Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

AS Tunda Penjualan Senjata Taiwan, Fokus ke Operasi Iran

AS Tunda Penjualan Senjata Taiwan, Fokus ke Operasi Iran
ilustrasi kerja sama militer Amerika Serikat dan Taiwan (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Pemerintah AS menghentikan sementara penjualan senjata ke Taiwan senilai 14 miliar dolar untuk memastikan ketersediaan amunisi bagi operasi militernya di Iran.
  • Taiwan membantah adanya perubahan kebijakan resmi dari Washington, meski pernyataan pejabat AS memicu kekhawatiran soal arah kebijakan Presiden Trump terhadap pulau tersebut.
  • Trump mengonfirmasi telah membahas isu Taiwan dengan Xi Jinping, sementara keputusan akhir soal penjualan senjata belum ditetapkan di tengah meningkatnya ketegangan Taiwan-China.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi penjualan senjata ke Taiwan saat ini sedang dihentikan sementara atau dipause untuk memastikan kebutuhan amunisi militer AS tetap tercukupi bagi operasi di Iran. Pernyataan itu disampaikan Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS, Hung Cao, dalam sidang dengar pendapat di Kongres pada Kamis (21/5/2026).

Pernyataan tersebut memunculkan perhatian baru terhadap komitmen Washington kepada Taiwan di tengah meningkatnya ketegangan dengan China. Terlebih, nilai pembelian senjata Taiwan dari AS yang tertunda mencapai sekitar 14 miliar dolar AS.

“Untuk saat ini kami melakukan jeda agar dapat memastikan kami memiliki amunisi yang dibutuhkan untuk Epic Fury dan kami punya cukup,” kata Hung Cao dalam sidang tersebut, dilansir dari Channel News Asia, Jumat (22/5/2026).

Ia menambahkan, penjualan militer luar negeri akan kembali dilanjutkan ketika pemerintah AS menganggap waktunya tepat. “Kami hanya memastikan semuanya tersedia, lalu penjualan militer luar negeri akan berlanjut ketika pemerintah menilai itu diperlukan,” ujarnya.

Di sisi lain, Taiwan membantah adanya informasi resmi mengenai perubahan kebijakan penjualan senjata dari Washington. Kantor Presiden Taiwan menyatakan hingga kini belum menerima pemberitahuan terkait penundaan permanen ataupun pembatalan transaksi.

1. Taiwan bantah ada perubahan kebijakan AS

Bendera Taiwan. (unsplash.com/winstonchen)
Bendera Taiwan. (unsplash.com/winstonchen)

Juru bicara Kantor Presiden Taiwan, Karen Kuo, mengatakan pemerintahnya belum mendapatkan informasi terkait perubahan sikap AS terhadap penjualan senjata tersebut. “Tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa Amerika Serikat bermaksud melakukan penyesuaian terhadap penjualan senjata ini,” kata Kuo.

Meski demikian, pernyataan Hung Cao tetap memicu kekhawatiran di Taiwan mengenai arah kebijakan Presiden AS Donald Trump terhadap pulau tersebut. Sejauh ini, Trump belum memberikan kepastian apakah akan melanjutkan seluruh penjualan senjata yang sebelumnya telah disetujui.

Kekhawatiran itu menguat setelah Trump menyatakan dirinya membahas isu Taiwan langsung dengan Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraannya ke Beijing baru-baru ini.

Sebelum lawatan tersebut, Trump bahkan mengatakan akan berbicara dengan Xi mengenai penjualan senjata AS ke Taiwan. Pernyataan itu berbeda dari sikap tradisional Washington yang selama ini menegaskan tidak akan berkonsultasi dengan Beijing terkait dukungan militernya kepada Taipei.

2. Trump mengaku bahas Taiwan dengan Xi Jinping

AFP__20260514__B2TF3XY__v1__HighRes__ChinaUsDiplomacy.jpg
Jabat tangan erat Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di depan bendera AS-China. (AFP/KENNY HOLSTON)

Sepulang dari Beijing, Trump mengonfirmasi bahwa dirinya dan Xi Jinping memang membicarakan isu Taiwan secara panjang lebar dalam pertemuan bilateral mereka. “Presiden Xi dan saya banyak berbicara tentang Taiwan,” kata Trump kepada wartawan di dalam Air Force One saat perjalanan kembali ke Washington.

Trump mengatakan, Xi Jinping tidak ingin melihat adanya gerakan kemerdekaan Taiwan. “Dia tidak ingin melihat adanya perjuangan untuk kemerdekaan,” ujar Trump.

Namun, Trump menegaskan dirinya tidak memberikan komitmen apa pun kepada China terkait Taiwan. “Saya tidak memberikan komentar soal itu, saya mendengarkan apa yang dia sampaikan,” katanya.

Trump juga kembali menegaskan bahwa dirinya belum mengambil keputusan final mengenai penjualan senjata kepada Taiwan. “Saya akan membuat keputusan dalam waktu yang cukup dekat,” ujarnya.

3. Ketegangan Taiwan-China kembali jadi sorotan

ilustrasi peta China, Taiwan, Hongkong, Macau dan negara di sekitarnya (pexels.com/Anthonybeck)
ilustrasi peta China, Taiwan, Hongkong, Macau dan negara di sekitarnya (pexels.com/Anthonybeck)

Amerika Serikat memang hanya mengakui Beijing secara diplomatik sebagai pemerintah China. Namun, berdasarkan undang-undang AS, Washington tetap berkewajiban membantu pertahanan Taiwan melalui penjualan senjata. China selama ini mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan, termasuk melalui latihan militer besar-besaran dan pengerahan pesawat tempur di sekitar wilayah udara Taiwan.

Di tengah situasi itu, keputusan AS untuk menunda penjualan senjata sementara waktu dinilai menjadi perhatian penting bagi Taipei, terutama karena Taiwan sangat bergantung pada dukungan militer Washington untuk memperkuat sistem pertahanannya.

Hingga kini, Departemen Luar Negeri AS maupun Pentagon belum memberikan komentar resmi lebih lanjut terkait pernyataan Hung Cao mengenai penghentian sementara penjualan senjata tersebut.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More