Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Identitas 3 Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL

Identitas 3 Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL
Tampak depan markas UNIFIL di area Lebanon. (Dokumentasi Puspen TNI)
Intinya Sih
  • Tiga prajurit TNI gugur dalam misi UNIFIL di Lebanon, termasuk Kapten Inf Zulmi Aditya, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon, akibat ledakan saat pengawalan konvoi.
  • Dua prajurit lainnya mengalami luka dan telah dievakuasi ke Rumah Sakit St. George Beirut untuk mendapatkan perawatan medis setelah insiden di tengah meningkatnya konflik di wilayah tersebut.
  • Akademisi menilai pemerintah perlu melayangkan nota protes keras kolektif ke PBB agar tragedi ini tidak dianggap sepele dan keamanan pasukan penjaga perdamaian lebih dijamin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Mabes TNI membenarkan ada dua prajurit lain yang gugur dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Kedua prajurit ini gugur pada Senin (30/3/2026) ketika sedang bertugas mengawal operasional UNIFIL di Lebanon. Total dalam kurun waktu 24 jam, sudah ada tiga prajurit TNI yang gugur saat bertugas di UNIFIL.

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah, mengatakan, dua prajurit yang gugur atas nama Kapten Inf Zulmi Aditya dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan. Zulmi diketahui sehari-hari bertugas di Grup 2 Kopassus. Sedangkan, Ichwan berasal dari Kesdam IX Udayana.

Selain itu, ada pula dua prajurit TNI yang mengalami luka.

"Mereka yang luka atas nama Letnan Satu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto," ujar Aulia kepada IDN Times melalui pesan pendek pada Selasa (31/3/2026).

Kedua prajurit yang luka dan gugur sudah dievakuasi ke Rumah Sakit St. George Beirut, Lebanon untuk diberi penanganan medis.

1. Dua prajurit gugur akibat ledakan saat sedang melakukan pengawalan

Zulmi Aditya, UNIFIL
Kapten Inf Zulmi Aditya (kanan dengan baret merah) yang gugur dalam penugasan di misi UNIFIL. (Dokumentasi Istimewa)

Aulia mengungkap kronologi peristiwa yang terjadi pada Senin kemarin. Dia mengatakan, insiden itu terjadi pada saat tim escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung di dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) melaksanakan pengawalan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU).

"Pengawalan itu dalam rangka tugas memberikan dukungan dari Mako Sektor Timur UNIFIl United Nations Post (UNP) 7-2 menuju ke Mako Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1. Insiden terjadi di tengah eskalasi konflik tinggi," kata jenderal bintang dua itu.

"Di mana ketika itu terjadi ledakan pada kendaraan yang mengakibatkan dua prajurit yang gugur," kata dia.

Sementara, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Operasi Perdamaian (United Nations Peacekeeping), Jean-Pierre Lacroix, mengatakan, peristiwa ledakan terjadi di dekat Bani Hayyan. Menurut penjelasan UNIFIL, kendaraan mereka hancur akibat ledakan yang belum diketahui sumbernya.

2. Prajurit pertama yang gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon

Farizal Rhomadhon
Seorang prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-S untuk United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), Praka Farizal Rhomadhon, gugur saat menjalankan tugas di Lebanon Selatan (dok. Istimewa)

Sebelumnya, Aulia mengatakan, prajurit pertama yang gugur pada Minggu (29/3/2026) adalah Praka Farizal Rhomadhon. Dia gugur di Adchit Al Qusayr. Jenazah Farizal sudah disemayamkan di East Sector Headquarters (HQ) dan segera dipulangkan ke Tanah Air.

"Saat ini sedang dalam penyelesaian administrasi pemulangan ke Indonesia dengan dibantu oleh pihak KBRI Beirut," kata Aulia kepada IDN Times lewat pesan pendek pada Senin (30/3/2026).

Sedangkan, satu prajurit TNI yang mengalami luka berat telah dievakuasi menggunakan helikopter menuju ke Rumah Sakit St George di Beirut untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Dua prajurit TNI lainnya yang mengalami luka ringan telah mendapat perawatan di Hospital level I UNIFIL. Di dalam serangan Israel pada Minggu menyebabkan satu prajurit gugur dan empat lainnya mengalami luka.

3. Indonesia didesak layangkan nota protes keras kolektif ke PBB

Ruang Sidang Majelis Umum PBB, salah satu dari enam ruang sidang utama. (IDN Times/Uni Lubis)
Ruang Sidang Majelis Umum PBB, salah satu dari enam ruang sidang utama. (IDN Times/Uni Lubis)

Sementara, akademisi dari Universitas Nasional, Selamat Ginting, mengatakan, respons yang disampaikan oleh pemerintah tidak cukup sekadar duka cita belaka. Dia menilai respons Indonesia harus lebih struktural, yakni dengan mengirimkan nota protes keras ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Ini bukan sekadar formalitas diplomatik tetapi penegasan bahwa darah prajurit Indonesia tidak bisa dinegosiasikan," ujar Selamat di dalam keterangan, Selasa.

Dia mewanti-wanti Presiden Prabowo Subianto bahwa sikap diam atau respons lunak justrui berbahaya. Respons yang keliru bisa menciptakan preseden bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dapat ditoleransi selama dibungkus narasi kesalahan operasional.

"Indonesia bisa melakukan tekanan kolektif dibandingkan langkah unilateral ke PBB karena banyak negara yang mengirimkan pasukan ke UNIFIL. Maka, di sini pentingnya membangun koalisi negara kontributor (troop contributing countries)," kata dia.

Dengan adanya tekanan itu, ujar dia, bisa memaksa PBB agar tidak sekedar menunjukkan sikap sebagai pengamat tetapi bertindak sebagai penjamin keamanan pasukan yang berada di bawah mandatnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in News

See More