Masjid Istiqlal Jadi Tuan Rumah 400 Imam Besar Dunia dalam IGIC 2026

- Sekitar 400 imam besar dunia dijadwalkan berkumpul di Masjid Istiqlal, Jakarta, dalam IGIC 2026 pada 25-28 September, termasuk undangan bagi Grand Sheikh Al-Azhar dan Sheikh Imam As-Sudais.
- Forum ini memperkuat peran Istiqlal dalam jejaring serta diplomasi agama internasional, didukung jabatan Imam Besarnya sebagai Ketua Asosiasi Imam-Imam Besar Sedunia dan program pertemuan duta besar.
- IGIC 2026 menyoroti kepemimpinan moral imam, penguatan jaringan global, respons atas perdamaian, iklim, dan toleransi, serta menargetkan deklarasi bersama bernama Pemahaman Istiqlal Para Imam Internasional.
Jakarta, IDN Times - Sekitar 400 imam besar dari berbagai negara akan hadir di Masjid Istiqlal Jakarta dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026. Konferensi internasional ini akan digelar pada 25 hingga 28 September 2026.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar menyatakan forum ini merupakan bagian dari peran Istiqlal dalam membangun jejaring dan diplomasi agama di kancah internasional.
“Pada tanggal 25 sampai 28 September bulan ini, kita akan menyelenggarakan konferensi internasional yang dihadiri kurang lebih 400 imam besar dunia, serta mengundang Grand Sheikh Al-Azhar dan Sheikh Imam As-Sudais,” ucap Nasaruddin saat menerima kunjungan santri dan pembina Pondok Pesantren Shiddiqiyyah di Masjid Istiqlal, Jakarta, dikutip dari kemenag.go.id.
1. Peran masjid Istiqlal sebagai Ketua Asosiasi Imam-Imam Besar Sedunia

Prof. KH. Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal, Menag RI. (Dok. International Grand Imams Conference) Nasaruddin menyampaikan, peran Istiqlal dalam jejaring keagamaan internasional juga didukung posisi Imam Besar Masjid Istiqlal yang menjabat sebagai President of International Grand Imam Association atau Ketua Asosiasi Imam-Imam Besar Sedunia.
Senada dengan hal tersebut, ia juga menyebut Istiqlal telah memiliki program Ambassador Gathering yang mempertemukan puluhan duta besar dari berbagai negara secara reguler. Forum ini merupakan ruang percakapan mengenai berbagai isu terkait diplomasi agama (religious diplomacy).
“Secara reguler kita mengundang sekitar 40 Duta Besar negara sahabat untuk berdiskusi mengenai diplomasi agama (religious diplomacy),” tuturnya.
2. Pentingnya Masjid Istiqlal sebagai ruang diplomasi hubungan Indonesia dengan dunia

Suasana di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. (Dok. International Grand Imams Conference) Posisi Istiqlal sebagai Masjid Negara turut membawanya menjadi salah satu ruang penting dalam membangun hubungan Indonesia dengan negara-negara lain di tingkat internasional. Nasaruddin menyatakan, Istiqlal kerap menjadi salah satu destinasi kepala negara asing ketika berkunjung ke Indonesia.
“Istiqlal adalah kebanggaan Indonesia. Setiap kali ada kunjungan kepala negara asing, tempat yang wajib dikunjungi setelah Istana Kepresidenan adalah Masjid Istiqlal,” ujar Nasaruddin.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga memperkenalkan sejumlah fasilitas dan program yang tersedia di kawasan Istiqlal, termasuk international corner yang bekerja sama dengan beberapa negara sahabat. Dengan adanya fasilitas tersebut, pengunjung dapat mengakses jurnal dari perguruan tinggi di berbagai negara melalui e-library dan komputer yang terintegrasi.
3. Peran imam melampaui fungsi keagamaan di tengah tantangan global

International Grand Imams Conference. (Dok. International Grand Imams Conference) Seiring perkembangan dan tantangan global yang berubah dengan cepat, peran imam semakin luas dan melampaui fungsi ritual keagamaan. Menurut laman resmi International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, imam berperan sebagai pemimpin moral, pendidik masyarakat, penjaga keharmonisan sosial, dan pembawa perdamaian di tengah keberagaman.
Tantangan global seperti perubahan iklim, radikalisme, kemerosotan moral, ketidakadilan sosial, dan disintegrasi komunitas kian menuntut kontribusi aktif dari para imam di seluruh dunia.
Melansir igic2026.com, adapun beberapa hal yang menjadi fokus utama IGIC 2026. Pertama, kepemimpinan moral dengan memperkuat kapasitas imam sebagai pembimbing moral dan pendidik masyarakat di era modernisasi.
Kedua, jaringan internasional yang memperluas jejaring global antara imam dan lembaga keagamaan di berbagai benua.
Ketiga, strategi merumuskan respons bersama akan perkembangan dan tantangan global khususnya di bidang perdamaian, iklim serta toleransi beragama.
Terakhir, IGIC mengupayakan deklarasi Istiqlal yakni menghasilkan "Pemahaman Istiqlal Para Imam Internasional" sebuah deklarasi bersama yang menjadi tonggak sejarah melalui kontribusi aktif para imam.






















