Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Inggris Berencana Terapkan Jam Malam Medsos bagi Remaja

Inggris Berencana Terapkan Jam Malam Medsos bagi Remaja
ilustrasi kampanye mengurangi penggunaan media sosial (unsplash.com/jontyson)
Intinya Sih
  • Pemerintah Inggris berencana menerapkan jam malam media sosial bagi remaja usia 16–17 tahun, membatasi akses antara tengah malam hingga pukul enam pagi demi melindungi kesehatan mental dan fisik mereka.
  • Hasil uji coba menunjukkan kebijakan ini meningkatkan kualitas tidur, fokus belajar, serta interaksi keluarga; regulasi dijadwalkan diajukan ke parlemen akhir 2026 dan berlaku mulai musim semi 2027.
  • Kebijakan ini menuai kritik terkait efektivitas dan penegakan aturan, termasuk tantangan verifikasi usia serta potensi penggunaan VPN oleh remaja untuk menghindari pembatasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Inggris berencana menerapkan aturan jam malam penggunaan media sosial bagi remaja. Kebijakan ini menargetkan pengguna berusia 16 dan 17 tahun untuk memblokir akses aplikasi antara tengah malam hingga pukul enam pagi. Aturan ini akan aktif secara bawaan, meskipun pengguna tetap dapat mengubah pengaturannya.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk melindungi generasi muda dari dampak buruk dunia maya. Kebijakan ini juga melengkapi aturan larangan total media sosial bagi anak di bawah 16 tahun yang diumumkan bulan lalu. Rencananya, aturan baru tersebut akan diajukan ke parlemen pada akhir tahun ini.

1. Fitur adiktif media sosial dimatikan secara default

ilustrasi media sosial
ilustrasi media sosial (unsplash.com/Panos Sakalakis)

Kebijakan jam malam ini akan berlaku untuk berbagai platform besar seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan YouTube. Namun, pembatasan tidak mencakup aplikasi perpesanan seperti WhatsApp atau platform edukasi.

Selain pembatasan waktu operasional, pemerintah juga akan mematikan fitur adiktif secara bawaan. Fitur tersebut mencakup putar otomatis video dan gulir tanpa batas yang kerap membuat pengguna bertahan lebih lama.

Pembatasan ini dirancang agar remaja tidak kaget saat mendapat akses penuh ke media sosial pada usia 16 tahun. Pengguna tetap diberi opsi untuk mematikan pengaturan tersebut dan mendapat pengalaman tanpa batas layaknya orang dewasa.

"Langkah ini sangat krusial dalam membantu anak muda mendapatkan tidur yang cukup, fokus di sekolah, dan menghabiskan waktu bersama keluarga," ujar Liz Kendall, Menteri Teknologi Inggris, dilansir Sky News pada Rabu (15/7/2026).

2. Hasil uji coba tunjukkan dampak positif

ilustrasi penggunaan media sosial. (unsplash.com/camilo jimenez)
ilustrasi penggunaan media sosial. (unsplash.com/camilo jimenez)

Rencana pemerintah ini dilandasi oleh hasil uji coba yang melibatkan 300 peserta. Dalam uji coba tersebut, Departemen Sains, Inovasi, dan Teknologi (DSIT) menguji berbagai bentuk pembatasan media sosial selama satu bulan.

Hasil riset menunjukkan bahwa jam malam adalah langkah yang paling mudah diterapkan oleh keluarga. Pembatasan ini terbukti memberikan manfaat yang konsisten terhadap kualitas tidur dan konsentrasi remaja.

Anak-anak melaporkan bahwa mereka bisa tidur lebih awal dan merasa tidak terlalu stres. Interaksi tatap muka di dalam rumah tangga dan waktu bersama keluarga juga meningkat selama masa uji coba.

Aturan jam malam ini akan diwujudkan dalam regulasi yang dijadwalkan masuk parlemen Inggris pada akhir 2026. Jika disetujui, aturan ini akan mulai diberlakukan pada musim semi 2027.

3. Tuai kritik dan hadapi tantangan penegakan

ilustrasi bendera Inggris
ilustrasi bendera Inggris (unsplash.com/simon frederick)

Meski bertujuan baik, rencana ini langsung mendapat kritik dari berbagai pihak. Sejumlah pakar keamanan anak menilai langkah ini parsial dan tidak memberikan solusi menyeluruh terhadap bahaya media sosial.

"Memberlakukan jam malam yang bisa dimatikan begitu saja tidak akan membuahkan hasil apa pun," tutur Laura Trott, perwakilan bidang pendidikan dari Partai Konservatif, dilansir BBC.

Proses penegakan aturan ini juga masih dipertanyakan kelayakannya. Pemerintah harus memastikan sistem verifikasi usia berjalan efektif, mengingat pengalaman Australia yang kesulitan menerapkan pembatasan serupa.

Kekhawatiran lain muncul terkait potensi remaja menggunakan jaringan pribadi virtual atau VPN untuk menghindari deteksi usia. Namun, data pemerintah menunjukkan hanya sekitar tujuh hingga 10 persen anak yang menggunakan VPN untuk tujuan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More