BMKG: Cuaca Panas Dipicu Radiasi Matahari, Diperparah Urban Heat Island

BMKG menyebut cuaca panas dipicu kombinasi suhu, kelembapan, radiasi matahari, dan pantulan radiasi bumi.
Urban heat island diperparah dominasi beton serta minimnya vegetasi di kawasan padat penduduk.
Bangunan hijau, pendinginan pasif, dan ruang terbuka hijau dinilai penting untuk mengurangi panas.
Jakarta, IDN Times - Perwakilan Direktorat Layanan Iklim BMKG, I Dewa Gede Aryaputra, mengatakan, cuaca panas yang terjadi belakangan ini, termasuk di wilayah Jakarta dipicu oleh beberapa hal.
Mulai dari kombinasi suhu udara, tingkat kelembapan relatif, radiasi matahari di siang hari, serta pantulan radiasi bumi pada malam hari.
Dia mengatakan, fenomena urban heat island memperparah kondisi tersebut akibat dominasi permukaan beton dan minimnya vegetasi alami di kawasan padat penduduk.
"Jadi pada siang hari matahari memanaskan permukaan bumi, dan memancarkan panas, pada malam hari panas itu dilepaskan kembali ke angkasa karena itu radiasi dari bumi," kata I Dewa Gede Aryaputra di acara Dialog Diseminasi Nasional Riset CLARE Be-Housing Indonesia yang diselenggarakan Rujak Center for Urban Studies, Yayasan Kota Kita, dan Arkom Indonesia, di Jakarta belum lama ini.
1. Pentingnya bangunan hijau

Konsep Green Building Jakarta Internasional Stadium, Sunter, Jakarta Utara (Dok. Humas PT JakPro) Terkait hal tersebut, Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU), Diana Kusumastuti, menilai pentingnya penerapan prinsip bangunan hijau atau green building. Hal tersebut untuk meredam suhu panas yang masuk ke dalam bangunan hunian warga.
Dia mengatakan, pendekatan passive cooling atau pendinginan pasif sangat relevan untuk menekan kebutuhan energi. Hal tersebut sekaligus untuk meningkatkan kenyamanan termal tanpa harus bergantung penuh pada pendingin mekanis.
"Nah, salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mengurangi panas pada bangunan adalah passive cooling atau pendinginan pasif," kata Diana.
2. RTH juga penting untuk tekan dampak urban heat island

Taman kota di Kambang Iwak Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Dia juga menjelaskan pentingnya pengoptimalan ruang terbuka hijau (RTH) dan vegetasi dalam penataan kawasan perkotaan untuk menekan dampak urban heat island.
Dia mengatakan, pengelolaan material lokal serta ramah lingkungan harus bisa dioptimalisasikan pada ruang terbuka hijau di perkotaan.
Langkah ini diintegrasikan melalui pendekatan iklim mikro dan ekosistem, yaitu melalui vegetasi, peneduhan, dan ruang terbuka hijau untuk mengurangi efek panas.
"Kawasan hijau bukan hanya ruang terbuka, tapi juga bagian dari infrastruktur yang mendukung ketahanan iklim dan kualitas hidup masyarakat," ujarnya.
Oleh karena itu, penerapan prinsip bangunan gedung hijau dan kawasan hijau diharapkan dapat terintegrasi secara konsisten mulai dari tingkat rumah, komunitas, hingga seluruh kawasan perkotaan.
3. Suhu panas tingkatkan risiko kelelahan

Suasana Jakarta di tengah cuaca panas Jakarta, Minggu (1/11/2026). (IDN Times/Deti Mega Purnamasari) Sementara, Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengatakan, paparan panas ekstrem yang dirasakan pekerja luar ruang seperti pengemudi ojek online dan buruh bangunan dapat mencapai suhu yang jauh lebih tinggi daripada indeks resmi.
Dia mengatakan, kondisi ini meningkatkan risiko kelelahan panas hingga heat stroke, terutama bagi kelompok rentan yang tinggal di permukiman padat dengan ventilasi minim.
"Nah, itu biasanya apa yang terjadi, biasanya dari risikonya panas, kelelahan panas besar, dan kemungkinan bisa terjadi juga kalau ada orang yang sakit dia bisa heatstroke, gitu," kata dia.




















