Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jejak Gerakan Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, dari Atlas hingga Biola

6 min read
Jejak Gerakan Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, dari Atlas hingga Biola
Miniatur patung reka adegan kongres pemuda ke-II di Museum Sumpah Pemuda. (IDN Times/Umi Jari Widayah)
  • Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106, bekas rumah kos pelajar dan kantor PPPI, menyimpan jejak perjuangan pemuda menjelang kemerdekaan serta telah menjadi cagar budaya sejak 1972.

  • Gedung ini menjadi lokasi Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, ketika berbagai organisasi pemuda merumuskan tiga ikrar persatuan dan W.R. Supratman memperdengarkan “Indonesia Raya” melalui biola.

  • Koleksi museum mencakup biola dan naskah “Indonesia Raya”, atlas, surat kabar, buku, serta majalah yang merekam peran organisasi, pendidikan, pers, dan gagasan kebangsaan dalam pergerakan pemuda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Di antara bangunan-bangunan modern, restoran, dan hotel, tepatnya di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta Pusat, berdiri bangunan tua yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda.

Bangunan yang semula merupakan rumah kos pelajar ini, kini menjadi cagar budaya serta museum yang menyimpan jejak perjuangan pemuda Indonesia menjelang kemerdekaan.

Gedung ini dibangun pada awal 1900-an, sempat disewakan kepada Jong Java pada 1925, lalu menjadi kantor Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan redaksi majalah Indonesia Raja pada 1926.

Pada 10 Januari 1972, gedung ini ditetapkan sebagai benda cagar budaya, sebelum akhirnya berfungsi sebagai Museum Sumpah Pemuda. Yuk menilik sejenak museum ini untuk mengenang jejak perjuangan pemuda pada saat itu.

  1. 1. Ruang Kongres Pemuda II dan Naskah Ikrar Sumpah Pemuda

    Menilik Jejak Pemuda Melalui Koleksi Bersejarah Museum Sumpah Pemuda
    Patung reka adegan Kongres Pemuda ke-II di Museum Sumpah Pemuda. (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Ruang utama museum menjadi saksi bisu penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada sore hari, 28 Oktober 1928. Rapat ini berlangsung di Indonesische Clubgebouw, nama yang digunakan untuk Gedung Kramat 106 pada tahun itu.

    Menurut laman muspada.kemenbud.go, kongres digagas PPPI untuk memperkuat rasa persatuan dan kebangsaan pemuda Indonesia. Sebelum pelaksanaannya, para pemuda mengadakan pertemuan pada 3 Mei dan 12 Agustus 1928 untuk membahas panitia, susunan acara, waktu, tempat, serta biaya kongres.

    Tokoh-tokoh yang terlibat dalam kepanitiaan antara lain Sugondo Djojopuspito dari PPPI sebagai ketua kongres, R.M. Djoko Marsaid dari Jong Java sebagai wakil ketua; Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond sebagai sekretaris; Amir Sjarifudin dari Jong Bataks Bond sebagai bendahara; Johan Mahmud Tjaja, R. Katja Soengkana, R.C.L. Sendoek, Johannes Leimena, dan Mohammad Rochjani Su’ud sebagai pembantu panitia, mewakili berbagai organisasi kepemudaan.

    Menilik Jejak Pemuda Melalui Koleksi Bersejarah Museum Sumpah Pemuda
    Ikrar Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda. (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Dalam rapat, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi, dan Ramelan membahas hubungan kepanduan dengan pergerakan nasional. Sedangkan Theo Pangemanan menekankan pandu sejati harus berlandaskan semangat kebangsaan.

    Diskusi itu kemudian bermuara pada rumusan tiga ikrar: bertumpah darah satu, berbangsa satu, serta menjunjung bahasa persatuan dan menjadi ikrar Sumpah Pemuda.

    Sebelum kongres ditutup, W.R. Soepratman memperdengarkan “Indonesia Raya” melalui lantunan biola. Lagu itu disambut antusiasme peserta, kemudian Sugondo Djojopuspito membacakan keputusan kongres yang dirumuskan Muhammad Yamin.

  2. 2. Biola asli milik W.R. Supratman

    Menilik Jejak Pemuda Melalui Koleksi Bersejarah Museum Sumpah Pemuda
    Koleksi biola milik W.R Supratman di Museum Sumpah Pemuda. (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Koleksi paling ikonik di Museum Sumpah Pemuda adalah biola asli milik Wage Rudolf Supratman, pencipta “Indonesia Raya”. Biola ini dipamerkan dalam etalase kaca dan dirawat secara hati-hati, sebagai benda bersejarah yang berkaitan langsung dengan peristiwa 28 Oktober 1928.

    Biola tersebut digunakan W.R. Supratman untuk memperkenalkan “Indonesia Raya” pada penutupan Kongres Pemuda II. Dalam suasana rapat yang penuh semangat kebangsaan, lantunan biola itu menjadi pengantar lahirnya ikrar persatuan pemuda Indonesia.

    Keberadaan biola ini menghadirkan kesan intim tentang bagaimana sebuah lagu kebangsaan pertama kali dikumandangkan di ruangan yang kini menjadi bagian dari museum.

  3. 3. Naskah “Indonesia Raya” ejaan lama

    Menilik Jejak Pemuda Melalui Koleksi Bersejarah Museum Sumpah Pemuda
    Naskah “Indonesia Raya” Versi Ejaan Lama di Museum Sumpah Pemuda. (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Di ruangan yang sama dengan biola, pengunjung dapat menemukan salinan naskah bersejarah “Indonesia Raya” ejaan lama, dengan tiga stanza. Kehadirannya memperkuat narasi bahwa lagu kebangsaan tersebut lahir dan diperkenalkan dalam lingkungan pergerakan pemuda.

    “Indonesia Raya” diciptakan W.R. Supratman dan diperdengarkan pada penutupan Kongres Pemuda II melalui biola. Pada masa itu, lagu diperdengarkan tanpa lirik, karena adanya larangan menggunakan kata “merdeka”.

    Versi tiga stanza kemudian menjadi penting dalam sejarah lagu kebangsaan Indonesia. Surat kabar Sin Po pada 10 November 1928 tercatat sebagai media pertama yang menerbitkan lirik dan partitur “Indonesia Raya” tiga stanza.

  4. 4. Atlas Schoolatlas van Nederlandsch Oost-Indië

    Menilik Jejak Pemuda Melalui Koleksi Bersejarah Museum Sumpah Pemuda
    Koleksi Atlas Schoolatlas van Nederlandsch Oost-Indië di Museum Sumpah Pemuda. (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Buku atlas ini pernah digunakan anggota organisasi Jong Java semasa bersekolah. Dalam konteks Museum Sumpah Pemuda, keberadaan atlas ini membantu pengunjung memahami latar pendidikan dan ruang geografis tempat para pemuda seperti anggota Jong Java, Jong Sumatranen Bond, dan PPPI bergerak.

    Atlas Schoolatlas van Nederlandsch Oost-Indië disusun W. van Gelder dan C. Lekkerkerker, keduanya merupakan mantan inspektur pendidikan bumiputra (oud inspecteurs van het inlandsch onderwijs).

    J.B. Wolters menerbitkan atlas ini dan menggunakannya sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah Hindia Belanda, untuk mengenalkan geografi wilayah jajahan kepada para pelajar.

    Sedangkan C. Lekkerkerker tercatat sebagai salah satu penyusun atlas sekolah untuk sekolah rendah Hindia Belanda.

  5. 5. Surat Kabar dan Buku Jong Java

    Menilik Jejak Pemuda Melalui Koleksi Bersejarah Museum Sumpah Pemuda
    Surat Kabar Jong Java di Museum Sumpah Pemuda. (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Kehadiran media cetak surat kabar dan buku Jong Java menunjukkan peran pers dalam menyebarkan gagasan kebangsaan, dan kabar mengenai pergerakan pemuda kepada masyarakat luas.

    Salah satu surat kabar tersebut adalah Surat Kabar Jong Java. Jong Java adalah surat kabar yang diterbitkan oleh organisasi Jong Java pada 1918. Surat kabar ini merupakan media Jong Java untuk menyebarkan gagasan organisasinya.

    Ada pula koleksi Surat Kabar Jong Java cabang Surabaya edisi April 1928. Surat kabar ini merupakan media resmi organisasi Jong Java yang memuat laporan kegiatan, gagasan para anggota, serta pandangan mengenai pendidikan dan kebangsaan di kalangan pemuda pada masa pergerakan nasional.

    Bergeser ke sisi lainnya, pengunjung juga dapat melihat Buku Gedenboek Jong Java di museum ini. Gedenkboek Jong Java merupakan buku peringatan yang diterbitkan secara resmi olerorganisasi pemuda Jong Java dalam rangka memperingati 15 tahun berdirinya organisasi tersebut sejak 7 Maret 1915.

    Buku ini berisi catatan sejarah, kegiatan, serta pemikiran para anggota yang merekam perjalanan, aktivitas, dan gagasan yang berkembang di organisasi Jong Java.

  6. 6. Majalah Indonesia Raja

    Menilik Jejak Pemuda Melalui Koleksi Bersejarah Museum Sumpah Pemuda
    Koleksi Majalah Indonesia Raja di Museum Sumpah Pemuda. (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Selain surat kabar, Museum Sumpah Pemuda menyimpan majalah-majalah yang menghadirkan jejak perjalanan pemuda Indonesia.

    Indonesia Raja adalah majalah yang diterbitkan oleh organisasi Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI) pada 1929. Majalah ini digunakan sebagai media penyampaian gagasan nasionalisme dan perjuangan organisasi tersebut.

    Sejak September 1926, Gedung Kramat 106 di Jakarta Pusat digunakan sebagai kantor PPPI sekaligus kantor redaksi majalah Indonesia Raja.

    Melalui majalah ini, PPPI menyebarkan pemikiran kebangsaan dan memperkuat gerakan persatuan di kalangan pelajar Indonesia. Kehadirannya menegaskan peran pers sebagai sarana penting dalam membangun kesadaran nasional menjelang Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928.

    Menilik Jejak Pemuda Melalui Koleksi Bersejarah Museum Sumpah Pemuda
    Koleksi Majalah Pemoeda Indonesia di Museum Sumpah Pemuda. (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Pemoeda Indonesia adalah majalah yang terkait dengan organisasi Pemoeda Indonesia, organisasi pemuda yang semula bernama Jong Indonesia.

    Jong Indonesia didirikan di Bandung pada 20 Februari 1927, lalu mengubah namanya menjadi Pemoeda Indonesia pada Kongres Pertamanya pada 28 Desember 1927.

    Majalah ini menjadi media bagi para pemuda untuk menyebarkan gagasan persatuan Indonesia dan memperkokoh cita-cita kebangsaan lintas suku serta daerah. Kehadiran Pemoeda Indonesia dalam Kongres Pemuda II menunjukkan bahwa organisasi dan media persnya berperan dalam memperkuat semangat persatuan pemuda Indonesia.

    Menilik Jejak Pemuda Melalui Koleksi Bersejarah Museum Sumpah Pemuda
    Koleksi Majalah Jong Sumatra di Museum Sumpah Pemuda. (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Jong Sumatra adalah majalah yang diterbitkan oleh organisasi Jong Sumatranen Bond pada 1918. Majalah ini merupakan media Jong Sumatranen Bond (JSB) untuk menyebarkan gagasan organisasinya

    Melansir kebudayaan.kemedikbud.go, JSB ialah organisasi pemuda Sumatra yang didirikan pada 2 Desember 1917 di gedung STOVIA, Batavia. Majalah ini mulai terbit pada Januari 1918 dan menjadi media resmi organisasi untuk menyampaikan gagasan serta memperkuat solidaritas pemuda Sumatra.

    Melalui Jong Sumatra, JSB menyebarkan pemikiran organisasi dan membangun kesadaran kebangsaan di kalangan pemuda. Majalah ini juga mencerminkan tahap awal pergerakan kepemudaan yang masih berbasis kedaerahan, sebelum kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih mengarah pada persatuan Indonesia.

    Setiap koleksi menegaskan satu pesan yang sama dan persatuan tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan dibangun melalui diskusi, organisasi dan keberanian generasi muda.

Share Article

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More