Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mahfud Setuju RI Cabut dari BoP, Pertanyakan Prabowo Mau ke Iran Harusnya ke Trump

Mahfud Setuju RI Cabut dari BoP, Pertanyakan Prabowo Mau ke Iran Harusnya ke Trump
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD. (Tangkapan layar YouTube Mahfud MD Official)
Intinya Sih
  • Mahfud MD mempertanyakan rencana Presiden Prabowo ke Teheran untuk mediasi konflik Iran-Israel-AS, menilai seharusnya AS dan Israel yang lebih dulu diajak menghentikan serangan.
  • Mahfud menegaskan Iran tetap bagian dari Islam meski berbeda mazhab, serta mengecam agresi militer AS dan Israel terhadap negara berdaulat sebagai ancaman serius bagi kemanusiaan.
  • Ia mengusulkan Indonesia keluar dari Board of Peace karena anggotanya justru menyerang negara lain, dan menyarankan fokus diplomasi dikembalikan ke PBB seperti era Sukarno.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, mempertanyakan wacana Presiden Prabowo Subianto yang ingin ke Teheran untuk jadi penengah konflik Iran VS Israel-Amerika Serikat (AS). Rencananya, Prabowo akan ke Teheran bersama pemimpin Pakistan.

Dalam pandangannya, seharusnya yang didatangi lebih dulu untuk diajak bicara adalah Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

"Apakah itu proporsional dilakukan pada saat ini? Karena dalam situasi seperti ini, kenapa harus Iran yang didatangi lebih dulu? Kan Iran yang diserang. Kenapa tidak datang ke Trump dan Israel?" tanya Mahfud seperti dikutip dari akun YouTube Mahfud MD Official, Jumat (13/3/2026).

Ia menambahkan, seharusnya Negeri Paman Sam dan Israel yang diminta lebih dulu untuk menghentikan serangan. Iran pun juga berhenti untuk menyerang.

"Jadi, saling berhenti saling berbalas (serangan) agar tercipta perdamaian. Itu memang tugas konstitusi kita," tutur mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Ia pun memahami wacana Prabowo untuk menjadi mediator banyak diremehkan oleh publik. Sebab, Prabowo dinilai tak punya nyali untuk berbicara dengan Trump dan meminta serangan ke Iran dihentikan.

"Kan kata orang-orang, bicara ke Trump saja tidak berani. Iran sendiri merasa tidak ada relevansinya. Mereka bilang 'kami yang diserang, kenapa kami yang diminta untuk berdamai?' Kan begitu kata Iran," papar Mahfud.

1. Iran Islam, soal fiqih bisa berbeda-beda

Mahfud MD Sindir Kejaksaan Agung: Sebut Bisa Tangani Koruptor Triliunan tapi Gagal Tangkap Silfester Matutina
Mahfud MD Sindir Kejaksaan Agung: Sebut Bisa Tangani Koruptor Triliunan tapi Gagal Tangkap Silfester Matutina https://youtu.be/lxpf4wDt-Fc?si=wIKnqhH9vKiOuSOH

Lebih lanjut, Mahfud memahami ada pandangan miring di Tanah Air terhadap Iran. Meskipun Iran menjadi korban dari serangan militer Israel dan AS. Pandangan yang mencibir Iran rata-rata mengatakan warga Iran merupakan penganut Islam aliran Syiah dan bukan Sunni.

"Ini kan soal kemanusiaan, bukan soal mazhab atau agama. Kalau dikatakan 'Iran gak usah dibela karena dia Syiah'. Lho, Trump sendiri apakah (Islam) Sunni? Netanyahu sendiri memang Islam?" kata Mahfud.

Mengutip keterangan dari Grand Syekh Al Azhar, Kairo, Mesir, Iran merupakan Islam, hanya saja mazhab dan fiqihnya berbeda. Namun, Mahfud tak mau ambil pusing soal perbedaan mazhab tersebut karena menyangkut fiqih.

"Setiap negara fiqihnya bisa berbeda-beda. Iran punya fiqih yang berbeda, tapi Al-Qur'annya sama. Lalu, Grand Syekh Al Azhar mengatakan Iran itu Islam. Fitnah besar kalau mengatakan Iran anti Sunni," ujarnya.

2. Berbahaya negara berdaulat diserang negara lain

ilustrasi bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)
ilustrasi bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)

Mahfud pun menilai, aksi AS dan Israel menyerang Iran yang merupakan negara berdaulat sangat berbahaya. Agresi militer serupa sudah dilakukan selama bertahun-tahun terhadap Palestina. Itu merupakan masalah kemanusiaan.

Oleh sebab itu, Mahfud bersyukur hal serupa tidak menimpa Indonesia. Meskipun ada perbedaan pendapat tetapi tidak sampai terjadi perpecahan yang berujung konflik.

"Karena negara kita berjalan dalam hal melindungi bangsa dan negara masih cukup aman. Masih nyaman lah. Kita bayangkan Indonesia seperti di Gaza. Ibu-ibu mau makan tidak ada, sedangkan suaminya sudah meninggal atau dikuburkan di mana. Kaki anaknya ada yang hilang dan ditinggalkan di rumah sakit, lalu rumah sakitnya pun dibom," tutur dia.

Dalam pandangan Mahfud, Iran tidak pernah ikut melakukan serangan militer ke Gaza. Ia mengaku bingung kenapa serangan AS dan Israel dialamatkan ke Iran.

3. Mahfud usul RI hengkang dari Board of Peace

Presiden Prabowo Subianto menandatangani piagam Board of Peace
Presiden Prabowo Subianto menandatangani piagam Board of Peace (BPMI Setpres/Muchlis Jr)

Dalam pandangan Mahfud, sebaiknya Indonesia menangguhkan keanggotaannya di Board of Peace pasca-serangan AS dan Israel ke Iran. Karena dua negara anggota itu malah menyerang negara berdaulat lain yakni Iran. Mahfud pun turut menyoroti meskipun dewan itu dibentuk untuk perdamaian di Palestina, tetapi Palestina tidak ikut dimasukan ke dalam BoP.

"Seharusnya kalau sudah membentuk dewan perdamaian, gak boleh ada serangan. Sekarang Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Pak JK, hingga masyarakat meminta pemerintah menarik diri dari BoP," ujar Mahfud.

Ia kemudian membandingkan di era kepemimpinan Sukarno di mana sikapnya tegas dalam isu-isu internasional. Ia tegas memilih keluar dari PBB sebagai bentuk protes terhadap Malaysia yang diterima menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

"Ketika itu Beliau punya kedaulatan untuk mengambil sikap sendiri," tutur dia.

Mahfud pun mengaku setuju agar Indonesia hengkang dari BoP. "Mari kembalikan penyelesaian masalah-masalah internasional ke PBB saja. Kan kita anggota PBB juga. Indonesia itu cukup disegani di PBB, buktinya sekarang dipercaya menjadi Presiden Dewan HAM PBB di Jenewa," imbuhnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More