Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Terbukti Bantu ISIS, Pria AS Dihukum 20 Tahun Penjara

Terbukti Bantu ISIS, Pria AS Dihukum 20 Tahun Penjara
ilustrasi hukuman penjara (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Aws Mohammed Naser, pria asal Michigan berusia 38 tahun, dijatuhi hukuman 20 tahun penjara karena terbukti memberikan bantuan materil berupa senjata dan pasukan kepada ISIS.
  • Penyelidikan menemukan laboratorium rahasia di rumah Naser berisi bahan kimia, senjata, dan drone yang digunakan untuk membuat bom rakitan guna mendukung aktivitas ISIS.
  • Naser telah menjadi pendukung ISIS sejak awal 2012 setelah terpapar konten ideologi ekstrem di YouTube dan aktif mengonsumsi propaganda serta menjalin komunikasi dengan anggota ISIS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Seorang pria asal Michigan, Amerika Serikat, divonis hukuman 20 tahun penjara karena terbukti membantu organisasi teroris Islamic State (ISIS). Vonis tersebut dijatuhkan pada Kamis (7/5/2026).

Menurut Kementerian Kehakiman AS, pria tersebut bernama Aws Mohammed Naser. Pria yang kini berusia 38 tahun itu sudah dinyatakan bersalah setelah menjalani proses persidangan pada 2025 lalu.  

Naser dinyatakan bersalah karena terbukti memberikan bantuan materil ke ISIS. Bantuan materil tersebut berupa senjata dan pasukan. Ia juga pernah menyodorkan diri untuk menjadi salah satu pasukan ISIS secara cuma-cuma. 

1. Naser pernah membantu ISIS membuat bom

Sebuah bom sedang diletakkan di atas meja.
ilustrasi bom bunuh diri di Suriah (unsplash.com/Sven Verweij)

Pada 2017, penyelidik juga menemukan bahwa Naser pernah membantu ISIS memproduksi bom rakitan. Temuan itu terbukti saat polisi AS menemukan sebuah laboratorium rahasia di basement rumahnya. 

Laboratorium itu berisi bahan-bahan kimia dan beberapa komponen yang digunakan Naser untuk membuat bom rakitan. Selain itu, polisi juga menemukan senjata dan drone yang tersimpan di laboratorium tersebut. 

“Kami menyambut pengkhianat ini ke negara kami dengan tangan terbuka. Dia membalasnya dengan membuat bom dan membantu musuh besar kami,” kata seorang jaksa AS bernama Gorgon dilansir Jerusalem Post

2. Naser sudah menjadi pendukung ISIS sejak awal 2012-an

Sebuah stiker bertulisan ISIS tertempel di dinding.
potret tulisan ISIS (pexels.com/Patrick)

Naser sendiri sudah menjadi pendukung ISIS sejak awal 2012. Hal tersebut terjadi karena Naser kerap menonton konten-konten ideologi Salafi di YouTube. Inilah yang mencuci otak Naser sehingga dirinya menjadi pendukung ISIS. 

Masih pada tahun yang sama, Naser menemukan seorang teman yang juga mengagumi ISIS bernama Russel Dennison. Sejak saat itu, Naser dan Dennison makin akrab. Bahkan, mereka pernah pergi ke Irak untuk bertemu langsung dengan ISIS. Keduanya dikabarkan berada di ISIS selama berbulan-bulan.

Pada akhir 2012, Naser akhirnya kembali ke Michigan. Namun, ia saat itu tidak berencana untuk menetap. Sebab, Naser ingin terbang ke Suriah untuk bergabung menjadi salah satu pasukan ISIS. Ia ingin mengikuti jejak sahabatnya, Dennison, yang sudah lebih dulu bergabung dengan organisasi teroris tersebut.

3. Naser mengonsumsi banyak konten propaganda ISIS sebagai persiapan

Warga Amerika Serikat sedang melakukan demo anti-ISIS.
Warga Amerika Serikat sedang melakukan demo anti-ISIS. (flickr.com/Tim Pierce via commons.wikimedia.org/Tim Pierce)

Sebagai persiapan terbang ke Suriah, Naser lantas menonton banyak konten propaganda milik ISIS. Selain itu, Naser juga mempelajari ideologi, nilai-nilai, budaya, dan senjata yang digunakan oleh ISIS dalam peperangan. Tindakan ini bertujuan untuk memperkaya pengetahuan Naser soal kelompok tersebut. 

Setelah itu, Naser pun melakukan komunikasi intens dengan salah satu anggota ISIS untuk pergi ke Suriah secara ilegal. Saat itu, ISIS juga meminta bantuan ke Naser untuk dicarikan dana dan pasokan senjata. Naser pun menyanggupi hal tersebut karena dirinya memang sangat mengagumi ISIS. 

Semua tindakan itulah yang akhirnya memperberat hukuman Naser menjadi 20 tahun penjara. Sebab, bagi AS, seorang yang mendukung organisasi teroris, baik secara materil maupun non-materil wajib dihukum seberat-beratnya. Terlebih, Negeri Paman Sam juga sudah melabeli ISIS sebagai teroris sejak lama. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More