Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Di Tengah Gempuran AI, KPK Dorong Guru Jaga Kejujuran dan Integritas

Di Tengah Gempuran AI, KPK Dorong Guru Jaga Kejujuran dan Integritas
KPK mempertemukan 38 guru dari berbagai daerah dalam Kamp Sahabat Teladan Integritas dan Antikorupsi (SATRIA) 2026 secara daring dan luring di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (8/9). Adapun SATRIA merupakan program pemberdayaan jejaring pendidikan antikorupsi yang dikembangkan Direktorat Jejaring Pendidikan (Jardik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Dok. KPK)
  • KPK melalui program SATRIA 2026 mempertemukan 38 guru untuk memperkuat pendidikan antikorupsi di tengah risiko plagiarisme, ketergantungan teknologi, dan melemahnya berpikir kritis akibat AI.
  • Guru menekankan AI sebagai alat bantu, bukan jalan pintas; siswa didorong menjelaskan proses berpikir, mengerjakan tugas jujur, serta memahami materi secara bertahap tanpa mengandalkan terjemahan instan.
  • KPK mendorong guru menjadi penggerak nilai integritas di sekolah, keluarga, dan komunitas melalui kebiasaan sederhana seperti menghindari plagiarisme, mengakui kesalahan, serta menghargai hasil usaha sendiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam kehidupan sehari-hari, para guru dihadapkan pada tantangan baru. Tak sekadar mengajarkan pengetahuan, mereka dituntut menjaga nilai-nilai yang menjadi fondasi pendidikan, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan integritas.

Bagi banyak guru, tantangan pendidikan hari ini bukan lagi sekadar membantu siswa memahami pelajaran, melainkan memastikan mereka tetap jujur ketika teknologi mampu menyediakan hampir seluruh jawaban dalam hitungan detik.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin mudah diakses, kegelisahan tentang plagiarisme, ketergantungan teknologi, hingga pudarnya proses berpikir kritis menjadi masalah yang dirasakan para tenaga pendidik di berbagai daerah.

Tantangan itu lah yang mempertemukan 38 guru dari berbagai daerah dalam Kamp Sahabat Teladan Integritas dan Antikorupsi (SATRIA) 2026 secara daring dan luring di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (8/9). Adapun SATRIA merupakan program pemberdayaan jejaring pendidikan antikorupsi yang dikembangkan Direktorat Jejaring Pendidikan (Jardik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  1. 1. Menjaga kejujuran di tengah kemudahan AI

    B20A8439.JPG
    KPK mempertemukan 38 guru dari berbagai daerah dalam Kamp Sahabat Teladan Integritas dan Antikorupsi (SATRIA) 2026 secara daring dan luring di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (8/9). Adapun SATRIA merupakan program pemberdayaan jejaring pendidikan antikorupsi yang dikembangkan Direktorat Jejaring Pendidikan (Jardik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Dok. KPK)

    Salah satu kegelisahan itu dirasakan Iis, guru SMA Negeri 1 Pontang, Banten. Menurutnya, perkembangan AI tidak mungkin dihentikan, namun guru tetap harus memastikan teknologi digunakan sebagai alat bantu belajar, bukan jalan pintas yang menghilangkan kemampuan peserta didik guna berpikir, menganalisis, dan bersikap jujur terhadap hasil karyanya sendiri.

    “Perlu diingat, AI itu hanya alat bantu. Sejatinya manusia memiliki heart, body, and soul. Itu semua adalah software alami dari Tuhan yang perlu digunakan untuk mengambil keputusan,” tutur Iis saat ditemui usai kegiatan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (8/9).

    Lebih lanjut, kata Iis, di ruang kelas Iis berusaha memastikan siswanya tetap memahami proses berpikir di balik setiap jawaban yang diberikan. Ia kerap meminta peserta didik menjelaskan alasan atau pertimbangan mereka saat mengerjakan tugas.

    “Saya selalu bertanya alasan “why,” karena saya ingin memastikan bahwa jawaban yang diberikan benar-benar lahir dari pemahaman mereka, bukan sekadar salinan AI,” katanya.

    Bagi Iis, kejujuran akademik merupakan bagian penting dari pendidikan antikorupsi. Jika peserta didik terbiasa mengambil jalan pintas sejak dini, maka nilai integritas akan semakin sulit dibangun dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau kita saja tidak jujur dengan diri kita sendiri dari karya yang kita buat, bagaimana kita bisa jujur terhadap orang lain,” ucapnya.

  2. 2. Dari SATRIA, menghidupkan kejujuran di ruang kelas

    B20A8470.JPG
    KPK mempertemukan 38 guru dari berbagai daerah dalam Kamp Sahabat Teladan Integritas dan Antikorupsi (SATRIA) 2026 secara daring dan luring di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (8/9). Adapun SATRIA merupakan program pemberdayaan jejaring pendidikan antikorupsi yang dikembangkan Direktorat Jejaring Pendidikan (Jardik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Dok. KPK)

    Kesempatan mengikuti SATRIA menjadi pengalaman berharga bagi Iis. Hal ini, sebab di tengah kesibukan mengajar, ia merasa mendapatkan ruang yang selama ini dibutuhkan para tenaga didik, yakni ruang untuk saling belajar dan berbagi praktik baik.

    Bagi Iis, SATRIA mampu menjadi wadah untuk dapat saling berbagi pengalaman pendidikan antikorupsi yang sudah diterapkan dari guru-guru lain di berbagai daerah di Indonesia. Ia berharap program serupa dapat terus berlanjut setiap tahun, disertai pendampingan agar praktik-praktik baik yang lahir dari kegiatan tersebut tidak berhenti setelah pelatihan berakhir.

    “Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini. Semoga setelah ini ada monitoring, upgrading, atau tindak lanjut lainnya,” kata Iis.

    Tak jauh berbeda, Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 25 Kota Malang, Fajar, tetap membiasakan anak-anak didiknya memahami kosakata dan materi pembelajaran secara bertahap. Menurutnya, proses menemukan jawaban sendiri bermakna jauh lebih besar, dibandingkan sekadar memperoleh hasil secara instan.

    “Anak-anak sudah familiar dengan Google Lens. Sekarang mereka bisa dengan mudah foto buku, lalu seketika muncul terjemahannya semua. Saya melarang mereka menggunakan itu dan mewajibkan mereka membawa buku kamus Bahasa Inggris,” katanya.

    Lebih jauh, Fajar memaknai proses dalam setiap kegiatan pembelajaran bahasa inggris di ruang kelasnya. Pasalnya, ia terus mendorong anak-anak muridnya hanya menerjemahkan kata-kata yang tidak mereka pahami, agar mereka mudah mengingat di masa depan, meski proses yang dilalui lebih lama.

    “Kemudian, kosakata asli anak-anak itu bisa dibedakan dengan kosakata AI dan itu harus terus diperiksa. Jadi, kita harus terus menjunjung tinggi proses serta kejujuran,” tegasnya.

    Bagi Fajar, kejujuran menjadi salah satu kunci dan nilai kebaikan yang harus terus dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, tingginya nilai pelajaran yang didapat dengan cara tidak jujur, tidak akan bermakna ketimbang nilai kecil yang didapat dari cara yang jujur.

  3. 3. Dari kebiasaan sederhana, membangun budaya antikorupsi

    B20A8429.JPG
    KPK mempertemukan 38 guru dari berbagai daerah dalam Kamp Sahabat Teladan Integritas dan Antikorupsi (SATRIA) 2026 secara daring dan luring di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (8/9). Adapun SATRIA merupakan program pemberdayaan jejaring pendidikan antikorupsi yang dikembangkan Direktorat Jejaring Pendidikan (Jardik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Dok. KPK)

    Pada akhirnya, cerita-cerita dari ruang kelas itu menunjukkan bahwa pendidikan antikorupsi tidak selalu dimulai dari materi yang kompleks. Namun, dapat hadir melalui kebiasaan sederhana, seperti menghindari plagiarisme, berani mengakui kesalahan, serta menghargai hasil usaha sendiri.

    Hal itulah yang menjadi semangat SATRIA – program yang dirancang guna mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengaktivasi guru sebagai penggerak pendidikan antikorupsi di lingkungan sekolah mereka. Melalui jejaring yang dibangun, para guru diharapkan tidak sekadar menjadi peserta pelatihan, melainkan teladan yang menghidupkan nilai integritas di tiap sekolah dan komunitas.

    Pada kesempatan yang sama, Ketua KPK, Setyo Budiyanto, menyebut para guru sebagai perpanjangan tangan yang akan meneruskan nilai-nilai antikorupsi ke peserta didik, sesama guru, keluarga, hingga masyarakat sekitar. Ia berharap semangat yang tumbuh selama program berlangsung, mampu terus menyebar serta menjangkau lebih banyak orang.

    “Kalau hanya mengandalkan institusi atau lembaga ini, sangat terbatas. KPK tidak punya perwakilan di Makassar, Banda Aceh, Bandar Lampung, dan lainnya. Bapak dan ibu adalah perwakilan kami, sahabat-sahabat antikorupsi,” ucap Setyo.

    Pada akhirnya, terkadang membangun budaya antikorupsi harus dimulai dari sebuah ruang kelas, ketika seorang guru mengajarkan kejujuran tetap lebih berharga daripada jawaban instan tanpa usaha. Di tengah derasnya arus teknologi, para guru tetap memilih menghidupkan pelajaran paling mendasar, yaitu integritas. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More