Libur Lebaran Belum Usai, Ini Strategi Polda Jabar Urai Macet Puncak

- Polda Jabar menerapkan rekayasa lalu lintas terukur di jalur Puncak dengan sistem satu arah berbasis data kendaraan dari Tol Ciawi dan pemanfaatan rest area Gunung Mas sebagai penampung sementara.
- Polres Bogor memberdayakan warga lokal seperti joki dan 'Pak Ogah' menjadi relawan Supertas untuk membantu pengaturan arus tanpa pungutan liar demi kelancaran lalu lintas.
- Pemerintah Jawa Barat memberi kompensasi bagi pengemudi angkot, becak, dan andong agar tidak beroperasi sementara di titik rawan macet serta memetakan dua gelombang arus balik pada 24–25 dan 27–28 Maret.
Bogor, IDN Times – Polda Jawa Barat memastikan kelancaran arus lalu lintas selama masa libur panjang di jalur Wisata Puncak Bogor.
Kapolda Jabar Irjen Pol Rudi Setiawan menekankan pentingnya rekayasa lalu lintas yang terukur dan kenyamanan bagi para wisatawan.
Menurut dia, Polda Jabar memastikan penerapan sistem satu arah (one way) di jalur Puncak tidak dilakukan secara sembarangan. Petugas menggunakan parameter jumlah kendaraan yang keluar dari Pintu Tol Ciawi sebagai indikator utama. Selain itu, optimalisasi rest area Gunung Mas kini difungsikan sebagai shelter penampung kendaraan untuk mencegah penumpukan di badan jalan.
"Kita punya mekanisme-mekanisme yang valid. Di mana kita ada pengukuran jumlah kendaraan yang telah keluar pintu tol Ciawi. Ini menjadi suatu pertimbangan kita," ujar Rudi Setiawan saat melakukan peninjauan langsung ke Pos Terpadu Simpang Gadog, Bogor pada Senin (23/03/2026).
Table of Content
1. "Pak Ogah" dan joki jadi relawan lalu lintas (Supertas)

Rudi mengatakan, langkah unik diambil Polres Bogor dengan merangkul warga lokal yang biasa menjadi joki atau "Pak Ogah." Alih-alih ditertibkan secara kaku, mereka kini diberdayakan menjadi mitra polisi (Supertas) untuk membantu mengarahkan pengendara ke jalur yang benar tanpa memungut bayaran liar yang memicu kemacetan.
"Kita sudah memberdayakan mereka, menjadikan mereka menjadi Supertas. Mereka jadi membantu polisi untuk mengarahkan jalur yang benar, jadi tidak berpihak lagi kepada orang-orang yang memberikan uang," beber Kapolda.
2. Kompensasi angkot dan andong di titik trouble spot

Dalam mengatasi kemacetan di jalur arteri seperti Sukabumi dan Cibadak, lanjut Rudi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan kompensasi kepada pengemudi angkutan umum agar tidak beroperasi sementara. Hal ini dilakukan untuk sterilisasi jalur dari hambatan samping di titik-titik rawan macet.
"Di beberapa trouble spot, itu yang ada angkot, becak, dan andong dapat kompensasi dari Bapak Gubernur Jawa Barat. Untuk sementara waktu tidak beroperasi supaya arus lalu lintas tidak macet," kata Rudi.
3. Prediksi dua gelombang arus balik

Rudi menyebut berdasarkan data volume kendaraan yang mencapai angka 83 ribu unit di wilayah hukum Polda Jabar, pihak kepolisian telah memetakan potensi puncak arus balik. Masyarakat diimbau waspada terhadap peningkatan volume kendaraan yang diprediksi terjadi dalam dua gelombang.
"Diperkirakan arus balik pertama tanggal 24-25 Maret, arus kedua nanti mungkin tanggal 27-28," tutupnya.

















