Ini Hasil Riset UI soal MBG: Bantu Lapangan Kerja hingga UMKM

- Guru Besar UI Fentiny Nugroho menilai UMKM belum mampu memenuhi kebutuhan rantai pasok SPPG berskala besar, sehingga perlu pembinaan dan dukungan pemerintah agar lebih berdaya saing.
- Penelitian menunjukkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberi dampak positif bagi relawan SPPG, yang kini memperoleh penghasilan harian stabil antara Rp100 ribu hingga Rp125 ribu.
- Program MBG dinilai berkontribusi pada pemenuhan gizi, peningkatan ekonomi lokal, serta pengurangan kemiskinan jangka panjang menuju tercapainya visi Indonesia Emas 2045.
Jakarta, IDN Times - Badan Gizi Nasional (BGN) diminta melakukan pembinaan terhadap pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yang menjadi distributor terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebab, program Makan Bergizi Gratis (MBG) bertujuan menggerakkan ekonomi lokal.
Hal ini menjadi salah satu rekomendasi penting dari hasil penelitian bertajuk "Kajian Program MBG: Dampak MBG Bagi Pendapatan dan Pengeluaran Keluarga" di Tangerang Selatan, Depok, dan Jakarta Timur. Penelitian ini digelar pada September hingga Desember 2025 dengan melibatkan 93 informan dari pihak sekolah, BGN, SPPG, relawan SPPG, hingga keluarga penerima manfaat.
"Jadi ke depan itu, kami merekomendasikan supaya ada pembinaan bagi UMKM ini," kata Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Profesor Fentiny Nugroho, ditemui di Kampus UI, Depok, Kamis (5/3/2026).
1. UMKM belum penuhi rantai pasok SPPG berskala besar

Fentiny mengatakan, UMKM lokal berpotensi terlibat lebih jauh dalam program MBG, sehingga dapat mendongkrak pendapatan mereka. Sayangnya, berdasarkan hasil penelitian yang ia lakukan, menemukan UMKM lokal tidak bisa memenuhi rantai pasok skala besar terhadap SPPG.
"Mereka SPPG juga mengatakan bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya berharap dari UMKM. Jadi kebutuhan mereka tidak bisa sepenuhnya dipenuhi oleh UMKM. Gitu kan, kan memang kebutuhannya besar ya SPPG itu kan, gitu," kata dia.
Karena itu, Fentiny meminta agar pelaku UMKM mendapatkan bantuan dari pemerintah. Bantuan tersebut tidak hanya terbatas dalam bentuk modal, melainkan pembinaan manajerial usaha, hingga penanaman mentalitas wirausaha.
"Jadi itu perlu juga dikembangkan, dilatih untuk pengembangan mentalitas entrepreneurship. Nah, semoga dengan demikian UMKM ke depan bisa berperan lebih besar dan lebih besar lagi penghasilannya, peningkatan penghasilannya," tuturnya.
Menurut Fentiny, berkembangnya UMKM dalam ekosistem program MBG sangat penting, karena mereka akan menyerap tenaga kerja.
"Makin dia berkembang, makin banyak tenaga kerja lokal yang bisa terserap. Itu sih kira-kira," kata dia.
2. MBG membawa manfaat bagi relawan SPPG

Lebih jauh, Fentiny mengungkapkan, hasil penelitiannya menemukan, program MBG dapat memberikan manfaat besar bagi relawan SPPG. Dia mengatakan para relawan mengaku banyak mendapatkan manfaat karena punya penghasilan Rp100 ribu sampai Rp125 ribu per hari setelah adanya program MBG.
"Rata-rata sih kalau untuk relawan itu satu harinya mereka dapat sekitar Rp110 ribu sampai Rp125 ribu, per hari per orang. Jadi itu yang membuat mereka senang. Karena sebelumnya kan mereka pengangguran atau kerja serabutan, gitu ya. Jadi mereka senang sih dapat itu," ungkapnya.
3. Manfaat MBG jangka pendek dan jangka panjang

Fentiny menjelaskan, dalam jangka pendek, program MBG dapat menjadi upaya pemenuhan kebutuhan dasar (makanan pokok bergizi) di wilayah SPPG, menyerap tenaga kerja, meningkatkan penghasilan UMKM, dan pengurangan pengeluaran keluarga.
"Jika kondisi ini dapat terus ditingkatkan, maka (MBG) berdampak pada pengurangan kantong-kantong kemiskinan pada jangka panjang," kata Fentiny sebagai kepala tim peniliti.
Sementara, dalam jangka panjang, program MBG dapat menjadi ikhtiar untuk peningkatan aktivitas ekonomi lokal dan partisipasi sekolah siswa. Ia berharap dengan nutrisi yang baik, anak-anak yang menerima MBG hari ini dapat tumbuh dengan optimal, baik fisik, kecerdasan kognitif, kesehatan dan pendidikannya.
"Nah, ini yang kami katakan pada jangka panjang akan mengurangi kantong-kantong kemiskinan di Indonesia, dan ini semua sangat penting untuk nanti menuju Indonesia Emas," kata Fentiny.
MBG, kata Fentiny, juga diyakini dapat berkontribusi positif terhadap pembangunan Indonesia dan membantu perekonomian keluarga keluar dari kemiskinan.
"Generasi Emas ini penting sekali, kenapa sekarang harus dikembangkan gizi yang baiknya itu, untuk nanti menjadi induk SDM yang andal menuju Indonesia Emas 2045," tutur dia.

















