Keluarga Prajurit TNI yang Gugur di UNIFIL Dapat Santunan Rp1,8 M

- Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyerahkan santunan total Rp1,8 miliar kepada keluarga tiga prajurit yang gugur di misi UNIFIL serta memberikan hak-hak dan penghargaan anumerta.
- Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menolak bertanggung jawab atas tewasnya tiga prajurit TNI di Lebanon, menyebut insiden terjadi di zona perang aktif dan masih dalam proses peninjauan.
- Jenazah Praka Farizal Rhomadhon masih dievakuasi dari wilayah konflik Lebanon sebelum menjalani autopsi dan repatriasi ke Indonesia melalui jalur udara Mesir atau Yordania.
Jakarta, IDN Times - Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan takziah ke rumah duka Kapten Inf Zulmi Aditya yang gugur dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) pada Rabu (1/4/2026). Rumah duka prajurit baret merah itu berlokasi di Cimahi, Bandung, Jawa Barat.
Jenderal bintang empat itu turut memberikan santunan dan hak-haknya kepada keluarga Zulmi. Nilainya mencapai Rp1,8 miliar.
"Sertu Muhammad Nur Ikhwan diberikan santunan sebesar Rp1.846.309.049 dan Praka Farizal Rhomadhon sebesar Rp1.854.075.205," ujar Agus.
Ia menjelaskan nilai santunan itu mencakup nilai tabungan asuransi, santunan risiko kematian khusus, beasiswa untuk dua anak, santunan kematian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Tabungan Wajib Perumahan (TWP) AD, personal accident, dana watzah dan santunan gugur dari perbankan.
Suasana rumah keluarga Zulmi diliputi tangis dan penuh haru. Bahkan, ayah Zulmi menangis ketika dikunjungi Agus. Ia memeluk mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) itu seolah tak percaya putranya tiada.
1. Tiga prajurit yang gugur di misi UNIFIL dapat penghargaan luar biasa

Selain itu, Agus menyebut, tiga prajurit yang gugur akan diberi kenaikan Pangkat Luar Biasa Operasi Militer Selain Perang Anumerta (KPLB OMSPA) hingga penghargaan Medal Dag Hammarskjold. Medal tersebut merupakan penghargaan PBB yang diberikan kepada personel militer atau polisi yang gugur dalam operasi penjaga perdamaian PBB.
"Saya juga menyampaikan gaji terusan selama 12 bulan yang terdiri dari gaji pokok, uang lauk pauk dan tunjangan jabatan. Kemudian ada pula dana pensiun janda setelah gaji terusan selesai dibayarkan," ujar Agus.
Sementara, gugurnya tiga prajurit TNI itu memicu kecaman dari banyak negara, termasuk Indonesia, terhadap serangan Israel. Sebab, tak seharusnya pasukan perdamaian dijadikan sasaran serangan militer.
2. IDF tolak bertanggung jawab atas gugurnya tiga prajurit TNI

Sementara, Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) pada Selasa, 31 Maret 2026, membuat pernyataan merespons gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon (UNIFIL).
Dalam pernyataan di Telegram, IDF menyebut, insiden-insiden tersebut sedang "ditinjau secara menyeluruh untuk mengklarifikasi keadaan dan menentukan apakah insiden tersebut diakibatkan oleh aktivitas Hizbullah atau aktivitas IDF," dikutip dari laman Independent, Rabu.
IDF pun berdalih peristiwa itu terjadi di zona peperangan yang melibatkan kedua pihak, sehingga mereka meminta agar tidak ada asumsi mengenai pihak yang bertanggung jawab.
"Perlu dicatat bahwa insiden-insiden ini terjadi di area pertempuran aktif. Oleh karena itu, tidak boleh diasumsikan bahwa insiden-insiden di mana tentara UNIFIL terluka disebabkan oleh IDF," kata IDF.
3. Jenazah Praka Farizal Rhomadhon masih dievakuasi

Sementara, berdasarkan keterangan dari Komandan Brigif Infanteri 25/Siwah, Kolonel Dimar Bahtera, jenazah Praka Farizal Rhomadhon masih dalam proses evakuasi. Ia tak menampik masih terjadi konflik di sekitar markas UNIFIL.
Setelah jenazah berhasil dievakuasi, maka akan dilakukan mekanisme dari PBB, yakni autopsi. "Kemungkinan baru bisa dilakukan hari Rabu (autopsi) jika keadaannya kondusif," ujar Dimar di Yogyakarta, kemarin.
Setelah itu baru dilakukan proses pemulangan jenazah oleh PBB. Ia juga menyebut ada beberapa tahapan repatriasi, termasuk verifikasi dokumen.
"Setelah dokumen lengkap baru diterbangkan ke Indonesia," tutur Dimar.
Ia mengatakan rute penerbangan akan melewati Mesir atau Yordania, sebab wilayah udara di Lebanon ditutup untuk penerbangan sipil.
"Sehingga harus melibatkan bandara-bandara di negara sekitar dan sudah langsung di-handle sama Kementerian Luar Negeri, khususnya atase pertahanan," kata perwira menengah itu.


















