Legislator Nilai Kunjungan Prabowo ke Prancis Bukan Sekadar Diplomasi

- Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis dinilai sebagai langkah strategis Indonesia untuk menempatkan diri dalam perancangan tatanan ekonomi dan keamanan baru di kawasan Indo-Pasifik.
- Kerja sama Indonesia–Prancis ditingkatkan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif yang mencakup pertahanan, energi bersih, riset, teknologi, hingga industri strategis demi membangun kekuatan masa depan kedua negara.
- Nilai utama kunjungan ini terletak pada peluang transfer teknologi dan penguatan SDM nasional, menandai langkah Indonesia menuju peran sebagai perancang tatanan global abad ke-21.
Jakarta, IDN Times – Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti menilai kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis pada Mei 2026 tidak bisa dipandang sebagai lawatan bilateral biasa. Menurut dia, kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya Indonesia menempatkan diri dalam perancangan tatanan ekonomi dan keamanan baru di kawasan Indo-Pasifik.
Azis mengatakan, sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar dunia sering kali bermula dari peristiwa diplomatik yang pada awalnya tampak biasa.
“Dalam konteks itulah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis pada Mei 2026 layak dipahami. Bukan semata sebagai lawatan bilateral antara Jakarta dan Paris, melainkan sebagai bagian dari proses yang lebih besar: upaya Indonesia menempatkan dirinya di dalam ruang perancangan tatanan ekonomi dan keamanan Indo-Pasifik abad ke-21,” ujar Azis dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
1. Indonesia dinilai makin strategis di kawasan Indo-Pasifik

Menurut Azis, dunia saat ini sedang mengalami pergeseran besar, dengan pusat pertumbuhan ekonomi global bergerak ke Asia dan kawasan Indo-Pasifik menjadi jalur perdagangan paling strategis di dunia.
Dalam situasi tersebut, Indonesia tidak lagi berada di pinggiran percaturan global. Dengan jumlah penduduk yang besar, posisi geografis strategis, serta kepemilikan mineral kritis yang dibutuhkan industri masa depan, Indonesia semakin dipandang sebagai negara kunci di kawasan.
“Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, posisi geografis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta cadangan mineral strategis yang menjadi bahan baku industri masa depan, Indonesia semakin dipandang sebagai salah satu negara kunci dalam percaturan Indo-Pasifik,” katanya.
Azis juga menilai pola diplomasi yang dijalankan Prabowo menunjukkan upaya menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan dunia secara seimbang.
“Di tengah dunia yang semakin terbelah, Indonesia justru memperluas lingkaran pergaulannya,” ujarnya.
2. Kemitraan dengan Prancis rancang kekuatan masa depan

Azis menilai posisi Prancis memiliki arti penting karena negara tersebut merupakan salah satu kekuatan utama Eropa yang memiliki kapasitas teknologi tinggi, industri pertahanan maju, dan kehadiran strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Menurut dia, peningkatan hubungan kedua negara menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif menunjukkan bahwa Indonesia dan Prancis sedang membangun fondasi kerja sama jangka panjang.
“Pertahanan, keamanan maritim, energi bersih, pendidikan, inovasi, riset, investasi, teknologi, mineral kritis, industri strategis, hingga koordinasi berbagai isu global menjadi bagian dari agenda bersama,” kata Azis.
Ia menilai kerja sama tersebut tidak hanya berkaitan dengan perdagangan atau investasi semata, tetapi menyentuh berbagai unsur yang akan menentukan kekuatan suatu bangsa pada abad ke-21.
“Yang dibicarakan bukan hanya perdagangan. Bukan hanya investasi. Bukan hanya pertahanan. Yang dibicarakan adalah seluruh unsur yang membentuk kekuatan suatu bangsa pada abad ini,” ujarnya.
3. Indonesia disebut mulai masuk ruang perancang tatanan dunia

Azis mengatakan, nilai utama dari kunjungan tersebut bukan hanya angka investasi yang diumumkan, melainkan peluang transfer teknologi, penguatan industri nasional, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurut dia, keberhasilan diplomasi harus dilihat sebagai instrumen transformasi, bukan sekadar transaksi ekonomi.
“Yang sedang lahir adalah fondasi bagi sebuah peran baru Indonesia dalam kawasan Indo-Pasifik,” kata Azis.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan kunjungan tersebut tetap bergantung pada kemampuan kedua negara menerjemahkan komitmen menjadi langkah konkret. Namun, Azis optimistis lawatan Prabowo ke Paris dapat menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah diplomasi Indonesia.
“Jika kelak Indo-Pasifik benar-benar menjadi pusat gravitasi dunia abad ke-21, dan jika Indonesia berhasil mengambil posisi sebagai salah satu kekuatan penentu di kawasan tersebut, maka lawatan Presiden Prabowo ke Paris mungkin akan dikenang bukan sebagai kunjungan diplomatik biasa,” ujarnya.
“Ia akan dibaca sebagai salah satu momen ketika Indonesia mulai melangkah dari ruang penonton menuju ruang perancang; dari sekadar mengikuti arus perubahan dunia menjadi salah satu bangsa yang ikut menentukan arahnya,” imbuh Azis.


















