Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BRIN Ungkap Anomali Laut saat Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

BRIN Ungkap Anomali Laut saat Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau
5 jurnalis yang hilang di Selat Sunda (Dok. Istimewa/warga)
  • Delapan orang, terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak speedboat Arupadhatu 1, hilang kontak sejak 7 September 2026 saat menuju Anak Krakatau untuk meliput erupsi.
  • BRIN mendeteksi anomali muka air non-tsunami yang berlangsung tidak biasa; fenomena ini diduga terkait debris terapung atau material vulkanik berbahaya di perairan sekitar.
  • Pencarian di Selat Sunda melibatkan Basarnas, Polairud, TNI AL, dan sejumlah kapal, tetapi operasi terkendala gelombang tinggi serta jarak pandang terbatas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Lima jurnalis bersama tiga awak speedboat Arupadhatu 1 belum ditemukan sejak hilang kontak pada Senin, 7 September 2026 pukul 14.42 WIB di kawasan Gunung Anak Krakatau. Kelima jurnalis itu hilang kontak saat hendak meliput kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau.

Periset dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi di bawah Organisasi Riset Kebumian dan Maritim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Semeidi Husrin, mengatakan pada Senin siang hari itu, sistem monitoring IDSL/PUMMA menangkap adanya anomali muka air yang terjadi cukup lama. Namun, anomali muka air itu bukan tsunami.

“Di siang hari itu, alat IDSL/PUMMA kami menangkap anomali muka air yang bukan tsunami cukup lama dan tidak biasa,” kata Semeidi kepada IDN Times, Kamis (10/9/2026).

  1. 1. Banyak material vulkanik yang membahayakan

    BRIN Ungkap Anomali Laut saat Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau
    Basarnas saat melakukan pencarian 5 jurnalis (Dok. Basarnas)

    BRIN menduga, anomali muka air itu disebabkan banyaknya material vulkanik di kawasan tersebut, yang membahayakan siapa pun yang mendekat.

    “Dugaan kami banyak debris atau material terapung di laut atau material vulkanik yang berpotensi membahayakan siapa saja yang mendekat ke arah sana,” tutur Semeidi.

    Saat kondisi pandangan terbatas, kata Semeidi, debris bisa berbahaya ke kapal.

    "Debris itu hanya salah satu dugaan saja ya," ujar dia.

    "Sebenarnya kami juga melihat fenomena 'anomali' juga di Sebesi, walau sinyalnya lebih lemah. Namun, karena kurang data dukung lainnya, saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh terkait munculnya fenomena tersebut," kata Semeidi.

    Semeidi juga tidak bisa menyimpulkan, apakah fenomena ini terkait dengan hilangnya jurnalis di kawasan Gunung Anak Krakatau.

    "Pelajaran pentingnya: Saat kondisi lingkungan yang extreme, fenomena apapun bisa terjadi, oleh karenanya kita dilarang mendekat oleh otoritas. Fenomena tersebut hanya kami amati saat Senin siang saja, sejak saat itu hingga sekarang kondisi normal," kata dia.

  2. 2. Mendoakan tim jurnalis dan awak kapal segera ditemukan

    BRIN Ungkap Anomali Laut saat Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau
    Tim Basarnas yang mencari 5 Jurnalis yang hilang di kawasan Gunung Anak Krakatau. (Dok. Basarnas)

    Adapun kelima jurnalis yang hilang kontak adalah M Bagus Khoirunnas dari Antara Biro Banten (Fotografer LKBN), Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Daus dari Anadolu Agency (kantor berita Turki), serta Donal yang merupakan jurnalis freelance.

    Sementara, tiga orang lainnya Warta (55) sebagai kapten kapal, Surakman (60) anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.

    Semeidi mendoakan kelima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak segera ditemukan.

    “Doa terbaik untuk bapak-bapak jurnalis dan kru,” tutur Semeidi.

  3. 3. Pencarian terkendala kondisi cuaca

    BRIN Ungkap Anomali Laut saat Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau
    TNI Angkatan Laut (AL) mengerahkan sejumlah kapal perang Republik Indonesia (KRI) untuk mencari lima jurnalis yang dilaporkan hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Rabu (9/9/2026)(dok. Dispenal)

    Adapun proses pencarian kelima jurnalis dan tiga awak kapal itu masih berlangsung. Dalam operasi awal, Basarnas mengerahkan enam personel Tim Rescue USS Pandeglang, serta melibatkan Polairud Pandeglang dan pemilik kapal.

    Pada hari kedua pencarian, Rabu, 9 September 2026, Tim SAR Gabungan memperluas operasi dengan membagi tim menjadi tujuh Search and Rescue Unit (SRU).

    Penyisiran dilakukan menggunakan sejumlah armada, termasuk KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, RIB 01 Lampung, dan RIB 02 Banten. Area pencarian mencakup perairan sekitar Selat Sunda, termasuk wilayah sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang.

    TNI Angkatan Laut (AL) juga mengerahkan tiga kapal perang, yakni KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861 untuk memperkuat operasi pencarian tim jurnalis dan awak kapal di perairan Selat Sunda.

    Proses pencarian menghadapi kendala akibat kondisi di sekitar lokasi, karena adanya gelombang tinggi dan jarak pandang yang terbatas.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More