Kisah Nuraga Bhumi, Gerakan Konservasi yang Dekat dengan Perempuan

Jakarta, IDN Times - Tidak dapat dipungkiri konservasi alam wajib dilakukan untuk menjaga bumi agar tetap asri dan berkelanjutan. Di Indonesia, banyak sekali organisasi alam yang dibangun untuk melakukan konservasi tersebut.
Salah satunya yaitu Nuraga Bhumi Institute yang merupakan organisasi yang berfokus pada konservasi alam yang berbasis di Sumatra. Mereka berfokus pada hutan, yang di dalamnya banyak sekali satwa.
Kisah tentang pendirian dan gerakan Nuraga Bhumi Institute diceritakan dalam acara "Climate Change Actions 101" yang diselenggarakan IDN Times melalui live akun Instagram @idntimes. Berikut kisah lengkap lainnya tentang Nuraga Bhumi Institute.
1. Nuraga Bhumi Institute didirikan perempuan

Nayla Azmi adalah wanita di balik Nuraga Bhumi Institute. Ia bercerita, ketika masuk dalam dunia konservasi, menyadari bahwa isu lingkungan, isu mengenai deforestasi dan segala hal yang merujuk kepada permasalahan-permasalahan lingkungan itu erat kaitannya dengan kehidupan manusia.
Bahkan, tidak memandang dari latar belakang apa pun, jadi akan tetap terhubung. Maka dari itu, Nayla memulai organisasi ini pada tahun ini.
“Nuraga Bhumi ini baru saya dirikan tahun ini. Sebelumnya, saya relawan NGO, dua buah NGO, sebenarnya. Intinya kayak, NGO mana yang butuh bantuan saya. Sampai pada akhirnya saya bekerja sampai tahun 2019 di sebuah organisasi orang utan, lalu saya merasa banyak hal yang belum teradvokasi dengan baik, karena itulah ketika saya berhenti saya memilih untuk mendirikan organisasi ini,” kata Nayla pada Rabu (14/12/2021).
2. Nuraga Bhumi melihat konservasi di Indonesia cukup male-dominated

Nayla menilai konservasi di Indonesia cukup male-dominated atau didominasi laki-laki. Ia mengaku sering menjadi perempuan yang sendiri dalam sebuah gerakan konservasi.
“Saya merasa, sering merasa tidak aman. Dengan mungkin terjadi beberapa sexism atau mungkin pelecehan seksual yang saya dapatkan secara verbal, hal-hal yang seperti itu terkadang akhirnya, menghilangkan makna saya sebagai perempuan. Misalnya, ketika ada pembicaraan, hal yang contoh misalnya ‘aduh, ini nih kita dapat karyawan perempuan baru lagi nih'. Lalu, saya katakan ’bagus dong’, lalu mereka mengatakan ‘aduh susah kalau perempuan', saya katakan, ‘kenapa? Saya perempuan, saya bekerja dengan kalian, apa masalahnya?" ucap Nayla.
"Lalu mereka mengatakan ‘kamu gak perempuan’. Dalam artian, saya dihilangkan makna perempuannya sebagai perempuan karena saya mampu untuk sama kuatnya dengan laki-laki. Jadi, saya tidak dianggap feminim,” terusnya.
Nayla pun merasa menyalahi karakter perempuan yang harusnya penurut dan feminim. Di konservasi itu, perempuan biasanya bekerja pada bagian administrasi, jarang sekali ada yang menghabiskan waktu berminggu-minggu di hutan.
“Menurut pengalaman saya, hampir 10 tahun saya bekerja di konservasi, banyak PR kita bersama, bukan berarti tidak banyak juga terjadi perubahan yang baik, tapi memang kembali lagi kita berbicara konservasi itu terkoneksi dengan sesuatu yang holistik, termasuk peran perempuan itu sendiri,” kata Nayla.
3. Nuraga Bhumi Institute menganut ekofeminisme

Karena adanya eksklusivisme tersebut, Nayla mencoba mencari pendekatan baru. “Karena itulah di Nuraga Bhumi ini saya menganut ekofeminisme, di mana alam itu sangat berkaitan erat dengan perempuan.” tutur Nayla.
Hal ini berkaitan juga dengan penyebutan alam dengan istilah ‘Ibu Bumi’, yang secara tidak langsung menunjukkan perempuan memiliki keterkaitan yang sangat erat secara alami dengan alam.
Namun, yang menjadi kendala apakah perempuan sudah diberikan ruang aman dalam berkontribusi atau masuk dalam dunia konservasi secara inklusif? Hal ini yang tidak Nayla temukan.
Jadi, Ia menyediakan ruang aman bagi perempuan untuk bisa mengeksplorasi, belajar dan mendapatkan pemahaman bagaimana untuk berkontribusi pada konservasi lingkungan.
4. Adanya pandemik menghalangi kegiatan Nuraga Bhumi Institute

Beberapa kegiatan yang ingin dilaksanakan oleh Nuraga Bhumi Institute terhambat karena adanya pandemik COVID-19. Namun, saat masih bekerja, Nayla sudah sering melakukan kegiatan konservasi dengan dana dan tenaga sendiri.
Beberapa kegiatan tersebut dapat dilihat di laman resmi Nuraga Bhumi Institute nuragabhumi.org.
5. Nuraga Bhumi Institute menilai alam adalah ruang aman

Nayla membagikan pengalamannya suatu ketika saat mengerjakan laporan di alam. Di sampingnya, muncul ular king cobra, namun hanya diam saja memperhatikan Nayla dan tidak lama pergi begitu saja.
Ia menilai hal tersebut menandakan alam menjadi ruang yang aman, yang dekat dengan adat, juga dekat dengan perempuan.
“Saya tidak merasa terancam ketika berada di alam, saya menemukan diri saya ketika berada di situ. Saya merasa bagian dari situ,” ujar Nayla.



















