Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harumkan Nama Ibu Pertiwi, Prenjak Menangi Kompetisi Internasional Cannes Festival

Harumkan Nama Ibu Pertiwi, Prenjak Menangi Kompetisi Internasional Cannes Festival
instagram.com/wregas_bhanuteja

Siapa yang menyangka bahwa film 'Prenjak' (In the Year of Monkey) bikinan sutradara dari Yogyakarta, Wregas Bhanuteja, terpilih sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes. Raut wajah kegembiraan dan pelukan penuh kesenangan terlihat di tim 'Prenjak' yang datang di Cannes berkekuatan lima orang termasuk sutradara dan penulis cerita Wregas Bhanuteja

Dilansir Kompas.com, salah satu tim pembuat film ini mengatakan bahwa penghargaan tersebut adalah sesuatu yang tak disangka sebelumnya. Wregas, kru pembuat film ini mengatakan sangat bahagia sekali dan saat pulang ke Indonesia nanti, dia akan mulai membuat film lagi dan lagi.

Prenjak sukses memenangkan Le Prix Découverte Leica Cine untuk film pendek terbaik yang dipilih dari 10 film yang diputar dalam kompetisi. Sejumlah 10 finalis tersebut merupakan hasil saringan dari 1.500 film pendek yang dikirim ke panitia festival.

Prenjak sudah bagus sejak awal.

Sebetulnya Direktur Artistik, Charles Tesson, memuji Prenjak sedari awal. Charles mengatakan bahwa film tersebut memiliki kedalaman puitik yang mengejutkan. Prenjak karya Wregas Bhanuteja, adalah film yang kelam dan bengal, tentang bagaimana mencari nafkah itu sama harganya dengan sekadar permainan korek api.

Film sepanjang 12 menit ini adalah film ketiga Wregas yang berlaga di festival internasional, setelah 'Lembu Sura' di Festival Film Berlin 2015 dan Floating Chopin di Hong Kong Film Festival 2016. Prenjak mengalahkan sembilan film unggulan lain: Arnie karya Rina B. Tsou (Taiwan - Filipina), Ascensão (Pedro Peralta, Portugal), Campo de víboras (Cristèle Alves Meira, Portugal), Delusion Is Redemption to Those in Distress (O Delírio é redenção dos aflitos, Fellipe Fernandes, Brasil), L’Enfance d’un chef (Antoine de Bary, Prancis), Limbo (Konstantina Kotzamani, Yunani) Oh what a wonderful feeling (François Jaros, KCanada), Le Soldat vierge (Erwan Le Duc, Prancis) dan Superbia (Luca Tóth, Hungaria).

Apa itu La Semaine de La Critique?

La Semaine de La Critique merupakan sebuah festival independen terpenting yang diselenggarakan berbarengan dengan Festival Cannes pada setiap bulan Mei. Film Indonesia yang pernah dipilih di sini adalah Tjut Nja' Dhien (Eros Djarot, 1989) dan Fox Exploits Tigers Might (Lucky Kuswandy, 2014) Satunya lagi adalah Quinzaine des Realisateurs atau Directors Fortnight. Festival semacam ini didedikasikan pada karya-karya inovatif dan mencari kandidat-kandidat bertalenta untuk menunjukan bakat terbaiknya dalam membuat sebuah film.

Berikut adalah trailer dari film Prenjak tersebut:

 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rizal
EditorRizal
Follow Us

Latest in News

See More

38 dari 79 Sungai Terdampak Bencana Sumatra Berhasil Dinormalisasi

10 Apr 2026, 15:23 WIBNews