DPR Minta BGN Tanggung Biaya Ratusan Santri Keracunan MBG di Ponpes Sidoarjo

- Yahya Zaini meminta BGN menanggung biaya pengobatan ratusan santri Ponpes Manbaul Hikam yang keracunan MBG.
- BGN diminta menginvestigasi penyebab keracunan serta memperbaiki tata kelola, pengawasan, dan kapasitas pengelola dapur.
- Emil Elistiato Dardak menyatakan pasien telah ditangani rumah sakit, sebagian membaik dan pulang, serta tidak ada korban meninggal dunia.
Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini meminta seluruh biaya pengobatan ratusan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin Sidoarjo yang keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat ditanggung oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Yahya meminta BGN melakukan investigasi secara tuntas dan terbuka untuk mengetahui penyebab kasus keracunan dan membenahi tata kelola dengan detail dan terinci.
"Saya minta korban keracunan ditangani dengan baik dan biayanya ditanggung oleh BGN," kata Yahya kepada IDN Times, Rabu (2/9/2026).
1. Tata kelola MBG masih harus dievaluasi

ILustrasi Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) (IDN Times/Rangga Erfizal) Politikus Golkar ini menilai, masih terjadinya kasus keracunan ini menunjukkan tata kelola MBG masih perlu diperbaiki. Walaupun Kepala BGN Sudaryono sudah melakukan perbaikan di internal lembagabya tapi perbaikan itu belum sepenuhnya menyentuh seluruh dapur yang ada.
Kendati demikian, Yahya turut menghargai tindakan tegas BGN yang langsung menutup sementara dapur yang menyebabkan keracunan MBG. BGN juga langsung mencopot kepala dapurnya.
"Tindakan tegas tersebut perlu diikuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola, pengawasan dan sdm pengelola dapur," kata dia.
2. Perlu ada peningkatan kapasitas kepala SPPG

Ilustrasi mobil yang digunakan mendistribusikan MBG. (IDN Times/Muhammad Nasir) Menurut dia, sebagian besar kasus keracunan terjadi akibat kelalaian pengelolaan makanan yg menjadi tanggung jawab kepala dapur. Oleh karena itu, Yahya mendorong BGN melakukan peningkatan kapasitas kepala dapur, supaya lebih profesional, berintegritas dan disiplin.
Selain itu, Yahya juga mendorong BGN meningkatkan pengawasan secara berkala dan presisi terhadap setiap dapur di seluruh Indonesia.
BGN dapat membentuk satgas MBG dengan melibatkan BPOM, pemerintah daerah, dinas kesehatan, kepala sekolah dan orang tua murid.
"Masih terjadinya kasus keracunan menunjukkan masih lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh BGN," ujar dia.
3. Wagub Jatim pastikan tak ada korban meninggal dunia

Wagub Emil saat mengunjungi RS Notopuro tempat pasien keracunan MBG ditangani, Selasa (1/9/2026). (IDN Times/Khusnul Hasana) Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistiato Dardak memastikan seluruh pasien telah tertangani dengan baik. Proses penanganan oleh rumah sakit dilakukan dengan pemberian infus untuk mencegah terjadinya dehidrasi pada korban. Namun, memastikan sampai saat ini, tidak ada korban yang meninggal dunia.
"Jadi rehidrasi ini penting kemudian memberikan obat," ujarnya Rabu (2/9/2026) dini hari.
"Tidak ada meninggal seperti kabar yang beredar," sambungnya.
Di samping itu, pasien dengan penyakit komorbid dan alergi obat juga telah ditangani. Mereka mendapat penanganan khusus.
"Ada tadi yang alergi obat, itu juga sudah ada penanganan, jadi dimonitor. Jadi semua ini bukan ditangani seragam, tapi kekhususan terhadap kondisi masing-masing pasien juga ada," ungkap dia.
Emil menuturkan, beberapa di antara pasien sudah membaik. Mereka bahkan sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Tadi kita lihat ada veldbed yang sudah mulai dilipat karena sudah dipulangkan. Tapi rumah sakit tetap siaga. Bahkan tenaga-tenaga medis yang on call dipanggil semua, sehingga ini bisa tertangani," ungkap dia.


















