BRIN Kembangkan AI Satelit, Bisa Hitung Kerusakan Bencana Otomatis

- BRIN sedang mengembangkan teknologi AI untuk menafsirkan citra satelit secara otomatis guna mempercepat analisis lingkungan dan penanganan bencana.
- AI ini mampu menghitung kerusakan akibat bencana secara cepat, termasuk estimasi kerugian dan kebutuhan rekonstruksi tanpa proses manual.
- Selain citra satelit, BRIN juga menargetkan penerapan AI di sektor pangan, kesehatan, energi, peternakan, dan kemaritiman sebagai bagian dari inovasi nasional.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mengungkapkan pihaknya tengah mengembangkan pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk membaca dan menafsirkan citra satelit secara otomatis. Teknologi ini diharapkan mampu mempercepat berbagai analisis, mulai dari pemantauan lingkungan hingga penanganan bencana.
Menurut Arif, selama ini hasil pemotretan dari satelit masih membutuhkan proses penafsiran oleh manusia untuk mengetahui kondisi yang terjadi di suatu wilayah.
“Selama ini kita memotret dari satelit, kemudian kita harus menafsirkan apa yang terjadi dari hasil pemotretan itu, misalnya fenomena deforestasi, atau fenomena laut, kondisi kapal asing, dan lain sebagainya,” ujar Arif dalam Indonesia Summit 2026 IDN Times di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026).
Dia menjelaskan, riset AI untuk citra satelit saat ini menjadi salah satu fokus pengembangan BRIN. Dengan teknologi tersebut, hasil gambar yang diperoleh dari ruang angkasa nantinya bisa langsung dianalisis oleh AI.
“Nah, sekarang yang sedang dikembangkan riset di BRIN adalah bagaimana menggunakan AI untuk citra satelit, sehingga ketika kita memotret dengan citra satelit dari ruang angkasa, kemudian otomatis akan ditafsirkan oleh AI,” katanya.
Arif mengatakan, kemampuan AI tersebut akan sangat bermanfaat dalam kondisi bencana karena mampu menghitung kerusakan secara cepat dan memberikan gambaran kebutuhan rekonstruksi.
“Jadi, ketika ada bencana nanti ke depan kita bisa langsung memotret lokasi, kemudian bisa langsung menghitung berapa kerugian, berapa rumah yang hancur, nilainya berapa, kemudian untuk merekonstruksi butuh berapa, semua sudah dikerjakan oleh AI. Jadi, kita ke arah sana,” tuturnya.
Selain untuk citra satelit, Arif menyebut AI juga akan menjadi teknologi penting di berbagai sektor seperti pangan, kesehatan, energi, peternakan, dan kemaritiman.
“Pangan butuh precision farming, kesehatan butuh precision medicine, butuh di bidang energi, di bidang peternakan, di bidang kemaritiman, digital twin, ocean digital twin juga harus berkembang,” kata Arif.
IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

















