Curah Hujan Naik, BMKG Imbau Waspada DBD di Jakarta Sepanjang November

BMKG mengimbau warga Jakarta waspada DBD sepanjang November 2026 karena curah hujan dan kelembapan berpotensi memperluas perkembangbiakan nyamuk Aedes.
Jakarta Selatan memiliki kecocokan kelembapan sangat tinggi bagi nyamuk DBD; Jakarta Pusat, Utara, dan Timur berstatus waspada, sedangkan Barat serta Selatan kategori aman.
Belum ada wilayah Jakarta berstatus awas, namun BMKG meminta pencegahan melalui pemberantasan sarang nyamuk, pelacakan kasus, edukasi, larvasidasi selektif, dan fogging fokus.
Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat DKI Jakarta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), sepanjang November 2026.
BMKG melaporkan curah hujan dan kelembapan udara tersebut mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes berpotensi memperluas sarang nyamuk serta meningkatkan risiko penularan DBD.
Hal ini disampaikan melalui unggahan Instagram resmi @infobmkg pada Rabu (4/11/2026), serta Angka Insiden (AI) DBD yang dimutakhirkan pada 19 Oktober 2026. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau melakukan pencegahan sejak dini melalui pemberantasan sarang nyamuk.
1. Curah hujan November berpotensi mendukung peningkatan DBD

Peta prediksi curah hujan di DKI Jakarta pada November 2026. (Dok. BMKG) Menurut BMKG prediksi curah hujan selama November 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Jakarta, termasuk Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan sebagian Jakarta Timur yang berada pada kategori rendah, yakni 0–100 mm.
Sementara itu, sebagian besar Jakarta Selatan dan sebagian Jakarta Timur diprediksi berada pada kategori menengah, 101–300 mm.
Tingginya curah hujan serta kelembapan udara yang sesuai, dapat meningkatkan potensi kasus DBD.
2. Prediksi perkembangan nyamuk BBD di setiap wilayah DKI Jakarta

Prediksi Angka Isiden DBD Bulan November 2026 di Jakarta. (Dok. BMKG) BMKG melaporkan, kelembapan udara di Jakarta Selatan sangat mendukung nyamuk DBD. Prediksi kesesuaian kelembapan udara relatif (RH) untuk perkembangan nyamuk DBD di Jakarta Selatan menunjukkan tingkat probabilitas kecocokan RH di atas 70 persen mencapai lebih dari 90 persen. Semakin tinggi probabilitas kesesuaian RH, semakin besar potensi nyamuk berkembang biak dan kasus DBD bertambah.
Sementara itu, wilayah Jakarta Pusat, Utara, dan Timur masuk kategori waspada. Pada peta prediksi November 2026, Jakarta Pusat diprediksi berada pada Angka Insiden (AI) 4,1, sementara Jakarta Utara dan Jakarta Timur berada pada AI 4,2 semuanya masuk kategori Waspada (AI 3–10).
Bergeser ke Jakarta Barat dan Selatan, kedua wilayah ini berada pada kategori aman. Jakarta Barat dicatat pada kisaran AI 3,0–3,2 di beberapa titik, sedangkan Jakarta Selatan berada pada AI 1,9, sehingga masuk kategori Aman (AI < 3). Meski demikian, masyarakat tetap perlu menjalankan pencegahan karena kondisi iklim dapat berubah dan mendukung perkembangbiakan nyamuk.
3. BMKG imbau masyarakat lakukan pencegahan serangan nyamuk BBD

Petugas dari Puskesmas Wungu lakukan fogging di dua lokasi terdampak, yakni Desa Karangrejo dan Kelurahan Munggut, Kecamatan Wungu. IDN Times/ Riyanto Dalam prediksi tersebut, hingga kini belum ada wilayah DKI Jakarta yang masuk kategori Awas dengan AI lebih dari 10. Kendati demikian, status kategori aman dan waspada bukan berarti masyarakat dapat lengah terhadap pemberantasan sarang nyamuk.
Masyarakat diimbau menerapkan Penyelidikan Epidemiologi (PE) yakni kegiatan pelacakan kasus, kontak, dan lingkungan di sekitar penderita DBD untuk menemukan sumber penularan serta wilayah yang berisiko.
BMKG juga mencanangkan penyuluhan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat, mengenai cara pencegahan DBD, pengenalan gejala, serta pentingnya memberantas sarang nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar.
Lebih lanjut, upaya pencegahan lainnya dapat dengan peningkatan frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN): Pelaksanaan pemeriksaan dan pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk secara lebih sering, terutama pada penampungan air di rumah dan lingkungan sekitar.
BMKG juga menganjurkan masyarakat melakukan larvasidasi Selektif yakni pemberian bubuk pembasmi jentik pada penampungan air yang sulit dikuras atau dibersihkan secara rutin untuk membunuh jentik nyamuk Aedes.
Selain itu, masyarakat dapat melakukan Fogging Fokus dengan pengasapan insektisida yang dilakukan secara terarah di wilayah sekitar kasus DBD untuk menurunkan populasi nyamuk dewasa dan memutus rantai penularan.



















