LPI: Jokowi Dongkrak Citra Positif PSI, Jadi 1 Paket Identitas Publik

- Survei LPI menunjukkan 70,2 persen publik menilai kedekatan PSI dengan Jokowi meningkatkan citra positif partai, meski elektabilitasnya masih rendah di angka 1,9 persen.
- Sebanyak 64,9 persen responden melihat PSI identik dengan gaya kepemimpinan dan karakter merakyat Jokowi, mencerminkan strategi komunikasi politik yang konsisten.
- Figur Kaesang Pangarep turut memperkuat citra PSI di mata publik, dengan hampir 70 persen responden menilai kepemimpinannya berperan besar dalam menarik perhatian generasi muda.
Jakarta, IDN Times - Presiden RI ke-7 Joko "Jokowi" Widodo yang berulang tahun ke-65 hari ini, Minggu (21/6/2026), masih menjadi faktor kuat yang mendongkrak citra positif Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hal itu terungkap berdasarkan hasil survei yang dirilis Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) baru-baru ini. Kendati demikian, pengaruh itu belum berbanding lurus dengan elektabilitas partai.
Berdasarkan hasil survei nasional bertajuk “Pengaruh Sosok Jokowi terhadap Citra Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam Pandangan Masyarakat”, 70,2 persen masyarakat menilai kedekatan PSI dengan Jokowi mampu meningkatkan citra positif partai.
Meski demikian, elektabilitas PSI masih berada di angka 1,9 persen atau di bawah ambang batas parlemen sebesar 4 persen.
Direktur Riset dan Kebijakan Politik LPI, Fernando Emas, mengatakan temuan tersebut menunjukkan adanya paradoks antara citra positif PSI di mata publik dan perolehan suara elektoral.
Table of Content
1. Mayoritas responden menilai Jokowi dongkrak citra positif PSI

Fernando menyebut, ada perpindahan persepsi dari figur kepada partai dalam relasi Jokowi dan PSI.
“Dari temuan survei LPI, ‘image transfer’ terjadi antara figur Jokowi dengan PSI yang dikabarkan bakal menjadi Ketua Dewan Pembina partai ini. Hasil survei terlihat, bahwa rerata 70,2 persen masyarakat menilai kedekatan PSI dengan Jokowi dapat meningkatkan kesan (citra) positif terhadap partai,” ujar Fernando saat merilis survei nasional LPI di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
RInciannya, 37,7 persen responden menilai dapat meningkatkan, 26,4 persen menjawab cukup dapat meningkatkan, dan 6,1 persen menilai sangat dapat meningkatkan.
2. Tercatat 64,9 persen publik menilai PSI identik dengan Jokowi

Hasil survei LPI juga menunjukkan, 64,9 persen responden menilai partai PSI sebagai partai yang merakyat seperti Jokowi. Dalam aspek kepemimpinan, 62,8 persen responden menilai PSI mencerminkan gaya kepemimpinan Jokowi.
Fernando menilai, hasil tersebut menunjukkan PSI dan Jokowi kini sebagai satu paket identitas politik di mata publik.
"Angka-angka ini menegaskan bahwa di mata publik, PSI dan Jokowi praktis sudah menjadi satu paket identitas publik. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi komunikasi politik partai yang konsisten sejak bergabungnya pendukung Jokowi ke PSI, hingga terpilihnya Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum,” jelas Fernando.
3. Kaesang ikut perkuat citra positif PSI

Selain Jokowi, figur Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, juga dinilai berperan membentuk persepsi positif terhadap PSI.
Sebanyak 69,7 persen responden menilai kepemimpinan Kaesang dapat memperkuat citra PSI sebagai partai yang dekat dengan Jokowi. Sementara 68,2 persen responden mengaku ketertarikan mereka terhadap PSI turut dipengaruhi oleh figur Kaesang.
Menurut Fernando, daya tarik Kaesang terutama berasal dari citranya sebagai representasi generasi muda.
“Temuan ini menarik karena memperlihatkan bahwa daya tarik Kaesang punya nilai jualnya sendiri, terlepas dari bayang-bayang ayahnya. Tetapi, dua hal ini baik faktor Jokowi dan faktor Kaesang, pada akhirnya anak muda yang diasosiasikan sebagai representasi politik Jokowi,” ujar Fernando.
4. Dukungan Jokowi masih jadi pertimbangan publik dalam memilih partai

Hasil survei tersebut turut menunjukkan pengaruh dukungan Jokowi yang masih cukup kuat, dalam memengaruhi pertimbangan masyarakat terhadap pilihan partai politik.
Sebanyak 64,2 persen responden mengaku masih mempertimbangkan partai politik yang mendapat dukungan dari Jokowi. Dengan rincian, 26,7 persen responden menyatakan pasti akan mempertimbangkan, 26,3 persen cukup pasti akan mempertimbangkan, dan 11,2 persen sangat pasti akan mempertimbangkan partai yang didukung Jokowi.
Sementara itu, 19,1 persen responden mengaku kurang pasti akan mempertimbangkan, sedangkan 13,2 persen menyatakan tidak pasti akan mempertimbangkan partai yang didukung Jokowi.
5. Di balik citra positif PSI, hanya 1,9 persen responden yang akan memilih PSI saat pemilu

Meski pengaruh Jokowi terhadap preferensi politik publik masih cukup kuat, survei LPI juga menunjukkan fakta kontras pada sisi elektabilitas. Saat responden ditanya partai pilihan jika pemilu digelar hari ini, PSI hanya memperoleh 1,9 persen suara nasional. Angka itu berada di bawah PPP yang meraih 2,8 persen dan hanya sedikit di atas Partai Perindo, yang memperoleh 1 persen.
Artinya, PSI masih berada di bawah ambang batas parlemen (threshold) sebesar 4 persen suara nasional.
“Temuan ini menarik, sekaligus paradoks (tantangan) yang harus dicermati lebih lanjut oleh PSI, bahwa loyalitas terhadap Jokowi masih kuat, namun belum cukup untuk mendorong publik benar-benar berpindah pilihan ke PSI dalam jumlah signifikan,” kata Fernando.
Menurut dia, modal citra dari sosok Jokowi perlu segera dikonversi menjadi program kerja yang konkret dan substansi politik yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Jika tidak, popularitas yang menyertai nama Jokowi berisiko hanya menjadi citra di permukaan tanpa pernah benar-benar berubah menjadi suara di kotak pemilu,” tutur Fernando.













![[QUIZ] Tebak Nama Presiden Negara Peserta Piala Dunia 2026 Saat Ini, Bisa Jawab?](https://image.idntimes.com/post/20260626/upload_eb303502a2c25570fd881db56061c870_42c4a4ab-ef89-471a-80da-777dc3f4c599.jpg)




