Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BNPB Akui Bantuan Belum Merata, Banyak Titik Pengungsian Masih Mandiri

BNPB Akui Bantuan Belum Merata, Banyak Titik Pengungsian Masih Mandiri
Suasana visual keadaan udara rumah-rumah yang rusak akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). (Dok. BNPB)
  • BNPB mengakui bantuan gempa di tujuh kabupaten Flores belum merata karena banyak pengungsian mandiri. Warga didorong ke pengungsian terpusat, sementara satgas lokal menyalurkan logistik.
  • Distribusi logistik dilakukan memakai kendaraan, sepeda motor, hingga berjalan kaki ke lokasi terpencil seperti Pulau Palue. Pemda juga memperbaiki tenda, alas tidur, matras, dan kebutuhan pengungsi.
  • Korban meninggal mencapai 103 jiwa per 25 Agustus 2026, terbanyak di Manggarai. Sejak gempa utama 15 Agustus, tercatat 7.029 gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakui distribusi bantuan kepada korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) belum merata. Salah satu penyebabnya lantaran banyaknya titik pengungsian mandiri yang didirikan warga. Itu sebabnya masih muncul keluhan warga yang belum memperoleh bantuan atau logistik.

"Kami akui masih banyak keluhan dan pertanyaan soal adanya titik-titik pengungsian mandiri para pengungsi yang, karena takut adanya gempa susulan, tersebar di seluruh tujuh kabupaten Flores, mereka mengaku belum mendapat bantuan," ungkap Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Suharyanto seperti dikutip dari keterangan tertulis BNPB, Rabu (26/8/2026).

Jenderal bintang tiga itu menegaskan isu adanya tsunami susulan tidaklah benar. Sebab, berdasarkan laporan yang ia terima setiap pagi tidak ada laporan tersebut. Sebagai antisipasi, Suharyanto mendorong masyarakat agar mengungsi ke titik pengungsian terpusat yang sudah disiapkan pemerintah di setiap desa, kecamatan, dan kabupaten.

Meski begitu, Suharyanto memahami masyarakat tak bisa dipaksa harus mengungsi ke lokasi yang disediakan pemerintah. Bila mereka memilih bertahan, BNPB membentuk satgas-satgas kabupaten, kecamatan, dan desa.

"Di posko-posko di tingkat kabupaten atau kota inilah yang mendistribusikan kebutuhan logistik masyarakat terdampak, baik yang bersifat komunal maupun yang bersifat orang per orang, keluarga per keluarga atau per kelompok masyarakat kecil," katanya.

  1. 1. Pendistribusian logistik di awal gempa dilakukan dengan jalan kaki

    BNPB Akui Bantuan Belum Merata, Banyak Titik Pengungsian Masih Mandiri
    BNPB akui pendistribusian bantuan atau logistik bagi korban gempa NTT belum merata. (Tangkapan layar YouTube BNPB)

    Sementara, pemda memperbaiki titik pengungsian mandiri, baik tenda, alas tidur, matras hingga menyalurkan kebutuhan logistik.

    "Ada armada di tingkat kabupaten baik menggunakan roda empat, pick up kecil, sepeda motor, bahkan dengan berjalan kaki," ungkap Suharyanto.

    Salah satu contoh dari pendistribusian logistik ke lokasi terpencil bisa dilihat di Pulau Palue. Di awal terjadinya gempa, akses menuju ke sana tak bisa dilewati dengan menggunakan roda empat dan roda dua.

    "Sehingga kami menyalurkan bantuan dengan cara berjalan kaki," ujar Suharyanto.

  2. 2. Jumlah korban meninggal bertambah menjadi 103 jiwa

    BNPB Akui Bantuan Belum Merata, Banyak Titik Pengungsian Masih Mandiri
    Data korban meninggal dunia akibat gempa NTT per Selasa, 25 Agustus 2026. (Tangkapan layar YouTube BNPB)

    Sementara, jumlah korban jiwa yang meninggal dunia terus bertambah. Hingga Selasa, 25 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia mencapai 103 jiwa. Bertambah tiga korban meninggal dibandingkan Senin lalu, 24 Agustus 2026.

    "Kami mencatat ada penambahan tiga korban meninggal menjadi 103 untuk hari Selasa ini. Kami tetap menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya untuk keluarga, tetangga, kenalan dan handai taulan," ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB pada Selasa, 25 Agustus 2026.

    Ia merinci korban meninggal terbesar ada di Kabupaten Manggarai sebanyak 41 jiwa, kemudian disusul Kabupaten Manggarai Timur 34 jiwa, Nagekeo mencapai 13 jiwa. Kemudian, ada pula korban meninggal di Kabupaten Sikka sebanyak 6 jiwa, Kabupaten Ngada 5 jiwa, Ende dan Manggarai Barat masing-masing 3 jiwa dan 1 jiwa.

    BNPB juga mencatat mayoritas korban meninggal merupakan perempuan yakni sebesar 55 persen. Sedangkan, dari kelompok umur, BNPB mencatat lansia jadi korban paling banyak.

  3. 3. Sudah ada 7.029 gempa susulan sejak gempa utama pada 15 Agustus 2026

    BNPB Akui Bantuan Belum Merata, Banyak Titik Pengungsian Masih Mandiri
    Kondisi Puskesmas di Manggarai usai gempa NTT, Minggu (16/8/2026). (IDN Times Dini Suciatiningrum)

    BNPB juga mengutip data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebut sejak gempa utama pada 15 Agustus 2026, sudah ada 7.029 gempa susulan dengan magnitude terbesar mencapai 6,2. Magnitude terkecil 1,1.

    "Dari kemarin hingga hari ini sudah ada 141 kali gempa yang dirasakan oleh masyarakat," kata Berton.

    Berton mengatakan gempa susulan akan terus terjadi hingga empat minggu dari gempa utama terjadi sejak 15 Agustus 2026 lalu.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More