Siswi Karo yang Diduga Keracunan MBG Alami Rangkaian Serangan Panik

- RSCM menangani siswi asal Karo yang dirujuk ke Jakarta setelah gangguan kesehatan terkait dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis, yang sempat diduga sebagai kehilangan ingatan.
- Pemeriksaan awal sempat mengarah pada kondisi psikotik, yakni kesulitan membedakan realitas dan halusinasi, tetapi temuan RSCM saat ini belum cukup mendukung dugaan tersebut.
- Tim psikiatri menemukan beberapa serangan panik dalam sebulan terakhir, mempertimbangkan gangguan panik akibat tekanan besar, serta akan melanjutkan pendalaman dan pemantauan bersama tenaga medis di Sumatra Utara.
Jakarta, IDN Times - Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengungkapkan kondisi psikiatrik salah satu siswi asal Kabupaten Karo, Sumatra Utara, yang diduga mengalami keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Siswi asal Karo tersebut dirujuk ke Jakarta setelah mengalami gangguan kesehatan yang awalnya diduga kehilangan ingatan.
Dokter Spesialis Psikiatri Anak dan Remaja, RSCM, Prof Tjhin Wiguna, mengatakan, saat dirujuk ke RSCM, terdapat dugaan siswi tersebut mengalami gangguan atau kondisi psikotik. Kondisi psikotik sendiri berkaitan dengan gangguan dalam membedakan realitas dan halusinasi.
"Kalau dari aspek psikiaterinya awalnya diduga kemungkinan ketika dikirim ke kami kemungkinan adanya suatu gangguan atau kondisi psikotik, di mana kondisi anak itu dikatakan tidak bisa membedakan antara realita dan fantasinya," ujar Wiguna di RSCM, Rabu (16/9/2026).
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut oleh tim RSCM, dugaan tersebut dinilai belum cukup didukung oleh kondisi pasien saat ini.
"Namun ketika kami telusuri di sini kelihatannya kondisi itu kurang mendukung sehingga yang pasti mendukung adalah adanya beberapa serangan panik dalam waktu satu bulan ini," katanya.
Berdasarkan temuan tersebut, tim psikiatri RSCM mempertimbangkan kemungkinan adanya gangguan panik. Wiguna menjelaskan, serangan tersebut dapat muncul ketika pasien menghadapi tekanan yang besar.
"Sehingga kita memikirkan apakah ini merupakan suatu gangguan panik sebenarnya. Sehingga ketika dia mengalami tekanan yang besar lalu kepanikan itu muncul. Lalu diduga sebagai sesuatu yang seperti psikotik," ujarnya.
Meski demikian, dia menegaskan kondisi psikiatri pasien masih membutuhkan pendalaman. Menurutnya, pemeriksaan status mental tidak dapat dilakukan secara singkat karena tim RSCM baru pertama kali menangani pasien tersebut.
"Itu yang masih kami tentunya perlu pendalaman karena untuk aspek psikiatrik atau status mental tentunya tidak secepat itu bisa kita telusuri secara mendalam karena kan kita juga baru berkenalan dengan anak ini sebenarnya," katanya.
Dia mengatakan, pemantauan pasien juga akan melibatkan tenaga medis di daerah asalnya. Dengan demikian, ketika pasien kembali ke Sumatra Utara, proses pendampingan dan pemantauan dapat terus dilakukan.
"Kita juga punya teman-teman sebenarnya tentunya di tempat asalnya mereka. Tadi pertanyaannya Anda mungkin kalau nanti mereka kembali pastinya akan bisa dirajukan dengan teman-teman kami tentunya dengan support dari kita yang ada di sini juga," katanya.





















