Kematian Jemaah Haji 2026 Turun 25 Persen, Menhaj Masih Belum Puas

- Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan, menyebut angka kematian jemaah haji 2026 turun 25 persen dibanding tahun sebelumnya, namun tetap menilai jumlahnya masih tinggi dan perlu evaluasi kesehatan.
- Gus Irfan menekankan pentingnya keterbukaan dalam rapat evaluasi haji agar semua kekurangan dibahas tanpa saling menyalahkan, demi peningkatan layanan ibadah haji tahun berikutnya.
- Pembukaan rakernas evaluasi penyelenggaraan haji 2026 berlangsung di Makodau I Halim dengan nuansa militer kuat, melibatkan formasi kompi dan upacara resmi yang dipimpin langsung oleh Menhaj.
Jakarta, IDN Times - Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan mengklaim pihaknya telah sukses menyelenggarakan ibadah haji 2026. Keberhasilan itu, kata Irfan, disebut masyarakat sebagai pelaksanaan ibadah haji terbaik yang pernah ada.
Meski begitu, pria yang akrab disapa Gus Irfan itu tidak ingin terlena. Ia kemudian menyinggung jumlah kematian jemaah haji yang dinilainya masih tinggi. Meskipun angkanya bila dibandingkan dengan kematian haji 2025 menurun 25 persen.
"Tahun ini kita memang bisa menekan angka mortalitas hingga 25 persen. Tapi, angka itu masih terlalu besar. Angka kematian 350 sekian masih besar. Karena itu, salah satu PR nanti menyangkut istitha'ah atau kesehatan," ungkap Gus Irfan ketika memberikan amanat di pembukaan raker evaluasi penyelenggaran ibadah haji 2026 di Halim pada Sabtu (4/7/2026).
Ia turut menyinggung delapan inovasi yang dikenalkan saat penyelenggaraan ibadah haji 2026. Mulai dari kuota provinsi yang berkeadilan, penurunan biaya ibadah haji senilai Rp2 juta hingga kartu nusuk sudah dibagikan sejak berada di Indonesia.
"Inovasi itu langsung dirasakan oleh jemaah haji kita," tutur dia.
Sementara, dalam ibadah haji 2026, Indonesia mendapat kuota 221 ribu. Sebanyak 203.320 merupakan jemaah haji reguler dan 17.680 jemaah haji khusus.
1. Gus Irfan minta semua pihak blak-blakan saat raker evaluasi haji

Lebih lanjut, Gus Irfan meminta agar selama raker evaluasi penyelenggaraan ibadah haji, semua pihak dapat menyampaikan secara terbuka. Ia menggarisbawahi agar tidak ada yang ditutup-tutupi.
"Semua kesalahan dan kekurangan kita buka selebar-lebarnya, tanpa berpretensi untuk menyalahkan satu sama lain. Kita buka kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dengan tujuan untuk perbaikan. Bukan untuk saling menyalahkan," katanya.
Maka, ia mengajak semua pihak untuk memanfaatkan raker evaluasi haji untuk memperbaiki layanan haji 2027.
2. Gus Irfan akui pelayanan jemaah haji di Mina masih perlu diperbaiki

Gus Irfan mengakui salah satu titik yang perlu diperbaiki yakni ketika jemaah haji berada di Mina, Makkah, Arab Saudi. Area tersebut menjadi salah satu titik kelemahan pelayanan ibadah haji.
"Apapun yang bisa kita perbaiki di Mina, tentu harus kita rumuskan pada rakernas evaluasi ini," tutur dia.
Ia juga menyebut bakal diadakan kembali retret Kementerian Haji sebagai langkah untuk mempersiapkan para individunya agar siap secara fisik dan mental. Selain itu, kedekatan yang terbentuk selama proses retret dinilai juga bakal mempermudah kerja sama saat menyelenggarakan ibadah haji.
3. Pembukaan rakernas evaluasi penyelenggaraan haji 2026 kental nuansa militer

Sementara, berbeda dengan evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2025, rapat tahun ini terlihat kental dengan nuansa militer. Pembukaan rapat evaluasi didahului dengan upacara yang digelar di di Lapangan Markas Komando Daerah Udara (Makodau) I, Halim Perdanakusuma, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur
Para peserta berdiri berbaris dalam formasi kompi di lapangan, mengikuti jalannya acara dengan tertib. Dilihat dari akun YouTube Kemeterian Haji, seluruh peserta mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dipadukan dengan rompi krem bertuliskan "Kemenhaj" di bagian punggung, celana panjang hitam berbahan kain, dasi hitam, serta topi krem. Di topi tersebut, terpasang logo Kementerian Haji dan Umrah.
Bentuknya menyerupai topi taktikal dengan lidah topi yang memiliki coakan di sisi kanan dan kiri, sehingga berbeda dari topi bisbol pada umumnya. Nuansa militer juga terasa dari penggunaan istilah kompi saat memperkenalkan peserta.
Letnan Dua Putri yang bertugas sebagai pewara membacakan susunan barisan layaknya dalam sebuah upacara. "Di hadapan kita bersama, berdiri dengan siap, Kompi A, terdiri dari eselon I dan eselon II Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia. Berikutnya, Kompi B sampai dengan Kompi G, terdiri dari Kantor Wilayah Provinsi Kota dan Kabupaten Seluruh Indonesia," ujar Letda Putri.
Di masing-masing Kompi, terdapat Komandan Kompi yang berasal dari TNI. Adapun Perwira Upacara dijabat Letnan Kolonel (Letkol) Kusus Jayadi. Sedangkan, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf bertindak sebagai Inspektur Upacara.




















