Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ini Lho 5 Slogan Jokowi yang Dinilai Amien Rais Tidak Jelas

Ini Lho 5 Slogan Jokowi yang Dinilai Amien Rais Tidak Jelas
(Ketua Dewan Pertimbangan Partai Amanat Nasional, Amien Rais) www.instagram.com/@amienraisofficial

*Laporan Axel Jo Harianja

Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais meluncurkan buku berjudul 'Hijrah: Selamat Tinggal Revolusi Mental, Selamat Datang Revolusi Moral'. Buku dengan tebal 76 halaman itu berisi pandangan pribadinya terhadap nasib Bangsa Indonesia ke depan. 

Dalam buku itu, ia mempertanyakan maksud lima slogan Revolusi Mental yang dulu sempat digaungkan oleh Joko "Jokowi" Widodo saat hendak maju sebagai Presiden. Bahkan, ia menyebut slogan itu tidak jelas.

"Menurut saya, revolusi mental Pak Jokowi itu memang tidak jelas. Tidak ada dokumen autentik yang (membahas) mengenai apa sih maksudnya (revolusi mental)? Pak Jokowi gak punya autentik, kemudian tidak ada dokumen otoritatif dari pemerintah," ujar Amien di peluncuran buku tersebut di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Jumat (11/1) kemarin. 

Wah apa saja sih kelima slogan itu? Berikut penelusuran IDN Times dalam buku tersebut.

1. Gerakan Indonesia Melayani

(Buku yang ditulis oleh Amien Rais) IDN Times/Axel Jo Harianja
(Buku yang ditulis oleh Amien Rais) IDN Times/Axel Jo Harianja

Slogan revolusi ini dinilai tidak jelas maksudnya oleh Amien. Hal ini jelas menimbulkan pertanyaan baginya mengenai siapa yang dilayani oleh Indonesia selama ini. Amien menduga kuat selama ini justru pemerintahan Jokowi lebih melayani kepentingan luar daripada melayani kepentingan rakyat sendiri.

"Jangan-jangan Indonesia melayani kelompok asing dan aseng lebih daripada melayani kepentingan rakyat sendiri," ujar Amien kemarin. 

Ia mencontohkan beberapa kasus yang mencuat di era Pemerintahan Jokowi seperti, skandal reklamasi Teluk Jakarta, tol laut yang "dikawinkan" dengan Jalur Laut Sutera China, dan masuknya tenaga kerja China yang jumlahnya massif. 

"Siapa saja? Kelompok bangsa yang mana dan negara mana yang sesungguhnya sedang dilayani oleh Indonesia di masa empat tahun pemerintahan Jokowi?," tanya Amien. 

2. Gerakan Indonesia Bersih

Dok. IDN Times/Istimewa
Dok. IDN Times/Istimewa

Bagian kedua dari revolusi mental yang dikritik oleh Amien yakni Gerakan Indonesia Bersih. Kata bersih di sini tentu dikaitkan dengan massifnya perilaku korup.

Tapi, menurut Amien, hingga saat ini, Indonesia masih belum terbebas dari korupsi. Malah yang ia lihat, korupsi justru semakin massif terjadi di era Pemerintahan Jokowi.  

"Kita menyaksikan korupsi di zaman Jokowi masih tetap marak. Yang cukup menyedihkan korupsi kolosal justru dilakukan oleh kekuasaan sendiri," katanya.

Amien menilai, rasuah yang terjadi selama pemerintahan Jokowi tergolong korupsi white collar crime atau kejahatan kerah putih. Artinya, tindak kejahatan itu melibatkan pejabat tinggi di sebuah negara. Mereka sudah berkolaborasi dengan korporasi berskala regional dan global.

"Volume uang yang dipertaruhkan bukan lagi mencapai ratusan miliar, tetapi meliputi puluhan dan ratusan triliun rupiah," kata Amien.

Ia juga tak lupa mengkritik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjadi salah satu garda terdepan dalam upaya untuk menghapus rasuah. Menurut dia, KPK justru berpotensi menjadi pihak yang melakukan upaya menghalangi keadilan. 

KPK, kata Amien, kini duduk sebagai lembaga super dan tidak mau diawasi. Saat lembaga antirasuah berhadapan dengan kasus tertentu, mereka cenderung diam. 

"Karena bila kasus-kasus itu dibongkar dan dikejar akan menghancurkan legitimasi (keabsahan) rezim (Jokowi)," tutur mantan Ketua Umum PAN tersebut.

3. Gerakan Indonesia Tertib

IDN Times/Teatrika Handiko Putri
IDN Times/Teatrika Handiko Putri

Konsep Gerakan Indonesia Tertib juga sempat dipertanyakan oleh Amien. Menurut Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1999-2004 itu para pejabat dan tokoh-tokoh elit kini merasa berada di luar jangakauan hukum. Padahal, dari berbagai jenis aturan, tata tertib mengenai hukum adalah poin yang paling penting.

"Sebagai contoh, kalau ada seseorang dapat memegang dua jabatan di Lembaga Tinggi Negara, sebagai Ketua DPD dan juga Wakil Ketua MPR, masyarakat bertanya di mana tertib hukum itu?," tanya Amien. 

4. Gerakan Indonesia Mandiri

Antara Foto/Wahyu Putro
Antara Foto/Wahyu Putro

Slogan kempat ini dinilai Amien sebagai slogan yang abal-abal. Ia justru menilai saat ini Indonesia sudah tidak lagi mandiri lantaran menerima pinjaman dalam jumlah besar dari Tiongkok. Negeri Tirai Bambu sudah meminta konsesi wilayah, menguasai pelabuhan, serta secara leluasa mendikte Indonesia.

"Apanya yang mandiri? Besar kemungkinan bila rezim yang sekarang sampai berkuasa lagi - Insya Allah tidak - Indonesia dapat jatuh ke perangkap hutang (debt trap) China," tutur Amien.

5. Gerakan Indonesia Bersatu

IDN Times/Nofika Dian Nugroho
IDN Times/Nofika Dian Nugroho

Slogan terkahir yang dikritik Amien adalah Gerakan Indonesia Bersatu. Nyatanya hal itu jauh dari alam nyata dan membuat rakyat semakin disakiti. 

Hal itu dilihat dari tindakan rezim yang berkuasa secara sistematis justru melakukan politik pecah belah terhadap kekuatan sosial politik keagamaan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Santi Dewi
Sunariyah Sunariyah
Santi Dewi
EditorSanti Dewi
Follow Us

Latest in News

See More

Prancis Larang Pertemuan Akbar Muslim, Cegah Ancaman Teror

04 Apr 2026, 04:09 WIBNews