Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

KSAU: Alutsista Baru Tak Cukup Tanpa Personel yang Siap Tempur

KSAU: Alutsista Baru Tak Cukup Tanpa Personel yang Siap Tempur
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal Tonny Harjono ketika memimpin hari Bhakti ke-79 TNI AU di Yogyakarta. (Tangkapan layar YouTube TNI AU)
Intinya Sih
Gini Kak
  • KASAU Tonny Harjono menegaskan modernisasi TNI AU harus disertai kesiapan operasi, sistem andal, serta personel mampu mengawaki, mengoperasikan, memelihara, dan mengembangkan alutsista baru.
  • Transformasi TNI AU sejak 2025 mencakup revisi doktrin untuk pesawat seperti Rafale dan T-50i, dengan kesiapan juga meliputi domain siber, informasi, elektromagnetik, dan antariksa.
  • Hari Bhakti TNI AU setiap 29 Juli mengenang gugurnya Adisucipto, Abdulrachman Saleh, dan Adisumarmo setelah pesawat Dakota pembawa bantuan ditembak Belanda pada 1947.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal Tonny Harjono mengingatkan kepada para prajurit TNI AU bahwa modernisasi tidak berhenti pada hadirnya alutsista baru saja. Kehadiran sejumlah alutsista baru juga harus diikuti dengan kesiapan personel atau SDM yang andal, kesiapan operasi dan personel yang mampu mengawaki. Pesan itu disampaikan Tonny di puncak Hari Bhakti ke-79 yang digelar di Yogyakarta.

"Modernisasi tidak berhenti pada hadirnya alutsista baru, tetapi harus diikuti kesiapan operasi, sistem yang andal, dan personel yang mampu mengawaki, mengoperasikan, memelihara dan mengembangkannya sehingga benar-benar menghadirkan daya gentara bagi negara," ungkap Tonny di Lapangan Dirgantara Akademi Angkatan Udara (AAU), Yogyakarta pada Rabu (29/7/2026).

Pesan itu disampaikan seiring transformasi yang dilakukan oleh TNI AU pada 2025. Doktrin di TNI AU direvisi untuk mengakomodasi kemampuan pesawat-pesawat baru yang dimiliki oleh TNI AU. Seperti yang diketahui TNI AU memiliki jet tempur baru seperti Rafale hingga T-50i.

Tonny juga mengingatkan organisasi dan doktrin terus berkembang mengikuti perubahan karakter ancaman. "Kesiapan operasional ini tidak hanya ditentukan kemampuan di udara tetapi juga oleh kesiapan pada domain siber, informasi spektrum elektromagnetik hingga antariksa," kata perwira tinggi di TNI AU itu.

1. Kasau mengajak prajurit TNI AU untuk menjadikan setiap penugasan sebagai kehormatan

KSAU, Tonny Harjono
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal Tonny Harjono ketika memimpin hari Bhakti ke-79 TNI AU di Yogyakarta. (Tangkapan layar YouTube TNI AU)

Lebih lanjut, Tonny mengingatkan tugas prajurit TNI AU kini semakin kompleks. Mereka tidak hanya bertugas menjaga kedaulatan wilayah udara nasional. Tetapi, juga membantu penanggulangan bencana hingga berkontribusi menyiapkan generasi penerus bangsa.

"Sesungguhnya kita sedang meneruskan warisan pengabdian para pendahulu dalam setiap penugasan yang diamanahkan kepada TNI AU. Oleh karena itu saya mengajak seluruh prajurit dan aparatur sipil negara untuk menjadikan setiap penugasan sebagai kehormatan, setiap perubahan sebagai dorongan untuk terus belajar dan setiap tantangan sebagai kesempatan meningkatkan profesionalisme, integritas dan kualitas pengabdian kepada bangsa serta negara," ungkap Tonny.

Dengan semangat itu, TNI AU bisa memberikan bakti terbaik bagi bangsa, wujud bakti TNI AU untuk Indonesia yang lebih maju.

2. Hari Bhakti TNI AU turut dimanfaatkan menjalin silaturahmi dengan mantan KASAU

Chppy Hakim, TNI AU
Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Chappy Hakim diajak berkeliling Museum Dirgantara Yogyakarta. (Dokumentasi TNI AU)

Sementara, sebelum puncak Hari Bhakti ke-79 TNI AU, pimpinan militer mengundang mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Chappy Hakim untuk menghadiri jamuan di Museum Dirgantara, Yogyakarta. Tonny menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan pengabdian di tengah akselerasi pembangunan kekuatan udara.

"Kegiatan Sambung Rasa menegaskan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan organisasi, Jiwa Dirgantara tetap menjadi landasan pengabdian dalam setiap insan TNI AU," ungkap Tonny.

3. Hari Bhakti TNI AU dilatarbelakangi serangan Belanda di tiga daerah

KSAU, Tonny Harjono
Puncak peringatan HUT ke-79 Bhakti TNI AU di Yogyakarta. (Tangkapan layar YouTube TNI AU)

Hari Bhakti TNI AU yang diperingati setiap tahun pada 29 Juli dilatarbelakangi serangan udara Belanda di tiga daerah, dan gugurnya tiga pelopor TNI AU di Pangkalan Udara Maguwo. Pada awalnya, Belanda melanggar Perjanjian Linggarjati, sebuah usaha yang dilakukan untuk menyelesaikan konflik antara Indonesia dan Belanda.

Peristiwa pertama terjadi pada 21 Juli 1947 saat terjadi Agresi Belanda I. Belanda meluncurkan serangan serentak ke sejumlah daerah dan pangkalan udara, termasuk Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta, yang merupakan pusat kekuatan udara RI.

Serangan ini memicu balasan dari serangan TNI AU di daerah pendudukan Belanda di Ambarawa, Salatiga, dan Semarang oleh Kadet Penerbang Sutardjo Sigit, Suharmoko Harbani, dan Mulyono, dibantu penembak udara yaitu Sutardjo, Kaput, dan Dulrachman.

Kedua, peristiwa yang terjadi pada 29 Juli 1947, Belanda meluncurkan serangan balasan. Dua pesawat Belanda P-40 Kitty Hawk menembak pesawat Dakota VT-CLA, yang membawa obat-obatan sumbangan Palang Merah Malaya kepada Palang Merah Indonesia.

Akibat penembakan tersebut, pesawat Dakota VT-CLA jatuh di Desa Ngoto, Yogyakarta. Penembakan ini menggugurkan tiga tokoh perintis TNI AU, yaitu Komodor Muda Adisucipto, Komodor Muda Abdulrachman Saleh dan Opsir Muda Adisumarmo.

Peristiwa ini menyimpan duka yang mendalam bagi TNI AU. Untuk mengenangnya mulai 1955, setiap 29 Juli ditetapkan sebagai Hari Bhakti TNI AU.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More