Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BNPB Bagikan 5 Langkah Jaga Produksi Pertanian Selama Kemarau

2 min read
BNPB Bagikan 5 Langkah Jaga Produksi Pertanian Selama Kemarau
Ilustrasi - Petani nilam di Sumatra Utara (IDN Times/Prayugo Utomo)
  • BNPB mengingatkan kemarau September 2026 mengancam ketersediaan air dan produksi pangan, sehingga diperlukan antisipasi untuk menjaga pasokan air serta produktivitas pertanian.
  • Ketersediaan pangan dinilai cukup hingga 2026, didukung proyeksi produksi beras 2026/2027 sebesar 38,6 juta ton, stok Bulog 4,66 ton, dan swasembada delapan komoditas.
  • Langkah antisipasi mencakup pemetaan rawan kekeringan, optimalisasi irigasi, percepatan tanam, penyesuaian pola tanam terhadap cuaca, serta koordinasi antarinstansi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan ancaman musim kemarau terhadap ketersediaan air dan produksi pangan nasional. Berkurangnya curah hujan saat ini, tentunya memerlukan langkah antisipasi untuk menjaga pasokan air, sekaligus upaya mempertahankan produktivitas pertanian.

Di tengah ancaman kekeringan, produksi beras Indonesia 2026/2027 diperkirakan mencapai 38, 6 juta ton. Sementara, beras Bulog mencapai 4,66 ton dan swasembada 8 komoditas pangan turut mendukung kondisi ketersediaan pangan di Indonesia yang dinilai cukup dan aman hingga akhir 2026.

Pelaksana Tugas (Plt.) Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers perkembangan harian penanganan bencana karhutla di Indonesia, Selasa, 15 September 2026.

Berikut sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak kemarau, dikutip dari akun Instagram resmi @bnpb_indonesia.

  1. 1. Memetakan wilayah rawan kekeringan

    Kemarau September 2026, BNPB Bagikan 5 Langkah Jaga Produksi Pertanian
    Daerah perbukitan di Kecamatan Gumelar nampak mengalami kekeringan akibat kemarau panjang, Sabtu (13/9/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Pemetaan wilayah menjadi langkah awal untuk menghadapi ancaman kekeringan. Hal ini dilakukan dengan mengidentifikasi wilayah yang rawan mengalami kekeringan, agar langkah antisipasi dapat dilakukan lebih dini.

    Selain pemetaan, penguatan sistem peringatan dini (early warning system) juga diperlukan untuk membantu mengantisipasi dampak kekurangan air terhadap sektor pertanian.

  2. 2. Mengoptimalkan pengelolaan air irigasi

    Saluran irigasi kering membelah lahan padi di Desa Cilongok, Banyumas, saat petani beralih ke sistem SPM hemat air.
    Saluran irigasi yang kering di tengah lahan padi di Desa Cilongok, Banyumas. Kondisi ini mendorong petani beralih ke sistem SPM yang lebih hemat air, Minggu (2/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Penurunan curah hujan membuat pengelolaan air irigasi semakin penting. Pengelolaan dan pengoptimalan jaringan air irigasi dan distribusinya diperlukan agar kebutuhan lahan pertanian tetap terpenuhi.

    BNPB menyebut penggunaan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, dan pompa air dapat dioptimalkan untuk memastikan suplai air ke lahan pertanian tetap tersedia.

  3. 3. Mempercepat penanaman

    Petani saat menanam padi (IDN Times/Ruhaili)
    Petani saat menanam padi (IDN Times/Ruhaili)

    Mendorong gerakan percepatan tanam menjadi salah satu upaya untuk mengoptimalkan ketersediaan air sekaligus menjaga produktivitas pertanian.

    Petani dapat memanfaatkan lahan cetak sawah dan lahan oplah yang sudah siap tanam, untuk meningkatkan luas tanam sekaligus menjaga produktivitas pertanian.

  4. 4. Menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca

    Ilustrasi petani, sedang menanam padi. (IDN Times/Muhammad Nasir)
    Ilustrasi petani, sedang menanam padi. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Selain mempercepat gerakan tanam, petani perlu menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca dan ketersediaan air di masing-masing wilayah.

    Penyesuaian tersebut dilakukan agar kebutuhan air tanaman dapat diselaraskan dengan sumber daya air yang tersedia di masing-masing wilayah selama musim kemarau.

  5. 5. Memperkuat koordinasi antar-instansi

    Kemarau September 2026, BNPB Bagikan 5 Langkah Jaga Produksi Pertanian
    Kekeringan di Kuningan, Jawa Barat (IDN Times/Hakim Baihaqi)

    Menghadapi dampak musim kemarau tidak hanya membutuhkan pengelolaan air dan lahan. Koordinasi dan sinergi antarinstansi juga diperlukan agar langkah penanganan dapat dilakukan secara maksimal.

    Dengan berbagai langkah tersebut, ketersediaan air diharapkan tetap terjaga sehingga keberlanjutan produksi pertanian dapat dipertahankan selama musim kemarau.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More