Ending Sexual Exploitation of Children (ECPAT) Indonesia, Andi Ardian mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam pemberantasan TPPO.
"Ketika kasusnya terungkap itu biasanya akan pada layer-layer yang masih rendah antara menengah dan ke atas itu sulit untuk bisa diungkap gitu. Jadi ini jadi PR besar sebenarnya sehingga ketika proses penangkapan itu yang mungkin terhukum itu ya orang-orang yang merekrut atau orang-orang yang terlibat secara langsung ya. Tapi bandar besarnya atau tokoh-tokoh penting di belakang dari sindikasi pelaku kejahatan trafficking ini itu yang memang banyak belum terungkap," ujarnya dalam Webinar: Waspada TPPO di Era Digital: Kenali Modusnya, Lindungi Diri, Selamatkan Sesama, Kamis (13/8/2026).
1. Penindakan sering berhenti di level perekrut

Koordinator Nasional Ending Sexual Exploitation of Children (ECPAT) Indonesia, Andi Ardian dalam Webinar: Waspada TPPO di Era Digital: Kenali Modusnya, Lindungi Diri, Selamatkan Sesama, Kamis (13/8/2026) (Youtube/Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta) Menurut Andi, pelaku yang tertangkap dalam kasus TPPO umumnya merupakan pihak yang terlibat langsung dalam proses perekrutan atau operasional di lapangan. Sementara itu, aktor yang berada di level lebih tinggi masih sulit dijangkau.
Kondisi tersebut membuat pengungkapan perkara belum selalu sampai kepada pihak yang mengendalikan jaringan perdagangan manusia.
2. Berbagai jaringan TPPO lintas negara

Kemensos Rehabilitasi 7 PMI Korban TPPO di Turki/dok Kemensos Maka persoalan TPPO juga tidak berhenti pada proses perekrutan. Jaringan perdagangan manusia dapat melibatkan banyak negara, baik sebagai daerah asal korban, jalur lintasan maupun tujuan.
"Jadi situasi ini bukan hanya ada di Indonesia, tapi bisa dilihat dari sebuah garis-garis ini adalah sebuah keterhubungan antara negara-negara di seluruh dunia yang bisa saja itu adalah sebuah tempat di mana korban-korban berasal ataupun jalur atau lintasan dari perdagangan manusia itu ataupun tempat tujuan dari perdagangan manusia ya. Jadi tidak ada satu negara pun di sini yang dikatakan bebas," ujarnya.
3. Whistleblower bisa bantu bongkar aktor utama

Pelaku TPPO ditangkap Polresta Bandara Soekarno-Hatta (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti) Salah satu cara yang dinilai dapat membantu pengungkapan jaringan adalah mekanisme whistleblower yang dibuat Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
"Mekanisme whistle blower ini adalah mekanisme yang dibuat oleh LPSK, Lembaga Perlindungan, Saksi dan Korban di mana orang-orang yang tadinya menjadi pelaku itu akan mendapatkan perlindungan sebagai orang yang melaporkan tindak kejahatan ini. Nah ini sebenarnya salah satu jalan untuk pelaku bisa berkontribusi untuk mengembalikan situasinya bahwa dia sudah sadar, tobat, dan ingin berkontribusi untuk memperbaiki kesalahannya," kata dia.
Menurut Andi, mekanisme tersebut dapat membuka peluang bagi pelaku yang ingin memperbaiki kesalahan untuk memberikan informasi terkait jaringan TPPO.



















