Jepang Punya Pusat Kerja Lansia, Indonesia Kembangkan Program SIDAYA

- Jepang menyalurkan warga lansia ke pekerjaan sementara, jangka pendek, dan ringan melalui Silver Human Resources Center.
- Amerika Serikat menyediakan pelatihan kerja berbayar, sementara Singapura membuka kesempatan kerja kembali dan pelatihan keterampilan bagi pekerja senior.
- Indonesia mengembangkan SIDAYA untuk kesehatan, kemandirian, produktivitas, kehidupan sosial, dan dukungan keluarga lansia.
Jakarta, IDN Times - Kesempatan bekerja dan mengembangkan keterampilan setelah memasuki usia lanjut menjadi salah satu pendekatan yang diterapkan sejumlah negara untuk menjaga produktivitas lansia. Jepang, misalnya, memiliki Silver Human Resources Center yang menyalurkan warga lanjut usia ke berbagai pekerjaan sesuai kemampuan dan waktu yang mereka miliki.
Di Indonesia, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) juga mengembangkan program Lansia Berdaya atau SIDAYA. Namun, pendekatan pemberdayaan lansia tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan, melainkan juga kesehatan, kemandirian, kehidupan sosial, dan dukungan keluarga.
1. Jepang punya pusat penyaluran kerja bagi lansia

Program Sekolah Lansia di Kota Yogyakarta. (Dok. Pemkot Yogyakarta) Jepang mengembangkan Silver Human Resources Center (SHRC) untuk membuka kesempatan kerja bagi warga berusia 60 tahun ke atas yang masih ingin aktif setelah pensiun. Mengutip [Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, pusat tersebut menyediakan pekerjaan sementara, jangka pendek, atau pekerjaan ringan melalui permintaan dari perusahaan, rumah tangga, dan kantor pemerintah.
Jenis pekerjaan yang tersedia antara lain membantu fasilitas perawatan, supermarket, kebersihan, pengelolaan taman dan tempat parkir sepeda, hingga pemangkasan tanaman. Anggota memperoleh imbalan berdasarkan pekerjaan yang dilakukan. Model ini memungkinkan lansia tetap berkontribusi tanpa harus kembali menjalani pekerjaan penuh waktu.
Dalam dokumen yang merangkum pelaksanaan tahun fiskal 2021, Jepang mencatat 1.307 organisasi SHRC dengan 687 ribu anggota. Rata-rata usia anggotanya mencapai 74,1 tahun.
Pemerintah Jepang juga menyediakan dukungan bagi pencari kerja senior melalui Hello Work, termasuk bimbingan penulisan resume, persiapan wawancara, seminar, serta pengalaman mengunjungi dan mencoba lingkungan kerja.Informasi tersebut tercantum dalam portal resmi ketenagakerjaan lansia Jepang www.kourei-koyou.mhlw.go.jp/seniorcitizen.html.
2. Amerika Serikat menyediakan pelatihan kerja berbayar

390 lansia diwisuda di Sekolah Lansia Kota Tangerang (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti) Amerika Serikat memiliki Senior Community Service Employment Program (SCSEP), program pemerintah federal yang ditujukan kepada warga berusia 55 tahun ke atas yang memenuhi persyaratan tertentu. Program ini memberikan kesempatan pelatihan kerja melalui penempatan di lembaga komunitas dan organisasi nirlaba. Pesertanya memperoleh pengalaman untuk meningkatkan keterampilan dan mempersiapkan diri memasuki pekerjaan yang tidak disubsidi.
SCSEP secara khusus menyasar warga berpenghasilan rendah yang menghadapi hambatan untuk mendapatkan pekerjaan. Selain program pemerintah, AARP Foundation juga menjalankan inisiatif Back to Work 50+ untuk membantu pencari kerja berusia 50 tahun ke atas melalui pelatihan, pendampingan, dan dukungan pencarian kerja. Informasi program tersebut dapat ditelusuri melalui AARP Foundation.
3. Singapura mendorong pekerja senior tetap bekerja

Warga lanjut usia dari kecamatan Suralaga Lotim saat mengikuti sekolah Lansia (IDN Times/Ruhaili) Singapura menerapkan kebijakan kesempatan kerja kembali atau re-employment bagi pekerja senior yang memenuhi persyaratan. Kebijakan ini berbeda dengan program magang. Fokusnya adalah memberikan kesempatan kepada pekerja yang mendekati atau telah mencapai usia pensiun untuk melanjutkan pekerjaan melalui pengaturan kerja kembali.
Pemerintah Singapura juga memiliki dukungan pelatihan keterampilan melalui SkillsFuture, yang dapat dimanfaatkan pekerja untuk meningkatkan kemampuan dan menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan industri.
Informasi mengenai program pelatihan dapat diakses melalui SkillsFuture Singapore.
4. Jerman menyiapkan pekerja senior menghadapi perubahan industri

Ilustrasi pasangan lansia berjalan bersama (pexels.com/Thang Nguyen) Jerman pernah mengembangkan Initiative 50plus sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesempatan kerja bagi pekerja berusia lebih tua. Pendekatan yang dikaitkan dengan inisiatif tersebut mencakup peningkatan keterampilan, pelatihan ulang, dan dukungan agar pekerja senior tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Meski demikian, Initiative 50plus merupakan kebijakan yang memiliki periode pelaksanaan tersendiri. Karena itu, program tersebut tidak dapat langsung disebut sebagai skema magang lansia yang masih berjalan saat ini tanpa verifikasi lebih lanjut.
5. Indonesia punya program Lansia Berdaya

Program Sekolah Lansia di Kota Yogyakarta. (Dok. Pemkot Yogyakarta) Indonesia juga mulai menyiapkan kebijakan hadapi perubahan struktur penduduk yang ditandai dengan meningkatnya populasi lansia. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 serta proyeksi BPS, Bappenas, dan UNFPA 2018, penduduk berusia 65 tahun ke atas diproyeksikan terus bertambah hingga 2040. Di sisi lain, proporsi penduduk usia produktif 15-64 tahun dan kelompok usia 0-14 tahun semakin berkurang.
Perubahan tersebut menjadi turut dipandang Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN).
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menyampaikan strategi pemerintah menghadapi perubahan struktur penduduk tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
“Peran strategis program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) dalam menghadapi perubahan struktur penduduk adalah dengan menjaga keseimbangan struktur lewat pengelolaan kuantitas penduduk, serta memperkuat kualitas penduduk dan ketahanan keluarga,” ujar Wihaji.
6. SIDAYA strategi tingkatkan potensi dan peran lansia

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengadakan gebyar Sekolah Lansia Online Pintar di 65 kelurahan di Jakarta Timur (dok. Istimewa) Salah satu strategi yang dikembangkan Kemendukbangga/BKKBN adalah Lansia Berdaya (SIDAYA). Berdasarkan publikasi resmi Kemendukbangga/BKKBN pada 12 April 2026, SIDAYA adalah strategi tingkatkan potensi dan peran lansia dalam kehidupan publik maupun pribadi.
Program ini dukung lansia agar tetap sehat, mandiri, produktif, dan bermartabat melalui tiga pilar active ageing, yakni lansia yang sehat, merasa aman, serta mampu berpartisipasi sesuai minat dan potensinya.
SIDAYA menyasar lansia berusia di atas 60 tahun. Implementasinya antara lain melalui Sekolah Lansia, yang memberikan pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan. Peserta juga dapat mengikuti jenjang pendidikan hingga S1, S2, dan S3 dalam skema Sekolah Lansia. Selain itu, SIDAYA mencakup home care berbasis komunitas bagi orang tua yang tidak mendapatkan perawatan dari anak, bantuan bagi lansia, serta pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas dan RSUD tanpa rujukan.
Kemendukbangga/BKKBN menyebut pemberdayaan dalam SIDAYA dilakukan sesuai kapasitas atau kemampuan lansia. Sasaran tidak langsung program ini juga mencakup pemerintah, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, sektor swasta, keluarga, komunitas, perguruan tinggi, akademisi, dan media.
Namun, dalam publikasi resmi mengenai SIDAYA tersebut, belum disebutkan adanya program magang kerja nasional yang secara khusus menempatkan lansia ke dunia kerja seperti sejumlah skema yang diterapkan di negara lain. Maka pwrlu dibedakan bahwa sejumlah program di luar negeri memperlihatkan kesempatan produktif bagi lansia tidak selalu berbentuk magang formal. Jepang, misalnya, menyediakan pekerjaan paruh waktu dan ringan melalui pusat sumber daya manusia senior.
Amerika Serikat memiliki pelatihan kerja berbayar bagi kelompok lansia tertentu, sedangkan Singapura mendorong keberlanjutan hubungan kerja dan peningkatan keterampilan.
Di Indonesia, SIDAYA memiliki cakupan lebih luas karena turut mencakup kesehatan, kemandirian, dan dukungan keluarga. Namun, informasi resmi yang ditelusuri dalam bahan ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Indonesia telah memiliki program magang kerja lansia berskala nasional seperti yang secara khusus ditujukan untuk penempatan kerja.


















