Kemendukbangga Bakal Percepat Daycare di Kawasan Industri

- Kemendukbangga/BKKBN bersama APINDO mempercepat implementasi program TAMASYA untuk menyediakan fasilitas daycare di kawasan industri sebagai respons atas tuntutan buruh pada Mayday 2026.
- Program TAMASYA yang sudah berjalan sejak 2025 dinilai membantu pekerja, terutama perempuan, agar tetap produktif sambil memastikan anak mendapat pengasuhan yang baik di tempat kerja.
- APINDO dan BKKBN akan menyiapkan MoU serta mendorong perusahaan di kawasan industri menerapkan program TAMASYA guna memperkuat kesetaraan gender dan partisipasi perempuan di dunia kerja.
Jakarta, IDN Times - Wacana penyediaan fasilitas tempat penitipan anak (daycare) di kawasan industri mulai bergerak. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menggandeng Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mempercepat implementasi program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) di lingkungan kerja.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengatakan, isu daycare di tempat kerja menjadi perhatian pemerintah setelah masuk dalam tuntutan buruh pada Mayday 2026.
“Ini (fasilitas penitipan anak) sebenarnya merupakan tahapan yang pernah kita kerjakan tapi ada penekanan hasil dari tuntunan buruh pada waktu May Day yang kemudian dijawab oleh Bapak Presiden, namanya program daycare. Oleh karena itu, kami mengajak (APINDO) untuk berdiskusi barangkali ada yang bisa dikerjakan bersama,” kata Wihaji, dikutip Selasa (26/5/2026).
1. Daycare penting untuk beri solusi bagi perempuan pekerja

Program TAMASYA telah diluncurkan sejak 27 Mei 2025 sebagai skema pendampingan pengasuhan anak di tempat penitipan anak (TPA). Hingga Maret 2026, tercatat sudah ada 3.366 TAMASYA/TPA yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pemerintah menilai keberadaan daycare di lingkungan kerja dapat menjadi solusi bagi pekerja, khususnya perempuan, agar tetap produktif tanpa mengabaikan pola asuh anak.
2. Berkenaan dengan kesetaraan gender

Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani, program TAMASYA sejalan dengan komitmen dunia usaha dalam memperkuat kesetaraan gender dan meningkatkan partisipasi perempuan di sektor ekonomi.
“Berkaitan dengan program TAMASYA, kami juga telah menyusun bersama International Labour Organization (ILO), pedoman penyelenggaraan tempat penitipan anak di tempat kerja. Saya rasa timing-nya sangat pas karena dengan masukan dari Kemendukbangga/BKKBN, kita harus mencari model yang kemudian nanti dibawa ke industri seperti apa,” ujar Shinta.
3. Didorong segera keluarkan imbauan ke perusahaan

Kemendukbangga/BKKBN didorong segera mengeluarkan imbauan kepada perusahaan, termasuk di kawasan industri agar mulai menerapkan program TAMASYA.
Sebagai tindak lanjut, Kemendukbangga/BKKBN dan APINDO akan menyiapkan kerja sama resmi melalui penandatanganan nota kesepahaman atau MoU terkait penyelenggaraan program TAMASYA di perusahaan-perusahaan.



















