Menlu Sugiono Klaim Bagaimana Diplomasi RI Berdampak ke Rakyat

- Sugiono mengatakan diplomasi Indonesia dibutuhkan untuk menghadapi ketahanan pangan dan energi di tengah situasi global yang dinamis.
- Bencana dan konflik disebut dapat mempersulit pangan, mengganggu rantai pasok pupuk, serta memengaruhi harga bahan bakar.
- Komunikasi, pertemuan, pembicaraan, dan negosiasi antarnegara diperlukan untuk membangun sinergi menghadapi ketidakpastian global.
Jakarta, IDN Times – Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengatakan diplomasi Indonesia tidak semestinya hanya terlihat dalam pertemuan atau kegiatan seremonial. Di tengah situasi global yang dinamis, diplomasi juga dibutuhkan untuk menghadapi persoalan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama ketahanan pangan dan energi.
“Itu yang sebenarnya selama ini kita lakukan. Jadi yang kita hadapi situasi global yang sangat dinamis yang di dalam beberapa kesempatan juga menyampaikan bahaya ketidakpastian ini dan ini juga kita rasakan,” ujar Sugiono saat ditanya bagaimana memastikan diplomasi Indonesia tidak hanya bersifat seremonial, Rabu (16/9/2026).
Menurut Sugiono, kondisi global saat ini menunjukkan pentingnya Indonesia memiliki ketahanan di sektor-sektor strategis. Ia menilai langkah Presiden Prabowo Subianto sejak awal untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi, menjadi relevan menghadapi ketidakpastian tersebut.
1. Perang dan bencana ganggu ketahanan pangan

Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin (kiri), Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun (tengah) dan Menlu RI Sugiono (kanan) berbincang usai pertemuan 2+2 antara Indonesia dan China di Kementerian Luar Negeri RI, Jumat (21/8/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Sugiono menjelaskan ketidakpastian global dapat berdampak langsung terhadap kemampuan negara-negara memenuhi kebutuhan pangan. Sejumlah negara kini menghadapi kesulitan pangan akibat berbagai faktor, termasuk bencana dan konflik.
“Banyak negara-negara membutuhkan pangan yang menjadi semakin sulit. Pertama, karena bencana, kemudian yang kedua karena perang,” katanya.
Menurut Sugiono, persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan. Produksi pangan juga membutuhkan berbagai elemen pendukung yang ikut terdampak ketika terjadi gangguan global.
Ia mencontohkan pupuk dan bahan baku pupuk sebagai kebutuhan penting dalam produksi pangan. Ketika permintaan terhadap komoditas tersebut meningkat di berbagai negara, rantai pasoknya turut menghadapi tantangan.
“Kita butuh pupuk, kita butuh bahan baku pupuk, negara-negara lain butuh pupuk. Butuh bahan baku pokok untuk produksi pangan,” ujar Sugiono.
Situasi tersebut, menurut Sugiono, menjadi salah satu persoalan nyata yang perlu diantisipasi, melalui kebijakan ketahanan nasional sekaligus kerja sama dengan negara lain.
2. Harga energi ikut terdampak perang

Menteri Luar Negeri Sugiono dalam ASEAN Ministerial Meeting (AMM). (Dok. Kemlu RI) Selain pangan, Sugiono menyoroti sektor energi. Konflik yang terjadi di berbagai kawasan dapat memengaruhi harga bahan bakar, dan pada akhirnya menimbulkan tantangan bagi banyak negara.
“Belum lagi kalau kita berbicara mengenai fluktuasi harga bahan bakar karena perang. Semua negara mengalami kesulitan tersebut,” katanya.
Sugiono mengatakan kondisi tersebut menunjukkan ketidakpastian global, bukan persoalan yang berdiri sendiri. Gangguan pada konflik dan keamanan dapat merembet ke sektor energi, sementara persoalan energi juga dapat berpengaruh terhadap perekonomian dan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, Indonesia perlu memperkuat kemampuan menghadapi berbagai tekanan eksternal, termasuk dengan memanfaatkan kerja sama dengan negara-negara lain.
Menurut Sugiono, persoalan pangan dan energi menjadi contoh bagaimana perkembangan global dapat memiliki dampak nyata di dalam negeri.
“Tantangan tersebut ini juga yang pada saat kemarin di BRICS disampaikan bahwa menghadapi situasi yang seperti ini, menghadapi ketidakpastian ini, kita di berbagai multilateral grouping ini harus bisa memanfaatkan potensi dan kekuatan yang kita miliki masing-masing untuk kemudian dikombinasikan menjadi satu kekuatan bersama,” ujarnya.
3. Diplomasi dibutuhkan untuk membangun sinergi

Menlu Sugiono dan Menlu China Wang Yi usai melakukan tete a tete di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (21/8/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Sugiono mengatakan di sinilah diplomasi memiliki peran penting. Kerja sama antarnegara tidak dapat berjalan tanpa komunikasi, pertemuan, pembicaraan, serta negosiasi untuk menyatukan kepentingan masing-masing pihak.
Ia menjelaskan Kementerian Luar Negeri memiliki peran untuk membangun komunikasi dan kerja sama tersebut, agar berbagai potensi yang dimiliki negara-negara dapat dikombinasikan dalam menghadapi tantangan bersama.
“Kalau tadi ditanya di mana letak pentingnya diplomasi, di mana letak pentingnya Kementerian Luar Negeri melakukan kerja sama, ya di sini,” ujar Sugiono.
Menurutnya, diplomasi diperlukan untuk membangun sinergi dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul akibat ketidakpastian global.
“Semua itu membutuhkan komunikasi yang baik, kemudian membutuhkan pertemuan, pembicaraan, negosiasi sehingga terjadi satu sinergi,” katanya.
Sugiono menyebut kerja sama dalam berbagai forum multilateral menjadi salah satu ruang bagi Indonesia, untuk mengoptimalkan kekuatan yang dimiliki bersama negara lain.
Hal tersebut, menurut dia, diperlukan untuk menghadapi tantangan yang berkaitan dengan pangan dan energi, terutama ketika perang, bencana, dan gangguan rantai pasok membuat situasi global semakin tidak pasti.
Dengan demikian, kata Sugiono, diplomasi tidak hanya berkaitan dengan hubungan politik antarnegara, tetapi juga menjadi instrumen untuk membangun kerja sama dalam menghadapi persoalan strategis yang dapat memengaruhi kebutuhan masyarakat.
“Jadi, saya kira di situlah langkah-langkah diplomasi yang perlu kita lakukan dalam rangka menghadapi” situasi tersebut, ujar Sugiono.





















