Kemen PPPA Minta Keamanan Latihan Militer Diperkuat Buntut Peluru Nyasar di Gresik

- Kementerian PPPA menyoroti insiden peluru nyasar di Gresik yang melukai dua anak dan menegaskan pentingnya perlindungan serta pemulihan menyeluruh bagi korban.
- Korban mendapat pendampingan kesehatan, psikososial, dan perlindungan hukum melalui koordinasi antara SAPA 129, UPTD PPA Jawa Timur, serta UPT PPA Gresik.
- Kemen PPPA mendorong evaluasi dan penguatan sistem keamanan di fasilitas latihan militer agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mendorong penguatan sistem pengamanan fasilitas latihan militer menyusul insiden dugaan peluru nyasar yang melukai dua anak di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan latihan menembak rutin TNI AL (Marinir) yang berlangsung di Lapangan Tembak Karangpilang, Surabaya pada 17 Desember 2025.
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, mengatakan, insiden tersebut menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan anak.
“Peristiwa ini menjadi perhatian serius. Negara harus hadir memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan maksimal serta pemulihan yang menyeluruh, baik secara fisik maupun psikologis. Kepentingan terbaik bagi anak harus menjadi prioritas utama,” ujar Arifah, dikutip Kamis (9/4/2026).
1. Pemberian pendampingan pada korban

Kementerian PPPA memastikan korban memperoleh penanganan yang diperlukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah. Tim Layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA 129) telah berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Provinsi Jawa Timur dan UPT PPA Kabupaten Gresik.
Pendampingan terhadap korban mencakup layanan kesehatan, dukungan psikososial, serta perlindungan dari potensi tekanan maupun intimidasi.
2. Proses hukum di peradilan militer

Arifah mengatakan, pemulihan anak korban harus dilakukan secara berkelanjutan hingga kondisi mereka benar-benar pulih.
“Anak korban membutuhkan pendampingan psikologis yang berkelanjutan. Kami memastikan layanan pemulihan trauma diberikan secara komprehensif agar kondisi anak dapat kembali optimal,” ujar Menteri PPPA.
Sementara itu, proses hukum terkait insiden tersebut saat ini tengah berjalan di Polisi Militer Angkatan Laut (POMAL) Koarmada V. Kemen PPPA menyatakan akan terus memantau perkembangan penanganan kasus tersebut.
“Kami menghormati proses hukum yang berjalan dan mendorong agar dilakukan secara profesional, transparan, dan memberikan keadilan bagi korban dengan mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak,” kata dia.
3. Dorong penguatan sistem pengamanan di fasilitas latihan militer

Kemen PPPA juga akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk mendorong penguatan sistem pengamanan di fasilitas latihan militer maupun sarana lainnya agar kejadian serupa tidak terulang.
“Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Mari kita bergerak dengan komitmen yang lebih kuat, kolaborasi yang lebih luas, dan langkah nyata untuk memastikan setiap anak Indonesia terlindungi, dihargai, serta memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujar Arifah.
Insiden peluru nyasar terjadi pada 17 Desember 2025 saat dua siswa SMP di Gresik terluka ketika berada di musala sekolah. Peluru diduga berasal dari latihan tembak Marinir di Karangpilang, Surabaya, sekitar 2,3 km dari lokasi.
Kedua korban dilarikan ke rumah sakit. Upaya mediasi antara keluarga dan TNI AL dua kali gagal. Kasus kemudian dilaporkan ke POM AL pada 5 Februari 2026 dan masih diselidiki.

















