Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Wamenkomidigi: Algoritma Lemahkan Kemampuan Berpikir Kritis Masyarakat

Wamenkomidigi: Algoritma Lemahkan Kemampuan Berpikir Kritis Masyarakat
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria. Dok Komdigi
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Nezar Patria menegaskan algoritma media sosial perlahan membentuk cara berpikir publik, menciptakan filter bubble dan echo chamber yang memperkuat misinformasi serta melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat.
  • Ia menyoroti pergeseran persaingan global menuju penguasaan teknologi dan data digital, termasuk perang chip AI, yang kini menjadi kunci kekuatan antarnegara di era kecerdasan buatan.
  • Wamenkomdigi mendorong generasi muda menguasai bidang STEM dan literasi digital agar mampu menjadi pemain aktif dalam industri teknologi global, bukan sekadar pengguna atau konsumen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menyebut algoritma media sosial dapat membentuk cara berpikir dan persepsi publik secara perlahan.

Nezar mengatakan masyarakat saat ini hidup di ruang digital yang dimediasi platform digital dan algoritma media sosial. 

Ia menilai kondisi tersebut membuat pengguna cenderung terus menerima informasi yang sesuai dengan preferensi pribadi. 

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperhatikan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” ujar Nezar dikutip dari ANTARA, Minggu (24/5/2026).

Table of Content

1. Algoritma disebut membentuk cara berpikir publik

1. Algoritma disebut membentuk cara berpikir publik

Wamenkomidigi Sebut Algoritma Bisa Bentuk Cara Berpikir Publik
ilustrasi algoritma sosial media (unsplash.com/Julian)

Nezar mengatakan algoritma media sosial membuat pengguna lebih sering menerima informasi yang sesuai dengan preferensi pribadi. 

Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat masyarakat hidup dalam “filter bubble” dan “echo chamber”, sehingga pandangan berbeda semakin jarang muncul di media sosial. 

Wamenkomdigi itu menilai misinformasi dan disinformasi menjadi ancaman serius di era digital, karena dapat memperkuat polarisasi sosial dan melemahkan kemampuan berpikir kritis, terutama di kalangan generasi muda. 

Nezar juga mengutip dari laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar tahun 2026. 

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” ujarnya

2. Dunia disebut memasuki era persaingan teknologi AI

Wamenkomidigi Sebut Algoritma Bisa Bentuk Cara Berpikir Publik
Wireframe robot. Ai artificial intelligence in robotic hand. Machine learning and cyber mind domination concept. (magnific.com/iuriimotov)

Nezar menyoroti perkembangan artificial intelligence (AI) yang bergerak sangat cepat, mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika. 

Menurutnya, persaingan antarnegara saat ini mulai bergeser dari perebutan sumber daya alam, menjadi penguasaan teknologi dan data digital. 

“Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi,” katanya.

Ia menilai bonus demografi di Indonesia tidak akan memberi dampak besar, apabila masyarakat hanya menjadi pengguna teknologi.

3. Generasi muda diminta kuasai STEM dan literasi digital

Wamenkomidigi Sebut Algoritma Bisa Bentuk Cara Berpikir Publik
Literasi Digital kakek dan cucunya (unplash.com / Vitaly Gariev

Ia mengatakan Indonesia memiliki modal besar berupa bonus demografi dan kekayaan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi global. 

Akan tetapi, Nezar mengingatkan keunggulan tersebut tidak akan berarti tanpa kualitas sumber daya manusia yang mampu menguasai sains dan teknologi. 

Ia pun meminta generasi muda untuk memperkuat kemampuan science, technology, engineering, and mathematics (STEM), serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma. 

“Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” pungkasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina

Related Articles

See More